Gie dan Mereka yang Tidak Mampu Menjejakkan Kaki pada Masa Kini

Pada tanggal 16 Agustus 1969, harian Kompas memuat tulisan Soe Hok Gie yang berjudul “Generasi yang Lahir Setelah Tahun Empat Lima”. Tulisan dalam bentuk literasi tersebut menjelaskan pandangan Gie bahwa manusia menjalani hidupnya sekarang adalah dengan pandangan yang terlahir ketika menghadapi pergolakan-pergolakan emosi di masa lalu, dalam hal ini adalah masa muda. Masa di mana seseorang mulai mempertanyakan, mencari, dan menemukan jati dirinya. Meski dalam proses tersebut banyak sekali manusia di era post-modern ini yang ternyata tidak jua kunjung menemukan siapa diri mereka hingga akhirnya tidak menjadi apa-apa.

“Seorang manusia sulit sekali lepas dari masa lampaunya. Apa yang dialaminya, yang dilihatnya dan yang dihayatinya akan selalu berbekas pada dirinya. Bekas-bekas ini akan selalu mewarnai seluruh kehidupannya”, demikian Gie membuka tulisannya. Ia kemudian menceritakan bagaimana dalam setiap studi dan diskusi yang dilakukan Sukarno tentang kolonial tidak lepas dari kisah-kisahnya masa muda ketika Indonesia masih bernama Hindia-Belanda, termasuk ketika ia patah hati karena jatuh cinta dengan seorang noni Belanda-Indo.

Meskipun sangat subjektif, tapi saya berpendapat bahwa inti tulisan tersebut adalah kegelisahan Gie terhadap zamannya yang dijiwai oleh kekecawaan pada pemerintah. kepada orde lama, kekecewaan itu adalah ketika semangat tunas-tunas muda seangkatannya dipatahkan oleh ketidakjujuran dalam implementasi slogan-slogan ideologis dari para pemimpin negara. Tunas-tunas muda yang patah karena terlalu percaya seratus persen pada jajanan-jajanan pikiran yang ditawarkan oleh bendera organisasi atau idealisme komunitas tertentu sebagai jalan menuju kedewasaan, kemantapan diri, dan sebagai manusia Indonesia terdidik yang melek politik. Juga kepada orde baru yang sejak mula berjalannya pemerintahan telah menunjukkan ketidakberesan, orang-orang yang kecewa akan pemerintahan orde lama melampiaskan rasa frustasi mereka dengan ikut berkelakuan culas ketika duduk meneruskan jalannya roda pemerintahan selama orde baru.
Untuk yang kedua, Gie menggambarkannya dalam beberapa kalimat yang sangat tajam, menyoroti orang-orang frustasi itu. Sorotan ini seharusnya juga direnungkan kembali bagi setiap generasi yang lahir , tumbuh, dan menghabiskan masa mudanya selama pak Harto jadi orang nomor satu di Indonesia,

“Realitas-realitas baru inilah yang menghadapi pemuda-pemuda Indonesia yang penuh dengan idealisme. Dia hanya punya dua pilihan. Yang pertama tetap bertahan dengan cita-cita idealisme. Menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis. Orang-orang dengan aneh dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala: ‘Dia pandai dan jujur, tetapi sayangnya kakinya tidak menjejak tanah.’ Atau dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealisme dan ikut arus. Bergabunglah dengan grup yang kuat (partai, ormas, ABRI, klik, dan lain-lainnya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat. Karier hidup akan cepat menanjak. Atau kalau mau lebih aman kerjalah di sebuah perusahaan yang bisa memberikan sebuah rumah kecil, sebuah mobil, atau jaminan-jaminan lain dan belajarlah patuh dengan atasan. Kemudian carilah istri yang manis. Kehidupan selesai.”

Kita lihat kenyataannya sekarang. Betapa tersisa sangat sedikit orang-orang keluaran zaman orde baru (dan lama, kalau masih hidup) yang hidup dengan idealismenya. Kebanyakan dari mereka malah hidup terasing di luar negeri, atau hidup di dalam negeri dengan tetap frustasi melihat kebobrokan yang tetap ada di segala bidang pada zaman pasca reformasi, karena kini yang memimpin negara adalah orang-orang yang ikut berdemo menjatuhkan Suharto bersama mereka. Sisanya? Tak perlu ditanya, lihatlah sekitar kita, tentang orang-orang yang menghalalkan segala cara agar dapat mewujudkan cita-cita mereka memiliki seorang anak atau paling tidak menantu yang punya jabatan bagus dan bergaji banyak. Tetapi bagi saya, tindakan terkejam dari orang-orang ini adalah memaksakan generasi penerus (angkatan 2000-an) pada cita-cita yang dangkal, berusaha menghindari masalah-masalah pelik kehidupan dengan mengajari mereka untuk jadi pemfitnah atau penjilat, serta melestarikan sikap oportunis, dipikirnya akan bahagia seorang hidup hanya dengan uang dan jabatan.

Melihat fenomena-fenomena ini, membuat saya seringkali kembali bertanya-tanya tentang peran tunas-tunas baru seangkatan saya. Pertanyaan yang sama dengan yang Gie lontarkan dalam tulisannya, “Apakah yang seharusnya disumbangkan oleh generasi sesudah itu?” meski yang ia maksud adalah generasi setelah empat lima, tetapi sesungguhnya pertanyaan itu bersifat universal. Apa yang seharusnya disumbangkan oleh generasi setelah orde baru berakhir? setelah kebebasan pers, kebebasan berpendapat, dan kebebasan menyatakan sikap telah diperoleh?

Meski pemerintah belum becus benar mengurus dan mengefesienkan sistem dalam bernegara, tetapi hal utama yang diperjuangkan selama reformasi tahun 1998 telah kita dapatkan; kebebasan. Seharusnya daripada menipu diri sendiri dengan mendambakan lagi sebuah revolusi dalam sebuah pengertian dan pergerakan yang absurd, lebih bijak menggunakan kebebasan ini untuk terus berkarya, sebagai pemuda dan khususnya sebagai intelektual untuk terus menemukan dan menciptakan terobosan-terobosan dalam ilmu pengetahuan yang berguna untuk bangsa dan negara sebagai upaya mengisi kemerdakaan. Berhenti hidup dalam ketakutan dan romantisme sejarah yang seringkali didongengkan oleh ‘orang-orang tua’ yang agaknya tumbuh dengan romansa perjuangan reformasi.

Dalam tulisannya, Gie coba menunjukkan eksistensi angkatannya, “Dunia mereka bukanlah dunia ‘Pujangga Baru’ yang takjub sebagai kanak-kanak melihat horizon baru dan kemudian bertengkar sesama mereka… bukanlah dunia “pemuda bambu runcing” yang percaya bahwa dengan vitalitas dan semangat empat-lima, semua soal dapat diselesaikan.” Maka dalam kesempatan ini saya katakan, “Dunia kita bukanlah dunia di mana jadi jagoan, mabuk-mabukkan, kerusuhan dan demonstrasi mampu menjawab semua masalah negara!”

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fathul Karimul Khair’s story.