Filsafat atau Filsabar

Suatu hari di kala musim hujan skripsi telah berlalu, matahari wisuda menjadi terang benderang. gedung penamatan ramai di kelilingi mobil pribadi, isinya keluarga tersayang, senang anak imutnya sudah jadi sarjanawan. tetapi rembulan terpendam di hati seorang sarjana filsafat atau sarjana agama, melihat senyum keluarganya seperti kelambu yang bisa berisi apa saja. Ia juga bingung harus bergelar apa. sebuatlah ia Ma’ruf Nurhalis S.ag (sarjana agama )tapi empat tahun ia belajar filsafat.
Lulus dengan gelar itu baginya bukanlah jalan keluar, tetapi itu hanyalah gerbang untuk gerbang-gerbang yang semakin rumit. bagi seorang sarjana filsafat, gerbang adalah sebuah lorong eksistensi yang entahlah akan berujung kemana. seharusnya apapun itu, sebagai seorang pecinta kebijaksanaan. bijaksana itu bisa didapat di mana saja. Bahkan di mulut anjing sekalipun. bijaksana bukan?.
Tetapi amat sengsaralah kepala sarjana filsafat itu, karena gerbang yang akan dibukanya adalah sebuah gerbang paradoks atau mungkin gerbang yang seharusnya tidak di buka terlalu cepat. aku mau bilang, lulus dengan terburu-buru hanya jadi lolos sesaat. kita bukan lulus untuk lolos. iya bukan?.
Entahlah apa yang ada dipikiran banyak kepala sarjana filsafat? tetapi mereka mungkin akan terperangkap pada sebuah kesabaran tingkat tinggi. aku ingin sebut itu, filsabar.
Apa itu filsabar?. anda baru mendengarnya kan.
Sebutlah begini defenisinya, filsabar berasal dari dua buah kata, filos dan sabar. jadilah cinta kepada kesabaran. sederhana saja istilahnya, kamu punya sabar, tidak cepat marah, meski desakan datang dari mana saja. Jadilah kamu mencintai sabar, karena pun harus marah, kamu harus bertanggung jawab dengan pilihanmu.
Mengapa harus sabar.?
Karena menjadi bijaksana di Negeri ini dekat artinya dengan kesabaran. Setidaknya kalau anda mau cari duit dari baju seragam PNS dengan filsafat maka anda harus mempelajari filsabar dulu.
(“sabar itu disayang tuhan” tuhannya siapa?. aku curiga orang yang bilang begitulah yang menganggap dirinya tuhan. berarti, kalau kamu sabar, kamu tunduk sama dia yang menganggap dirinya tuhan).
Kursi yang disediakan oleh kamu yang mau berseragam PNS, malas di kerjakan sama tukang kayu. soalnya, filsafat itu tidak pandai sabar bukan? kan kamu anjing kritis yang selalu berteriak kepada siapa saja yang lewat dihadapan.
Kalau kamu juga punya kursi, kursi bakalan cepat rusak, atau kamu bukan orang yang suka duduk, malas diperintah, dan cerewet bukan main. kamu jadi bikin takut orang-orang.
Ah, filsabar itu mungkin cocok bagi pengecut-pengecut filsafat. tapi pengecut mana yang dapat kita pastikan? kita tidak bisa menilai seseorang yang masih hidup menunaikan sejarahnya bukan?. Jadi terserah kamu mau yang mana?. filsabar dan filsafat juga tidak akan membunuhmu, hanya sebuah kelainan uratlah yang paling dekat dengan suratan takdirmu.
Ouh bila begitu. filsafat atau filsabar adalah sebuah proses. bagaimanapun paradoks yang menyiksa logika dan emosionalmu? cinta dalam sarjana filsafat jangan kau musnahkan.
(Kamu mungkin tertawa, karena rupanya kau hanya mencoba menghibur diri sendiri, nasib sarjana filsafat tidak akan ada yang bisa tebak, seperti bola bergulir, anda bisa bergulir kemana saja, tertendang kemuka wanita cantik nan lugu, juga bisa).
Tidak usah khawatir Ma’ruf Nurhalis S.ag. modal yang kamu miliki adalah otak besarmu yang bisa memuat semua pikiran yang berdialektika. bukankah hampir semua bangsa dan kemajuan di kendalikan oleh otak-otak besar.
Masalahnya, otakmu sudah besar belum?.
yah kalau kamu belum jadi sarjana filsafat, Setidaknya banyaklah baca buku. modal terbesarmu adalah buku-buku. pekerjaan terbesarmu adalah presiden. dan pekerjaan terkecilmu adalah menjadi orang yang dianggap gila.
garis horizon cita-cita yang aneh bukan?. Bersyukurlah, Sarjana filsafat memang aneh.