Sumpah Ranjang, mengapa aku lelaki dan kamu perempuan?.

Ma'ruf Nurhalis
Jul 27, 2017 · 5 min read
saya ambil dari hipwe.com, fotonya unik toh.

Usiaku sudah 21 Tahun, usia yang sudah cukup matang untuk bersumpah diatas kasur dengan selaput darah atau tanpa selaput darah. tapi untuk bersumpah, lelaki yang ditawan syariat dan kultur sepertiku harus menguasai alam agar bisa membawa seorang perempuan atau lebih kedalam pelukanku.

Aku mungkin bisa beralih ke jalan pintas, jalan tempat kupu-kupu menangkar. memburu kupu-kupu malam dan bermalam bersamanya, sampai suntuk dan kafir. bila tidak nekad, aku pilih saja sulap bernama pacaran dan membawa seorang perempuan ketempat sepi dan membuatnya berkeringat. aku pikir “itu bisa saja”.

Tapi untuk paragraf kedua, aku butuh alasan yang bukan hanya sekedar ingin untuk bisa meruntuhkan super ego di hatiku. Aku memang tumbuh besar di dalam rumah ibadah. untuk memeluk perempuan aku harus berpikir apakah mencium itu bernilai ibadah. tentu saja harus sesuai kata ayah dan ustad.

Nikah dulu baru cipokan.

Belakangan rasa ingin bersumpah diatas kasur itu beralih kepada rasa sumpah yang lain, sejak bertemu dengan buku-buku filsafat usang dan terabaikan, aku selalu bertanya kepada kelaki-lakianku, mengapa aku suka dengan perempuan. Padahal aku bisa saja memilih seorang lelaki berotot untuk disetubuhi, mengapa tidak kupilih saja seorang pemuda kewanitaan untuk berpetualang. Mengapa aku tidak bisa lain kecuali perempuan. Dan aku bersumpah aku butuh jawabannya.

***

Pernah suatu ketika, panggilan ibadah keluar melewati corong menara masjid, aku bertemu dengan sepupu aku yang masih belia. Dia begitu semangat untuk pergi kemasjid sambil kerepotan dengan talkum merah jambu yang bergambar hello kitty. Aku berpapasan di depan rumahnya. Dia seorang anak perempuan yang aktif, dan aku suka dengannya.

“Nisa, cantiknya talkum mu?.” Nama lengkapnya Annisa, aku memanggilnya Nisa.

(Aku sapa dengan dialek keseharian orang Makassar. dialek yang cukup unik ketika logat Makassar bercampur dengan bahasa Indonesia, dan aku bersumpah ingin mengetahui keunikan ini juga.)

Nisa tersenyum dan malah menjawab “ iya dong, tapi bajumu iyah tidak pernah na ganti, ih nda maunya na cuci.” Dan aku malu mendengarnya.

(Yah, aku mengakuinya Nisa, baju kokoh coklat ini sudah seminggu tidak dicuci, matamu jeli juga).

“ Kasik ka pale talkum mu, supaya bisaka ganti bajuku.” Aku menggodanya, dan dia tetap tahu harus menjawab apa.

“Ih, nda boleh, laki-laki ko. nda boleh laki-laki pake talkum”. jawabnya dengan muka yang jutek.

“ih kenapa bisako tahu, kalau saya laki-laki?” pertanyaanku ini jadi filosofis, tapi spontan Nisa menjawab.

“ka pendeki rambutmu. jadi laki-laki ko”.

(aku harus menebalkan kalimat yang dibahasakan seorang anak kecil yang polos, dan aku percaya Nisa tidak akan berbohong. Tahukah anda atu sudikah anda ingin tahu, jawaban anak kecil itu membuaku tersentak, sesederhana itulah perbedaan gender bagi seorang anak belia, dan itu mungkin saja benar, entahlah apakah Nisa nantinya akan tetap mempertahankan teorinya, kalau ia kan mendapati bahwa perbedaan tubuh yang kompleks lah yang menjadi pikiran tradisional orang kebanyakan, untuk membedakan kelamin).

“Ah besar nanti, aku harus meruntuhkan teorimu, aku akan suruh kamu baca Simone de Beauvoir, The Second sex”.

***

Mungkin Nisa memang benar, karena rambutlah yang membuatku suka dengan perempuan, Ibuku memang punya rambut yang panjang. tapi seorang mahasiswa punya rambut panjang ,dan aku tidak menyukainya.

Mungkin, ibuku lah yang bertanggung jawab dengan orientasi seksualku kepada perempuan. tapi aku sama sekali tidak pernah bersumpah dengannya diatas ranjang.

Tapi menurut Sigmund Freud, aku pernah bersetubuh dengan ibuku. Menurutnya, sebelum tongkat di tubuhku menjadi pusat kenikmatan seksualku saat ini, daerah mulutlah yang menjadi kepuasan tubuhku saat masih di gendongan ibuku. Sigmund Freud menyebutnya sebagai fase Oral. jadi setiap kali menyusui di puting ibuku, aku sedang memuaskan tubuhku. lepas dari payudara itu. aku akan cemas seharian. merengek setiap kali haus.

Pada fase itu, Sigmund Freud menuduhku sebagai Oedipus Complex ( kisah mitologi Yunani, Oedipus ingin menyetubuhi ibunya jadi dia membunuh ayahnya, kisahnya hampir sama dengan kisah Sangkuriang, tetapi Sangkuriang bermoral nusantara.) Aku pernah jadi Oedipus, tapi untuk saat ini aku sungguh tidak punya hasrat untuk menyetubuhi ibuku, tapi belakangan aku sadar, aku mencari perempuan yang mirip dengan ibuku.

mungkin ibuku lah yang bertanggung jawab dengan orientasi seksualku kearah kecenderungan menyukai perempuan (Heteroseksual).

(Tapi teori Sigmund Freud akan membingungkan bila anda adalah manusia yang menyatakan diri sebagi perempuan, anda akan sulit mengerti dengan fase oral).

***

Aku memang menyukai perempuan, tapi aku tidak puas dengan kenyataan itu, Aku lalu mencoba berpikir antirasional. mencoba untuk jatuh cinta dengan lelaki.

Namun hampir semua lelaki yang kukenali ataupun asing, selama aku tahu bahwa dia lelaki, aku sama sekali tidak berhasrat untuk bersumpah dengannya diatas ranjang. Namun, aku pernah jatuh cinta dengan lelaki di halaman facebook. Dia memasang foto untuk berandanya seorang wanita cantik nan gemulai, dan aku tergoda dengannya, setelah meminta no HP nya, lalu menghubunginya, dia tidak pernah mengangkatnya. dan aku tahu kalau dia seorang cewok (cewek adalah istilah untuk menyebut, cowok yang mau jadi cewek) begitu bertemu dengannya di sebuah taman yang roman. ah aku sungguh tidak punya hasrat untuk bersetubuh dengannya. meski aku tetap menghargainya sebagai jenis kelamin ketiga.

Aku jadi suka dengan cewok, karena aku membangun persepsi di dalam otakku tentang tubuh perempuan. aku mungkin saja bersetubuh dengan seorang cewok, menipu pikiranku dengan bayangan perempuan di tubuhnya, tetapi alat kelamin selalu punya cara untuk menampakkan diri dengan ciri khasnya. Tongkat selalu identik dengan laki-laki, dan gua selalu identik dengan perempuan. Seorang cewok, selalu mentok di persolan itu.

***

Aku memang suka dengan perempuan, tetapi aku tidak menyukai semua perempuan.

Aeorang perempuan yang cantik jelita, dan aku bersumpah dia sangat cantik. kamu pasti tergoda dengannya, dia sepupu yang seumuran denganku dan tumbuh dewasa bersamaku. aku suka dengannya tetapi aku sama sekali tidak berhasrat bersamanya untuk bersumpah diatas ranjang. entahlah mengapa?

mungkin karena aku tumbuh bersamanya dan menganggapnya sebagai saudara sekandung. ketika masih belum masuk sekolah dasar, aku sering mandi telanjang bersamanya di dekat sumur. Aku tidak tahu mengapa aku tidak berhasrat dengannya pada saat itu. tapi kebiasaan terus bersamanya membuatku tahu tentangnya, dan aku tidak ingin menyetubuhinya. meskipun aku selalu peduli dengannya.

Sehat selalu sepupuku.maaf membuatmu sebagai objek penelitian.

mungkin aku jujur saja, aku memang hanya mencintai perempuan yang mirip dengan karakter ibuku.? tetapi untuk menemuinya aku rupanya juga butuh dengan rasa penasaran.

aku akhiri saja di sini dulu. supaya anda pun jadi penasaran. :D

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade