Bungkam

berganti malam, kita masih diam

Pagi terburu-buru sekali. Tidak kuasa ragaku hadir buat sekedar say hai!
Tidak ada lagi sajak yang terproduksi, sepertinya musim belum jua berganti. Hujan yang senantiasa mampir di sepanjang hari, tak mampu kutafsirkan sebagai inspirasi. Atau deretan kata yang bernilai fungsi, bukan sebatas bernilai seni. Hasil menyendiri dan bercengkerama dengan sepi, hasil telaah berlembar-lembar halaman yang kucumbui, hasil bercengkera dengan kawan diskusi, hasil berkeliling kesudut-sudut yang menyayat hati.
Kini kosong, tiada lagi.

Ini yang dulu aku takutkan. ketakutan karena terlalu sibuk menyendiri ditengah ramai. keramaian yang melenakan dan membutakan, pikiran juga hati. Hati pekat berlumur tinta kehidupan minim esensi. Esensi yang kadang tertutupi perayaan, pesta, gemerlap, tontonan, riuh, birahi, hahahihi. Hahahihi memang sebuah kebutuhan yang harusnya hadir entah berapa kadar. Kadar pun bukan sebuah ukuran utama. Keutamaan kembali kepada sendirinya memaknai seperti apa. Apa iya bungkus-bungkus gemerlap yang memabukan (pun juga yg mabok beneran) itu yang sejati?
Kurasa hari ini, itu yang dianggap iya. iya?
Bisa jadi.
Jadi gila.

Kita terlalu sibuk membicarakan hal-hal yang sangat tidak manfaat dan lupa membicarakan bagaimana masa depan bakal kita buat.
Kita terlalu sibuk berkoar tentang jumlah kehadiran, dan lupa hadir ketika permasalahan yang kita dididik untuk memecahkannya, datang.
Kita terlalu sibuk menonton hiburan, dan beralih channel ketika tangis dan haru miskin kota ditampilkan.
Kita terlalu sibuk dengan buku-buku, dan lupa untuk apa kita membaca dan menuntut ilmu.
Kita terlalu sibuk kawan, terlalu sibuk untuk sekedar mempertanyakan kehidupan.

Lalu kita bungkam, berharap hari berjalan seperti biasa.

Galih Norma Ramadhan
55, Sayap kanan serong kiri

*akhirnya membuahi, setelah sekian lama bermasturbasi menelantarkan draftdraft yang tak kuncung usai.