Kopi Tubruk dan Alam Sadar Manusia Nusantara

Ngopi, boleh dibilang sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Dari sekian banyak pola penyeduhan kopi, Indonesia memiliki ciri khas yakni, kopi tubruk. Tradisi ngopiyang sangat mengakar di kebanyakan kedai. Mulai dari kedai kecil di pedesaan sampai kedai-kedai besar di perkotaan. Kebiasaan yang lekat dengan berbagai aktivitas masyarakatnya. Mulai dari sekedar guyub bersama kerabat, untuk keperluan serius seperti teman bekerja, sampai sajian dalam rapat-rapat penting.

Kopi tubruk memang memiliki keunikan di balik kesederhanaannya. Tradisi ini hanya tumbuh di bumi Nusantara. Tubruk sendiri berasal dari istilah Jawa yang berarti ‘bertabrakan’. Istilah itu digunakan karena dalam penyajiannya kopi langsung ‘ditabrakkan’ begitu saja dengan air panas–atau gula maupun susu jika hendak dicampurkan. Cukup tuang air panas ke dalam gelas yang sudah berisi bubuk kopi. Selesai.

Bandingkan dengan tradisi Eropa yang memiliki banyak sekali metode seduh. Sebut saja Italia yang memiliki tradisi kopi sangat kuat. Pola penyeduhan di negeri pasta tersebut sangat variatif yang berbasis pada espresso (pola penyeduhan yang mengandalkan komposisi tekanan, suhu air, dan volume kopi). Dengan espresso dihasilkan pula berbagai jenis lain seperti latte, cappucino ,frappucino, dan sebagainya. Tradisi ini sangat populer di mancanegara dan paling banyak digunakan di berbagai kedai kopi modern demi mendapatkan rasa yang diinginkan dari secangkir kopi.

Saat tradisi minum kopi terus berkembang, alat-alat seduh pun turut berkembang. Banyak alat seduh yang tadinya diperuntukkan untuk tradisi minum teh dimodifikasi menjadi alat seduh kopi. Semuanya demi mendapatkan citarasa terbaik. Demi mengulik rasa spesifik dari secangkir kopi yang membuai lidah. Memberi perlakuan khusus untuk sesuatu yang spesial, pemberian langsung dari Sang Khalik.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah tradisi kopinya juga ikut beranjak seperti yang terjadi di belahan bumi Eropa, Amerika, dan beberapa wilayah Asia lainnya? Seiring perkembangan jaman dan persebaran manusia, perubahan memang terjadi. Namun progresivitasnya boleh dibilang tak seberapa signifikan. Tatkala tradisi ngopi dunia sudah memasuki gelombang ketiga yang memperhatikan betul asal muasal sebuah biji kopi, memberi perlakuan khusus saat menyeduh, termasuk detil pada pelbagai peralatan penunjangnya, kopi tubruk masih jadi pilihan utama di Indonesia.

Soalan rasa memang sangat subjektif. Sangat wajar jika cara menyeduh kopi demi menghasilkan citarasa terbaik dari biji kopi pun menjadi perdebatan. Tak sedikit yang menganggap tradisi kopi tubruk sebagai bentuk tidak menghargai sebuah komoditi. Ada yang menyebutya sebagai wujud kemalasan dalam menggali citarasa kopi. Bahkan yang lebih ekstrim menyebutnya sebagai sisa alam sadar keterjajahan. Benarkah demikian?

Kala Belanda pertama kali memperkenalkannya melalui VOC pada abad XVII, rakyat Hindia Belanda dipaksa menanam kopi tanpa tahu seperti apa keunggulan dari rasa kopi itu sendiri. Meski kopi dari Hindia Belanda merajai pasar global, petani kopi hanya kebagian sisa-sisa ekspor. Rakyat kita sedari awal tidak diajarkan untuk mengenal keunggulan dari rasa kopi itu sendiri. Tanam, rawat, panen, dan setor. Semua berdasar paksaan. Acap kali melalui siksaan keji.

Jangankan untuk memperoleh citarasa terbaiknya, mendengar cerita bagaimana kopi diperlakukan pun tidak. Rakyat Hindia Belanda cuma berhasil mengumpulkan ‘kopi sisa-sisa’. Karena tahu pada akhirnya diseduh untuk diminum, menumbuk lalu siram dengan air panas saja sudah cukup. Sejak awal rakyat kita memang tidak ‘dibesarkan’ untuk memandang kopi sebagai barang berharga. Tidak ada perlakuan khusus terhadap sebuah karunia yang notabene tak bisa tumbuh di sembarang tempat sehingga, Belanda menjadikan negeri ini ladang kopinya.

Jangan-jangan tradisi kopi tubruk adalah gambaran alam sadar Indonesia yang masih terinfeksi kolonialisme? Bahwa, mental bangsa ini sesungguhnya masih terjajah?

Tentu banyak perdebatan seputar pertanyaan di atas. Semakin meningkatnya pengetahuan soal kopi mendorong lahirnya kegiatan yang disebut cupping. Aktivitas ini semacam ujian kopi dari para ahli. Nantinya, akan disusun penilaian untuk menjadi standar acuan yang disebut cupping score . Kopi Indonesia terbukti selalu menempati posisi teratas dalam cupping score (uji citarasa kopi). Sebut saja Kopi Gayo, Toraja, atau Mandailing yang kerap mengisi papan atas cupping score. Belakangan kopi dengan lokalitas lebih spesifik seperti Kopi Dolok Sanggul bahkan menempati tiga besar. Dan tahukah anda penyeduhan apa yang digunakan dalam cupping score? Tubruk!

Kopi tubruk bisa jadi pola penyeduhan kopi paling sederhana dan sangat tradisional. Namun sesungguhnya ia merupakan pola penyeduhan kopi paling jujur yang pernah ada. Tak ada rekayasa untuk mendapatkan spesifikasi rasa tertentu melalui penggunaan berbagai alat seduh modern. Rasa yang dihasilkan pun lebih kompleks. Bisa jadi sangat subjektif, bergantung lidah sang penikmat. Satu yang pasti, tubruk adalah budaya sahih negeri bekas jajahan ini. | @marthinsin

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.