Bergelut dengan topik Antara Hati dan Pikiran yang tak kunjung usai menjadi perdebatan batin, membuat apa yang aku pikirkan dan apa yang aku rasakan menjadi abstrak. Potongan-potongan pikiran dan rasa yang terus berbolak-balik seperti tidak pada tempat yang semestinya. Dan kalau boleh jujur, aku tidak suka pada ketidakserasian.
Mungkin ada baiknya sebelum kau membaca tulisan ini sampai selesai, aku perlu memberi sedikit peringatan. Tidak, aku tidak menulis dengan pemilihan diksi yang cantik, susunan kata yang serasi, atau bahkan alur yang terstruktur. Aku hanya ingin menuangkan isi kepala dan isi hati. Aku hanya butuh menulis.
Padatnya kegiatan dan sosialisasi yang terlalu sering membuatku rindu pada ruang sendiri. Sebenarnya, bisa dibilang aku bukan orang yang lebih suka menyendiri, bahkan aku lebih senang menghabiskan waktu bersama orang lain, tetapi terkadang aku butuh sendiri untuk membuat pikiran lebih jernih. Terkadang terlalu banyak bersosialisasi membuat hati dan pikiranku sulit menempatkan dirinya pada rak yang tepat.
Bicara tentang menempatkan diri, aku masih saja sulit memutuskan dengan pikiran atau hati. Belakangan ini, aku berpikiran bahwa kebahagiaan sebetulnya mudah dicapai. Kebahagiaan datang ketika kita membagi pikiran dan hati dalam porsi yang tepat. Sesuatu yang harus diputuskan oleh hati, pikiran seharusnya tidak perlu ikut campur, dan begitu sebaliknya. Dan jika salah satu mendominasi keputusan yang lainnya, aku merasa kebahagiaanku seperti dikurung dalam jeruji baja.
Masalahnya adalah, aplikasi dari teori yang kupikirkan ternyata tidak sesederhana itu. Kalau memang sesederhana itu, selama ini seharusnya aku mudah saja memutuskan sesuatu, asalkan aku senang. Seharusnya jika memang begitu, keputusanku tidak pernah abu-abu. Ternyata memang perlu banyak pertimbangan, dan kalau memang sederhana, jangan-jangan aku akan menghalalkan segala cara demi mencapai kebahagiaan.
Tetapi mungkin, hanya mungkin, beberapa hal perlu disederhanakan seperti itu. Dan sesungguhnya, aku sedang menjalaninya. Kebahagiaanku seperti dikurung oleh kayu-kayu tipis rapuh yang sebenarnya mudah saja aku hancurkan, tetapi aku takut di luar itu jurang, dan aku malah menghancurkan apa yang sebenarnya menjadi pelindungku. Jadi yang akan kulakukan hanya berdiam diri dan menunggu seseorang menyelamatkanku. Entah butuh waktu berapa lama.
Masalahku kali ini berkaitan dengan prinsip. Prinsipku, prinsip oranglain, dan kebahagiaan di dalamnya. Itu yang sebenarnya kusinggung, bahwa seharusnya prinsip itu sejalan dengan rasa apabila ingin mencapai kebahagiaan. Untuk hal itu, aku menyerah. Hati dan pikiranku abu-abu.
Hati itu dinamis seperti air yang mengikuti wadahnya. Hal itu berkaitan dengan rasa yang terus berubah-ubah. Rasa begitu mendominasi sampai akhirnya prinsip dikorbankan. Yah, mungkin aku memang kurang prinsipil, atau terlalu menggunakan hati. Tetapi diam-diam aku percaya bahwa takdir sebenarnya ikut mengatur hati.
Yang mengusikku saat ini adalah, mungkin sebenarnya perdebatan prinsip dan kebahagiaanku kini adalah bagian dari ujian-Nya yang diberikan kepadaku. Pernah aku mendapat ujian serupa seperti ini, namun pada saat itu aku gagal menjalankannya. Sangat mungkin ujian ini diberikan lagi kepadaku untuk kali kedua, hanya untuk melihat apakah aku akan menjalankannya dengan sempurna atau memilih remedial dengan menggagalkannya secara sengaja demi tercapai kesenangan batin. Tetapi sungguh, ujian yang kuhadapi sesulit itu.
Tentang masalahku yang satu lagi, entahlah aku sedang tidak ingin memikirkannya. Belum selesai dan belum cukup jelas sebenarnya sampai saat ini. Tetapi sekali lagi, hati itu benar-benar mudah untuk dibolak-balik, kan? Entah bagaimana, aku juga tidak ingin tega meninggalkan ujian itu, pun aku tidak pernah merencanakannya. Tapi aku benar-benar percaya bahwa takdir juga menentukan hati. Maafkan aku, tetapi untuk saat ini aku sedang malas memikirkannya, bahkan merasakannya. Hatiku sedang butuh spasi.
Merasakan diri yang sedang acak-acakkan membuatku semakin butuh spasi sejenak dari dunia luar. Satu film atau satu buku ditemani dengan teh hangat dan selimut serta atmosfer yang nyaman di kosan mungkin cukup untuk satu sampai dua hari kedepan.
Bahwa hitam dan putih sebenarnya butuh spasi. Dan spasi itu bukan abu-abu.
Bandung, 29 Juli 2016
Marsha E. Miloen
