Tentang kucing yang ada dalam karung.

Beberapa hari yang lalu saya membahas perihal ta’aruf dengan teman saya via chatting. Baik saya maupun teman saya tersebut, kami berdua pernah melakukannya. Dan lebih dari satu kali, lalu bagaimana hasilnya?
Kami berdua sama-sama kecewa dengan lelaki yang dikenalkan via taaruf itu.

bukan berarti kami memasang standar kriteria kami ataupun memiliki ekspektasi tertentu terhadap si pria tersebut. hanya saja bisa dikatakan bukan si ‘dia’ yang pas dihati kami.
Ngomong-ngomong soal ta’aruf , atau jika digaungkan kata tersebut. kebanyakan orang cenderung berpikir bahwa itu adalah jalan perjodohan kuno atau juga jalan pintas menuju pelaminan. Ya, memang benar.
Ta’aruf itu memang bisa dibilang singkat beda halnya dengan pacaran. Dan maksimal batas ta’aruf itu tiga bulan.
Juga bagi beberapa orang ta’aruf ini memiliki kesan menakutkan. Termasuk bagi teman saya, yang memang kebetulan memiliki pacar—yang sudah ia pacari sekian lama.
Saya sendiri orang yang berpacaran selalu sebentar, jika dibandingkan dengan teman saya ini.
Dan kesamaan kami berdua, adalah kami cenderung takut dengan yang namanya pernikahan. Namun yang saya tahu bahwa pernikahan adalah impian kebanyakan wanita entah sejak mereka kanak-kanak ataupun dewasa.
Jadi dalam chat kami teman saya berceletuk bahwa, ‘pernikahan via taaruf itu kayak beli kucing dalam karung.’

Jadi saya menimpalinya dengan, ‘toh pacaran lama-lama juga tidak mampu menjamin atau menjanjikan apa-apa, keduanya sama-sama tidak ada garansi.’

Teman saya malah balik bertanya, ‘seandainya tidak dengan taaruf, kamu ingin dengan cara apa agar dipertemukan dengan your future husband?’

Teman baik.’ Saya simple menjawab.

Akhirnya dia mengatakan jika dia dikasih pilihan tentu saja ia ingin pacarnya yang menjadi suaminya, namun ia juga mengatakan bahwa jika ingin pacarnya maka ia harus bersabar lebih lama lagi.

Dalam chat tersebut saya menjelaskan, bahwa setiap orang akan memiliki beragam alasan dan jawaban jika ditanyai kenapa mereka akhirnya memutuskan untuk menikah. dan bermacam cara pula sampai mereka bisa menikah. juga lagi-lagi tak ada garansi di dalamnya.

terus kita harus gimana?’ teman saya yang satu ini memang polos juga lugu sekaligus pasif.
‘nikah itu takdir. jodoh itu katanya cerminan kita. Dan jika memang sudah saatnya, kita entah dengan cara apa dan dengan siapa. Hati kita pasti diyakinin.’

gue yakin sama pacar gue.’ Dia menimpali.
Dan saya ini memang orang yang cenderung ceplas-ceplos sekali apalagi dengan teman sendiri. Saya tidak akan ragu menyampaikan kejujuran.

hati-hati cinta itu buta.’ –terang saya.
Setelah ia dan saya menimpali satu sama lain, chat kami siang itu tak lama berakhir.
Namun, masih di hari yang sama sekitar beberapa jam sesudahnya. Saya mengobrol dengan atasan saya, saya lupa topik apa yang tengah kami bahas. Namun satu yang pasti perihal berpasangan.
Atasan saya berceletuk, ‘tidak ada yang instan dan tidak ada paket komplit. Bahkan dalam sosok pasangan idaman kita.’
Saya hanya mampu mengangguk setuju ketika beliau mengatakannya. Tidak ada yang sempurna semua berproses. atasan saya sendiri telah melalui proses tersebut.

Tersebab sejatinya pribadi kita inipun jauh-jauh dari sempurna bahkan masih jauh dari kata nyaris sempurna.

Dan toh mungkin bagi si dia{ our future husband} kita ini juga kucing yang ada dalam karung tersebut.


Ini ditulis 15-april-2016, saya merasa greget sekali dan begitu penting untuk menuliskan ini