Kisah ini, terjadi sekitar awal tahun 1999, Februari.
“...
Kita berciuman sambil melihat api bekerja.”
-Aan Mansyur

Reinkarnasi Api

Di pandanginya langit malam itu. sudah beberapa minggu dia berada di sini, Kaki Gunung Bawakaraeng. Sejak hari kemunculannya, penduduk dan pengunjung tak pernah tahu ia menyewa vila mana, atau tendanya di mana. Ia seorang lelaki pada siang hari hilang tak berbekas dan tahu-tahu sudah duduk memeluk lutut menatap bintang ketika malam tiba. Tak ada yang tahu lelaki itu tinggal dalam kabut.

Beberapa minggu sebelum ini, ditemukan seorang lelaki bernama Khazan tewas secara misterius di tempat tidurnya. Orang-orang yang melakukan otopsi tidak menemukan tanda apa pun yang membuatnya mati, karena paru-paru dan jantungnya masih bekerja. Otak dan hatinya, pula. Tidak ada luka, semua baik, tetapi tetap; Khazan telah tewas dan wujud malaikat maut yang bersembunyi itu memang selalu tak pernah dapat diduga.

Khazan di makamkan di bawah tempat tidurnya sendiri. Ketika upacara pemakaman berlangsung, tak ada seorang pun yang datang. Tak ada pendeta atau imam masjid. Khazan tidak beragama tetapi memilih agar ia dikremasi karena ia percaya –atau lebih tepatnya menginginkan reinkarnasi. Maka, pada suatu malam seorang perempuan berkacamata melihat Khazan berubah jadi api di depan jendela kamarnya.


Namanya, Rien.

Sejak setelah kejadian malam api waktu itu. Rien selalu merasa seorang membisik pada sepersekian detik sebelum ia benar-benar tertidur.

“Percayakah kau pada sebuah reinkarnasi?”

Sejak itu Rien selalu diakrabi kesialan. Pernah suatu malam Langit menggagalkan kencan perempuan itu dengan menumpahkan hujan sedetik paling janggal yang membawa gerah dan jengkel dalam kepala Rien. Baju berkain kapas yang mampu merubahnya jadi angsa seketika menghianati Rien. Hujan memporak-porandakan kencan malam itu bahkan sebelum dimulai. Di sebuah hotel mewah, lelaki yang hendak Rien temui diringkus polisi ketika sedang menyuntikkan kokain bersama dua orang perempuan, seorang di antara mereka tak berbusana dan seorang lagi tak bernyawa.

Atau hal-hal kecil seperti kain gorden jendela kamarnya yang setiap pagi sudah tersingkap rapi begitu saja. Menjadikan sinar matahari seenaknya masuk dan membangunkan Rien dengan kehangatan paling menjengkelkan tepat di wajahnya.

Layar gawainya pun sama, ia bahkan melempar benda itu sebab seenak mati ketika seorang pria lain yang coba dekat dengannya memasukkan panggilan. Rien benci dengan keadaan seperti ini. Memang bukan sebuah persoalan serius, hanya saja, sejak malam api, ia merasa ada sepasang mata yang lekat di lehernya, seukuran kulit basah di keningnya.

Ada kesepian atau kesunyian yang lekat. Pekat memenuhi hati. Rien seringkali menangis dan ironisnya air mata itu enggan menjatuhkan diri agar Rien mampu berdamai dengan gusar di hatinya.


Mereka kemudian bertemu pada suatu malam ketika bulan berwarna biru, tapi bukan di kaki gunung. Rien terpisah dari rombongannya ketika mereka sedang mendaki Bawakaraeng. Tetapi Rien tidak merasa sedang tersesat, ia merasa berjalan ke satu arah yang pasti. Bukannya arah hanya ilusi? Manusia akan selalu sampai pada dirinya sendiri.

Malam itulah ia kembali melihat api dalam kabut. Khazan tiba-tiba saja sedang duduk dengan kaos lusuhnya sambil menekuk lutut. Rien tak takut, ia tak merasa asing. Rien mendapati dirinya duduk di samping Khazan. Bulan biru bisu.

“Kita pernah bertemu.” Kata Rien.

“Memang, tapi secepat waktu, kau lupa.”

“Aku tak lupa, Khazan. Kaulah satu-satunya...”

“Satu-satunya apa? Teman? kekasih? Hahaha, jangan buat aku tertawa.”

“Kau hanya tak pernah tahu.”

“Kaulah yang hanya tak pernah tahu, atau tak pernah mau tahu.”

Beberapa jenak mereka diam.

“Rien, percayakah kau akan sebuah reinkarnasi?”

“Itu pertanyaanmu ketika kelas satu SMA dulu. Waktu kau baru pindah.”

“Dan dari depan, kau pindah ke belakang duduk bersamaku.”

“Kau tentu ingat jawabku, kan?”

“Rien. Setelah aku terbunuh olehmu. Aku ingin menjelma jadi air. Mungkin merupa hujan. Berkumpul di atas kediamanmu dan menunggu untuk jatuh menghalangi agar kau tidak jadi pergi berkencan dengan seorang yang kau baru kenal lalu kau kira kau sedang mencintai, padahal kau hanya sedang jatuh cinta. Jika jatuh, aku ingin menjadi tetes yang paling betah tinggal di jendela kamarmu. Aku ingin menatapmu yang sedang menanggalkan pakaian dengan marah karena aku baru saja menyelamatkanmu dari seorang lelaki yang hanya ingin menelanjangimu. Atau jika aku tidak di lahirkan sebagai hujan, aku sangat ingin menjadi air mandimu yang terperangkap di ujung hidung mancungmu. Aku ingin di sana berlama-lama menatap bibir dan matamu sambil menghirup harum napasmu.
Atau barangkali aku ingin menjadi sinar. Aku ingin membangunkanmu di suatu pagi yang dingin, ketika kau akan bergelut malas, mencoba bersembunyi dari diriku di balik selimut dengan dengan sebuah erangan yang manja, namun aku akan menemukanmu di sana, aku akan mengecup keningmu dengan hangat. Atau mungkin aku akan lebih senang menjadi sinar layar gawaimu, agar aku dapat mengusap seluruh wajahmu dan tiba-tiba saja mati bilamana seorang lelaki yang menaksirmu mengirimimu rayuan-rayuan untuk menjatuhkan cintamu.
Aku ingin merupa gelap, dan kosong. Mungkin tak jauh beda dengan kertas yang dapat kau tuliskan dengan sajak-sajak cinta tak beralamat. Kau lupa, atau pura-pura lupa –seperti selalu, bahwa kau hanya ingin mencurahkan rasamu kepada kertas bisu itu. Aku berjingkat-jingkat kecil di sela-sela huruf yang terbelah dan rapuh. Aku selalu siap menangkap air matamu bila suatu kapan jatuh karena sajakmu sendiri. Dan ketika jadi gelap, aku akan ada di matamu ketika ia kau katupkan.
Aku juga ingin hidup keduaku menjadi sesuatu yang membuatmu kantuk. Aku ingin menjadi alasan agar kau tidur dengan nyenyak. Aku akan menghalau lelaki itu, tahukah kau ia menyamar jadi mimpimu agar ia dapat basah dalam mimpi kotornya? Akan kuhalau mimpi-mimpi baik dan menyisakan mimpi-mimpi buruk agar kau selalu waspada. Aku ingin jadi kewaspadaanmu, karena ialah sebaik-baik pelindung.”

“Aku ingat puisimu itu.”

“Puisi? Itulah kebenaran.”

“Memangnya apa yang lebih benar dari puisi? Mari pulang, Khazan...”

Rien ditemukan tiga hari kemudian. Ia baik-baik saja. Hanya terdapat tato di bagian belakang lengan kanan atas perempuan itu. Semacam beberapa huruf-huruf kuno yang tidak diketahui cara bacanya. Kepada seorang lelaki yang memeluknya ketika pertama kali ditemukan Rien bilang tulisan itu dibaca api dan cinta. Api yang membakar diri sendiri, dan cinta yang membunuh orang lain.

Lelaki pemeluk itu, ditemukan tewas terbakar.

Ada lelaki lain yang kembali hidup setelah jadi abu. Khazan dan Rien melangsungkan pernikahan di sebuah acara kremasi jenazah mereka sendiri. 
 — — — —

Makassar, 2015

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.