Sebuah Terimakasih Kepadamu yang Pernah Berusaha Mecintaiku dengan Begitu Baik

Kepada Stephen Hawking dan mantan istrinya; Jane Hawking.

-

Aku mencintai musik tetapi tidak membutuhkannya untuk mengatakan aku cinta kamu;
Kau perca cahaya yang pecah di telingaku sebagai gelombang dan aku membutuhkanmu untuk tetap mencintai.

Kau sesuatu yang tidak memiliki nama, menanti kepalaku menemukan bahasa mengalir lepas seperti waktu yang mengalur lahir kembali hanya untuk memelukmu dua kali lagi; 
Masa sebelum manusia mengutuknya untuk jadi satu-satunya jalan panjang yang jauh dan tidak mengenal jalan pulang.

Ketika aku membicarakan tentang waktu, halus hilang ia lepas entah kemana. Sampai suatu ketika kaki dan jariku tidak lagi mampu sampai kepadamu, 
suaraku memutuskan mati dan cinta menolak jadi puisi.

Dan dadamu tergesa menggapai udara. pusaran antara waktu dan cinta menelanmu lekat. Tetapi bukankah demikian hukum keduanya?

Cinta satu-satunya perihal yang tahu jalan pulang waktu sebagai alamat yang selama ini dituju angan-angan yang tersesat di masa depan,

“Aku hanya arloji mati di lenganmu yang menolak berdetak kembali.”

— — — —

Makassar, 2016

Catatan: Saya menulis puisi ini setelah menontom film Theory of Everything.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fathul Karimul Khair’s story.