Cinta dari kacamata skeptis.

Entah kenapa akhirnya nyerempet ke filsafat.

Sumpah ngga nyambung.

[Ini kayaknya postingan paling ngga jelas saya di medium. Tatanan bahasanya kacau. Sistematikanya apalagi. Faedahnya juga ngga tau dah apaan. Tapi yaudahlahya, siapa tau ada yang kebawa gila karena tulisan saya ini. Hehe. Maaf buat yang ngga ngerti, berarti tulisan ini bukan untukmu.]

[NOT FOR SHORT THINKING PEOPLE]

C-I-N-T-A. Katanya huruf-huruf itu yang menyusun kata “cinta”. Cinta itu spesial, katanya. Cinta itu indah, katanya. Cinta itu rumit, katanya. Iya, itu kata mereka. Kataku? Hahaha, kamu bercanda? Kamu bertanya tentang cinta padaku? Mungkin kamu tidak akan mendapat jawaban yang kamu inginkan. Tapi jika aku disuruh bercerita sedikit tentang cinta, maka inilah cinta dalam pandanganku….

Aku dibesarkan dengan cinta kasih keluarga. Diberkati dengan 3 orang adik yang lucu-lucu (ngga sih, nyebelin) dan kami hidup dalam harmoni yang dinamis. Teman-teman yang setia kawan dan bertahan begitu lama berteman denganku, I love them.

Oh, ada sebagian orang yang mengatakan kalau cinta yang mereka maksud berbeda dengan cinta yang aku maksud. Mereka menyebut itu kasih sayang, bukan cinta katanya. Saat kutanya apa bedanya, mereka menjelaskan intinya kalau cinta itu perasaan yang jauh lebih besar dari kasih sayang. Should sincerity be measured? I love them and done. I call it love, idc what it should be called. Baiklah, mungkin aku tahu kenapa mereka bilang bahwa cinta itu lebih besar dari rasa sayang, mungkin karena mereka mengenal cinta yang belum aku kenal. Mencintai seseorang yang begitu istimewa dan melalui beberapa pengalaman dengan itu.

Bagiku cinta itu istimewa, tapi apakah kita tidak bisa membagikan sesuatu yang istimewa itu dengan semua orang? Bukankah banyak orang di luar sana yang membutuhkan cinta? Bagaimana dengan saudara-saudara kita di daerah konflik yang kehilangan kedua orang tuanya dan mengalami berbagai krisis kehidupan? Apakah mereka tidak pantas mendapatkan cinta? Apakah rasa sayang sudah cukup bagi orang-orang yang kurang beruntung seperti mereka? Sering bukan kita jumpai dua orang yang saling menyayangi tapi tidak bisa bersama karena mereka bilang itu bukan cinta? Lantas, apakah rasa sayang yang tidak bisa membawa dua orang dalam kebersamaan itu yang pantas mereka dapatkan? Bukankah orang menyebut cinta sebagai cinta karena kemuliannya? Bukankah ada orang-orang yang mengabdi begitu besar dalam kegiatan kemanusiaan dan tidak menikah? Apa dia disebut tidak memiliki cinta? Seandainya cinta hanya berarti sebatas pacar, tunangan, istri/suami, maka aku yakin dunia ini tidak lebih dari sekadar kepentingan dua orang yang disebut saling mencintai itu.

Nyatanya kita melihat dunia ini sebagai sebuah sistem, yang meskipun di dalamnya berantakan, tapi masih ada keteraturan yang membuat kita semua masih bertahan hidup di dunia ini. Mau disebut asas ketergantungan, keterikatan, atau simbiosis mutualisme, tapi itu semua pun sebenarnya turunan dari cinta. Turunan dari cinta mungkin tidak terlihat setulus cinta, karena begitu banyak rekayasa di dalamnya. Tapi coba tanyakan sekali lagi, kenapa kamu membela mati-matian golonganmu? Karena itu adalah identitasmu? Atau karena loyalitasmu? Apapun jawabannya, keduanya adalah bentuk lain dari cinta. Keinginan untuk dilabeli identitas dan mendapat pengakuan adalah bentuk cintamu pada dirimu sendiri. Sementara loyalitas adalah bentuk cintamu pada golonganmu. Keduanya bisa disebut cinta, tapi mana yang lebih tulus? Mungkin banyak yang akan menjawab loyalitas. Karena mengutamakan kepentingan lebih banyak orang sering dinilai lebih baik daripada mengutamakan kepentingan sendiri. Tapi apakah loyalitas tercipta begitu saja? Pasti ada latar belakangnya. Entah karena merasa butuh, merasa berhutang budi, atau merasa bahwa itu adalah harga dirinya, tapi yang jelas jika ditelusuri lebih dalam loyalitas tidak setulus itu. Begitu lah penurunan dari cinta, tidak selalu seindah yang sebenarnya. Tapi, dengan itu semua lah kita bertahan hidup.

Jika dilihat dari kacamata ketulusan, jujur aku sering kecewa dengan cara kerja banyak hal. Ternyata hampir tidak ada yang tidak tulus. Begitu pun denganku. Tapi, jika dipikirkan baik-baik, bahwa semua yang terjadi ini lah yang membawa esensi dari cinta. Yang disebut ketulusan, tidak pernah bisa benar-benar tulus. Kalau begitu, cinta berarti ketidaktulusan yang membawa kebermanfaatan, sehingga bisa menghimpun kehidupan milyaran orang di dunia ini. Agak menyedihkan, tapi bukankah itu baik buktinya kita bertahan hidup dengan itu. Insting bertahan hidup, naluri, ambisi, semua itu cinta bukan? Karena dengan itu semua tercipta lah kehidupan.

Sebentar, bagaimana dengan yang mati karena itu semua? Orang yang bertengkar dan saling membunuh, bukankah itu karena cinta mereka pada diri atau golongan mereka sendiri? Orang-orang yang mati kelaparan karena korupsi anggaran oleh pemerintah, bukankah karena pemerintah begitu mencintai harta kekayaan? Seorang raja yang hobi mengadakan upacara pemenggalan untuk orang-orang yang dipilih secara acak, bukankah itu karena kecintaannya pada kekuasaannya? Iya, sudah kubilang, bahwa salah jika mengartikan cinta sebagai sesuatu yang sangat murni. Lantas apakah cinta bisa memiliki terjemahan sebiadab itu? Nyatanya ada indikator tidak tertulis yang sering menjadi ukuran dari penyebutan cinta atau bukan. Itu adalah ego yang terlihat.

Jika dalam suatu urusan tidak terbaca egonya, maka itu sering disebut tulus. Dan ketulusan adalah unsur utama pembangun cinta. Yang sering orang sebut cinta adalah ketulusan tak bersyarat, yang tidak mengutamakan ego. Ketika pilihan dibenturkan dengan ego, sebagian memilih memertahankan egonya dan sebagian lain mengalah. Yang memilih untuk mengalahkan egonya sering dinilai lebih baik. Padahal, selalu ada yang tidak langsung terbaca dari itu semua.

Cinta itu tidak tulus, cinta itu masuk akal. Semuanya masuk akal. Yang kita sebut tidak masuk akal, tidak benar-benar tidak masuk akal. Mungkin kita yang belum mengerti cara kerjanya. Tidak mungkin ada seorang manusia yang mengetahui segalanya. Pada akhirnya kita dihadapkan pada pilihan untuk menunduk atau mendongakkan kepala ke atas. Arogansi atau kerendahan hati. Pada akhirnya, dua orang yang melakukan semua hal yang sama bisa memiliki preferensi yang berbeda jika sampai di sebuah titik yang mempertanyakan seberapa benar dirinya. Pada akhirnya, kita lah yang memilih untuk memercayai Tuhan atau diri kita sendiri. Meskipun dalam pembahasan filsafat yang lebih dalam, memilih Tuhan tidak ada bedanya dari memilih diri sendiri. Karena bukankah memilih juga berarti mengikuti keinginan diri?

Semua orang yang berpikir dan mendalami pemikirannya, mencari jawaban dan terus belajar darinya, suatu saat akan menemukan jawabannya sendiri. Filsafat menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. Filsafat dengan segala filosofi-filosofinya bisa menunjukkan kebenaran tapi hanya aman jika pikiran, perasaan, dan diri kita bersih dari sifat-sifat manusiawi. Dan itu nyaris tidak mungkin, sangat sulit. Seolah menantang batas kapasitas otak manusia. Al-qur’an diturunkan sebagai petunjuk. Lantas mengapa tidak kamu buka kitabmu dan mulai membaca? Iqro. Bacalah…

[Jangan dipikirin. Ini emang agak ngaco. Filsafat bisa menyebabkan kegilaan. Jadi lebih baik lupakan guys, w aja udah lupa nulis apa tadi :’D Thanks for wasting your 5 minutes reading this xD]