Kota Kantuk (Sebuah Kegelisahan dari Kampung)

Sepertinya benar apa yang dikatakan penyair yang mampu melihat hujan serupa gadis kecil berbaju lembayung itu, bahwa masa kita pulang ke kampung hanyalah untuk mendapati tanah asal kita itu makin jauh tergilas waktu. Sebab, apalagi yang kau harapkan dari sebuah kota yang tumbuh hanya untuk makin tidak mengenal siapa yang meninggalinya? Atau jangan-jangan penduduknya yang ternyata sudah semakin tua dan melupakan bahwa mereka masih memiliki kota sebagai tempat menyandarkan diri? Atau, kota atau kita sedang mengantuk?

Di perjalanan menuju bandara kemarin, saya sedikit berbincang dengan supir taksi yang saya gunakan jasanya. Dia bilang bahwa barangkali jalur normal ke bandara akan sedikit macet akibat adanya perbaikan jalan yang belum juga rampung-rampung. Saya katakan bahwa saya tidak tahu kapan batas proyek tersebut jatuh tempo, tetapi semoga saja tidak seperti proyek di sebuah jembatan yang tidak begitu jauh dari salah satu pusat perbelanjaan yang sudah terlambat beberapa bulan. Untuk yang terakhir itu, lucu sekali, sebab Walikota tempat saya merantau akhirnya turun ke lokasi proyek (yang di tepi jalan poros) dan marah-marah pada perusahaan pemenang tender proyek tersebut. Ah, Walikota, kenapa dia baru muncul hanya untuk marah-marah setelah banyak sekali keluhan dari warga atas jalanan yang macetnya kian hari kian parah akibat proyek yang terbengkalai itu, kenapa dia tidak muncul sejak awal-awal proyek tersebut telah menunjukkan keterlambatannya?

Saya seringkali bertanya, jika memang pemerintah dan perangkat-perangkat pemerintah itu adalah pelayanan masyarakat (saya lebih suka menyebut mereka sebagai pelayan daripada pemimpin. Agar mereka sadar bahwa tugas mereka melayani, bukan bertingkah sok kuasa), apa sih yang mereka sibukkkan sampai banyak sekali absen dalam setiap kesempatan rakyat membutuhkan mereka? Saya mengajukan pertanyaan demikian, sebab saya hanya melihat kemunculan mereka dalam beberapa momen saja; pertama, adalah ketika kampanye, mereka habis-habisan menipu, jelas sekali, tidak ada rakyat yang tidak setuju dengan statement itu -kecuali mereka yang pernah menjadi tim sukses atau sebagainya. Kedua, jika mereka muncul dalam rangka kunjungan kerja, menteri misalnya, maka yang paling mengherankan adalah warga yang menyambut mereka seperti menyambut Tomanurung(*) , padahal apa, sih? Mereka itu pelayan kita, biarkan saja mereka datang dan melihat kenyataan di lapangan yang menjadi tanggungjawabnya. Kehancuran negara ini memang bukan salah pemerintahnya saja, tetapi juga masyarakatnya yang bermental ganjil seperti itu. Tidak, kah, lebih baik memperlihatkan kenyataan, jujur, dan tidak perlu merenovasi sesuatu hingga menjadi rupa yang lain dan tidak seharusnya seperti itu? Atau kita juga memang betah saling membodohi? Ketika pemerintah datang, kita memperlihatkan banyak sekali hal-hal palsu dan mereka akan pura-pura tersenyum dan berterimakasih atas penyambutan itu. Banyak orang tidak sadar, siapa yang mereka sambut adalah siapa yang menggadai habis-habisan negerinya ini.

Sepanjang perjalanan hingga ke bandara kampung kita, saya memikirkan fenomena itu, kenapa warga negeri ini gemar sekali menyambut penipu? (jika seorang pemimpin tidak termasuk kategori penipu, maka dia tidak akan pernah berbangga -apalagi berbetah dengan penyambutan konyol yang kita lakukan). Ternyata jawabannya saya temukan di kampung, jawaban yang agaknya mengaminkan sajak penyair kita.

Banyak tenaga pengajar di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di kampung kita agaknya lebih pantas menjadi tentara daripada guru. Sebab, mereka suka metode gertak-menggertak -terutama guru pria, seolah-olah mereka bangga bila murid-murid ingusan itu tunduk kepada mereka karena takut. Tingkah yang seolah ingin menggambarkan bahwa guru semacam ini ingin menunjukkan siapa bosnya. Guru semacam ini kemudian akan memaksa muridnya untuk cerdas dalam definisi pemikiran yang seragam dan memalukan, persis nilai-nilai yang termuat dalam aturan cukur rambut di sekolah; seragam, tidak menyukai inovasi, dan secara nyata menolak perbedaan.

Masalah itu juga tidak lepas dari sistem pendidikan yang diterapkan negara. Seharusnya Menteri Pendidikan lebih sering berbincang dengan Ketua Komnas Perlindungan Anak. Tugas yang terlalu banyak di sekolah untuk anak usia bermain tak lain adalah upaya pencurian kebahagiaan masa kecil paling nyata yang dilakukan secara sistemik dan terencana. Sistem rangking-rangking itu, omong-kosong, hanya didikan agar kita terbiasa terpaku pada nilai, posisi, serta jabatan paling tinggi dengan menghalalkan segala cara.

Kenapa saya menyalahkan sekolah dan guru? Sebab mereka memang pantas disalahkan. Bukankah sekolah dan guru adalah rumah dan orang tua kedua? Bukankah pada mereka kita menghabiskan banyak sekali waktu? Guru itu bukan pahlawan tanpa tanda jasa, mereka memiliki tanda jasa. Jika tak percaya, tanyakanlah pada orang-orang besar dan hebat yang tidak suka korupsi itu, mereka adalah orang-orang yang selalu mengingat guru-guru yang membentuk mental mereka untuk menjadi demikian, hidup sebagai ingatan yang berharga bagi orang lain adalah tanda jasa yang lebih baik daripada digelari macam-macam.

Sedang guru-guru sok garang itu? Tidak ada ingatan tentangmu selain untuk jadi lelucon. Itulah kenyataan. Guru diingat bukan karena tangan besinya, guru diingat karena dedikasinya mencerdaskan kehidupan bangsanya. Dan siapapun yang terlibat atas hilangnya masa kecil anak-anak, atau yang memenuhinya dengan ketakutan-ketakutan, tidak pernah pantas menyandang gelar pahlawan, mereka lebih pantas digelari penjahat. Sebab tidak ada padanya niat mendidik, selain makan gaji dari pemerintah!
Saya sudah putus asa dengan pendidikan tingkat dasar sampai menengah bila dipenuhi guru-guru seperti itu. Agaknya kita masih sulit menerima kenyataan; puluhan tahun dididik dengan sistem dan gaya semacam ini hanya menjadikan kita masyarakat yang berbudaya menghargai seseorang oleh sebab posisinya bukan sebab apa yang dikerjakannya, yang membuat kita memandang bahwa hidup bukan lagi soal hidup itu sendiri, tetapi soal pencapaian-pencapaian untuk menumpuk kursi agar dapat duduk lebih tinggi daripada yang lain. Agar suatu hari ketika melakukan kunjungan kerja dapat disambut dengan berupa-rupa kepalsuan juga.

Tidak salah lagi, banyak kota di negeri kita menanggung kantuk yang tidak bisa lagi kita abaikan. Sebaiknya kita biarkan mereka tidur sejenak agar dapat dengan jelas melihat mimpinya. Agar ketika bangun, mereka setidaknya kembali memiliki harapan dan tahu apa yang mesti mereka lakukan. Dan ketika kota kita tidur, semoga kita tidak lagi berpura-pura menganggap kota kita sedang bangun dan baik-baik saja.


Bau Bau, 16 Maret 2016

Nb: (*)Orang yang turun dari langit dalam mitologi Sulawesi Selatan yang datang ketika kekacauan datang dan dinobatkan menjadi penguasa setempat karena mampu mendamaikan keadaan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.