Tuhan, Tolong Jangan Penjarakan Aku!

marsya martia
Nov 3 · 2 min read

( Untuk Sementara )

Tenggelam dan Abadi.

“Seiring lantunan angin yang merdu, ku terdiam di tengah lautan untuk menemuimu.”

Jiwa ini tidak pernah tergoyahkan sedikit pun oleh rantai kekuasaan yang tidak akan pernah ada habisnya. Telapak kaki ini pun akan terus melaju, seiring dengan ucapan kalimat tauhid ditelingaku. Aku tidak benar-benar mati, sayang. Aku masih hidup di belantara hutan yang mengunciku (yang mengunci kebebasan batinku).

Aku, perempuan. Aku dilemahkan oleh manusia berdasi hitam dengan gaya tengik di parasnya. Aku berpikir, bagaimana Tuhan lebih memilih untuk membebaskan orang seperti dia, tetapi mengucilkan wanita sepertiku? Dan mengapa dunia ini tidak pernah berhenti untuk memenjarai sosok wanita cantik dengan ruh berbahaduri? Lantas, pantaskah aku dikerdilkan oleh segerombolan Leviathan yang tak akan pernah mati di ibu pertiwi ini?

Tuhan, aku lupa untuk mengatakan rasa sayang kepada kekasihku. Aku lupa mengatakan bahwa dunia ini terasa hitam putih tanpa dirinya disampingku. Ia menyelimutiku dikala aku menggigil, ia bersamaku dikala aku terombang-ambing oleh hiruk piruk kedurjanaan dunia. Tuhan, izinkan aku untuk mengirimkan surat terakhir untuk dirinya. Untuk kekasihku, yang sedang mencariku di ujung dunia.

Kepergianku bukanlah takdirmu, karena kepergian adalah musuhmu yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Mengawalmu dari jauh bukanlah suatu beban yang lasuh, aku harus ditemani oleh kecemburuan yang menghantuiku. Kadang kala aku harus bertelepati agar bisa bertemu denganmu, melalui mimpiku. Kau tetaplah engkau, yang senantiasa selalu bersama kedamaian di dalam lubuk hatimu. Kau akan ku tandai sebagai bunga abadi di dalam kehidupanku. Jika kelak aku kembali sebagai manusia jengah di abad 30, maka aku akan tetap memilihmu. Maka aku akan tetap berlari menuju pundakmu yang rampung, maka aku akan melekap di dalam suam belaianmu, maka aku akan berlabuh menuju sukmamu yang redup.

Sayang, maafkan aku.

Untuk saat ini, aku ucapkan selamat tinggal untuk dirimu.

Jamu aku dengan dendam berahimu, ke dalam tempat pusara persinggahanku.

-Niskala-

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade