Goentoer

Terguyur, Tersungkur, Terbentur. Terbentuk!

padang ilalang, merah muda, semua!
Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)
Merantaulah…
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.
Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.
Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)
(Diwan al-Imam asy-Syafi’i)

Memulai

Manusia hanya bisa berencana, selebihnya kebanyakan jadi wacana. Banyak hal yang bisa terjadi dalam hitungan detik, seringkali hal-hal tidak terduga menjadi sandungan yang seketika merobohkan segala fondasi rencana yang telah kita susun. Lantas? Tentu kita diberikan pilihan, melihat sisi baik dan buruk tentu sebuah keharusan, selebihnya… bagaimana kita bersikap dan bersiap dengan resiko yang mungkin terjadi.

15.20
Awan gelap memayungi Bandung sore ini. Logistik sudah siap menjadi senjata kami untuk sampai kembali, pulang dengan selamat. Waktu sudah jauh meninggalkan rencana yang kami susun sebelumnya, mungkin apabila sesuai seharusnya, saat ini kami sudah berada di tenda, bersama perapian, kopi, dan tentu saja, langit sore yang perlahan menguning manja.

Dan kami berangkat!

Bersama Usamah Zaky (TK 14), Luthfi Naufan (EL 14), Muth Syaqoful (TK 14), dan Semangat Dimas Ihsan (OS 14) yang urung berangkat karena takdir berkata lain (ditunggu di puncak selanjutnya, bro!). Berboncengan berempat demi berhemat, meliuk ditengah padatnya lalu lintas Bandung menuju Cileunyi dimana ceck point pertama kami menanti.

Jalanan yang sudah tidak asing lagi dan identik dengan kemacetan, terlebih akhir pekan. Kian hari rasanya kian sesak, mobil pribadi kian marak, motor berseliweran mencari celah dan tidak jarang menabrak. Sementara itu… angkutan massal masih jauh dari kriteria layak. Rusak, sesak, walaupun damri sudah menambah awak, masih saja angkutan umum belum bisa menjadi pilihan khalayak.

Hampir satu jam, gerbang tol purbaleunyi menyapa dari kejauhan. Namun kami tidak kesana (jangan dipaksakan, kecuali ada jalur khusus sesuai PP No 44 tahun 2009 tentang motor masuk tol). Sejenak meregangkan pergelangan yang dari tadi sibuk mengerem mendadak mengantisipasi tertabrak. Sebelum kemudian mengalur bersama sederet kendaraan lain yang melewati kawasan industri Rancaekek, menuju Nagrek, sebelum kemudian berbelok ke kanan kearah Garut, tujuan kami.

Kami melaju cukup kencang, dan untungnya tidak disergap genangan air yang biasanya menyebabkan jalanan yang lebar terasa sempit sekaligus padat. Entah apa yang menyebabkan pembenahan jalan dengan meninggikan beton permukaan jalan tempo lalu tidak diikuti dengan drainase yang juga mulus dilewati air kiriman, dari langit. Apalagi sore hari, dimana hilir mudik buruh pagi yang entah baru pulang, jajan di pinggir jalan, atau baru datang mengisi shift malam. Minimnya penyeberangan dengan jaminan keselamatan kadang menjadi lahan bagi pekerja informal membantu siapa saja yang menyeberang, seligus menjadi pertanyaan kita bersama.. dimana petugas dan dimana jaminan rasa aman bagi pengendara?

Garut bukan Bogor, tapi mendadak langit yang sudah gelap malah makin pekat. Minimnya penerangan dan lubang yang kerap memecah sepi menjadi tantangan tersendiri. Titik-titik air yang menempel di kaca helm, lambat laun seolah bersatu membentuk garis yang mengiris lapisan kain yang menempel di tubuh, angin yang menerjang ditambah basah sempurna membentuk dingin memaksa kami menepi. Mempertebal nyali dengan ponco yang melingkupi diri, sebelum lanjut menuju awal perjalanan kami yang sebenarnya.

Menuju

Hujan masih menjadi topik perbincangan langit, satu dua kali bertambah gaduh dengan gemuruh, mungkin menjadi penggambaran apa yang terjadi di bumi.. kita terlalu sibuk dengan perselisihan, yang pada akhirnya berakhir dengan basah, airmata. Karena reda yang dinanti tak kunjung tiba, kami memutuskan untuk sejenak mempertebal nyali kembali, kali ini dengan berdoa pada yang Maha Kuasa.

Motor sudah terjejer rapi dengan belasan yang serupa di bangunan bambu yang kemudian tertutup rapat dengan gembok Bapak Penjaga, semoga setia menanti kami kembali. eaa. Mengecek lagi barang bawaan yang kami bawa dan untungnya hujan agak mereda, gerimis sebagai gantinya. Dewi fortuna masih menaungi kami nampaknya, Bapak penjaga memperkenalkan 2 pendaki lain yang sudah berkali-kali naik dan turun, berpengalaman lahh yaa. Tentu hal ini sebuah berkah, kami berempat yang masih buta, seperti apa medan yang bakal menanti berikutnya.. yaa agak sedikit lega karena peluang nyasar bisa diminimalkan.

18.40
Dari kejauhan nampak satu dua terang di kejauhan, tentu kami tidak sendiri, belasan motor yang terparkir tadi sebagai bukti. Langkah santai kami terhenti, pos registrasi membuat kami harus rela melepas selembar gocap, untuk berempat. Puncak tidak terlihat, sekeliling juga hanya menyisa bayang samar, langkah kami masih menapak batuan berukuran sedang yang merupakan jalur pertambangan pasir dan batuan di kaki Gunung Guntur ini.

Langkah kami mulai gontai. Anjay… (bukan semacam kudapan berbuka puasa), mas-mas yang mengkomandoi langkah kami berkaos run for Nepal. Meski mungkin hasil bergerilya di Pasar Cimol, sejenak menegaskan fisik kami yang belum begitu prima karena kurangnya asupan latian, sepertinya. Medan berganti dengan perdu agak tinggi yang menghalangi hujan mengguyut kami yang sudah kepalang basah ini. Masuk lebih dalam kami mulai menjejak akar-akar tanda keberadaan pepohonan. Di ujung kami menghela nafas sejenak, di pos 1 dengan gubuk-gubuk tempat jualan, yang tidak buka 24 jam. Menyeberangi kali dengan jembatan yang putus dihempas air gunung, kami mendapati medan yang agak wah, bebatuan… dengan kemiringan hampir tegak, kanan jurang yang menggertak, dan hujan yang derasnya sekencang jantung berdetak. Pos 2 bukan akhir dari tanjangan ini, masih berlanjut sampai jalur yang kami lewati keluar hutan dan disambut ilalang dikanan kiri. Sampai sorot hijau lampu laser, menjadi ujung perjalanan kami malam ini. 2 jam lebih kami lalui sebelum sampai di Pos 3 tempat kami bermalam sampai esok hari.

Menepi

Hujan yang enggan berhenti tidak menghalangi kami menyusun tenda sebagai rumah sementara. Sesekali sorot headlamp kami bertemu dengan hembus nafas yang menjadi kepulan asap pertanda mekanisme tubuh masih bekerja, menjaga kami pada suhu seharusnya. Satu persatu bagian terpasang, selesai dengan pasak yang tertancap di tanah, beberapa bengkok karena ternyata tanah hanya beberapa bagian, selebihnya mengantuk batu yang kami paksakan.

Peralatan dapur umum segera digelar. Menu malem ini sederhana: telor ceplok, abon instan, dan tentu santapan khas Indonesia, nasi (bukan rendang). Rasa jangan ditanya, mendadak kami serupa Pak Bondan yang merasa santapan terasa enak sangat, maknyus! Beranjak dari urusan perut kami berkumpul dan bercengkerama di perapian yang tersedia di dekat gubuk volunteer semi permanen. Malam kian hangat dengan langit yang tidak lagi kusam, gemerlap mulai nampak mengganti hujan yang mungkin bosan.

23.26
Kantuk mula mampir. Selepas menyusun rencana esok pagi, satu persatu mulai mendengkur. Sinyal juga masih sampai, mungkin sejenak menyempatkan untuk mengirim kabar buat yang menunggu entah di koordinat berapa. Hahai.

Memuncak?

04.40
Bersiap dengan satu tas daypack yang berisi jajanan, alat masak, 2 botol air, piranti dokumentasi, dan medik juga gas yang ternyata lupa terbawa. Dengan sorot senter yang sudah basah semalaman, kami mulai keluar dari area camp dan bertemu bidang miring setengah tegak, satu hal yang berbeda dari sebelumnya, berpasir. Ungkapan “maju dua langkah, mundur satu langkah” terbukti sudah. Bahkan kadang tanpa melangkah kami bisa tersungkur dan terperosok juga. Jujur saja medan ini amat menguji kesabaran, kami harus pandai-pandai memilih pijakan atau berpegangan pada ilalang merah muda yang tercerabut seketika.

Kami terus maju, dan beristirahat sekali waktu. Bukan lelah atau haus yang menjadi tantangan kami, namun kesabaran. Ujung bukit yang dari gelap tidak terlihat, perlahan mulai nampak diterpa mentari pagi yang malas dengan selimut kabutnya. Sejenak kami shalat subuh sebelum pagi benar-benar sempurna, memanjatkan bacaan terbaik dan doa terbaik demi menjaga suluh juang menuju puncak yang masih belum nampak. Dengan beralaskan pasir dan rerumputan, juga bidang miring di sekitar kami, tayamum dengan embun pagi, dengan hati-hati kami menghabiskan dua rakaat. Untungnya sampai selesai tidak terperosok.

Boleh saja kita sombong di awal perjalanan, merasa tujuan begitu mudah dicapai dengan perbekalan dan sederet pengalaman. Namun alam selalu punya kejutan, selalu punya cara nya sendiri untuk menegur kita yang seolah bisa segalanya. Dan ketika sombong kian memudar, hal yang penting bukan lagi mencapai tujuan, mencapai puncak-puncak kenikmatan, atau mencapai posisi-posisi strategis dan (seolah) berpengaruh buat membawa kebermanfaatan, lupakan segala pencapaian yang pernah mati-matian kita perjuangkan, yang tersisa hanya ruang buat rasa syukur bahwa kita pernah diberi kesempatan berusaha, kesempatan menyadari sebagai manusia yang tak (sejatinya) berdaya.

Dan yaa.. selebihnya hanya tipuan, begitupun puncak yang kami kira sudah kami jejaki. Ternyata masih jauh, masih 3 bukit pasir dan ilalang yang harus dicapai.

06.50

dari puncak bayangan 1 guntur

Surya tak kalah cepat meninggi, setelah mendiskusikan dan berakhir dengan voting dengan keputusan singgah dulu di bibir kawah purba Guntur (belok kiri dari puncak bayangan pertama) sebelum kemudian kembali bergulat dengan pasir menuju puncak 2.

kawah purba guntur?

Berjalan sekitar 20 menit kami tiba diarea kawah dengan gas uap air hangat yang menyembur di beberapa titiknya dan sinyal 3G yang ternyata masih dapat kami nikmati. Diameter kawah sekitar 200m (lebih sih), yang sudah ditumbuhi pohon-pohon bahkan sampai di dasar kawahnya.

mundur sedikit, tamat.

Melepas dahaga dengan mengguyur tenggorokan berbekal air yang kami bawa. Kami kembali ke puncak 1 dan tidak disangka bertemu dengan MasMas Cicalengka yang memandu kami sampai pos 3 malam sebelumnya.

Mas Bolang (kiri) dan Mas T, juga puncak 2 yang terlihat di kejauhan.

Perlahan kami mencapai puncak 2, pengalaman menuju puncak 1 sebelumnya sedikit banyak melatih kesabaran kami untuk kemudian diuji lagi di medan yang kurang lebih sama. Sama-sama melatih kesabaran.

puncak 3 dari puncak 2

Puncak 3 terlihat begitu jauh, surya yang merangkak naik ikut andil membakar sisa-sisa semangat kami, dan hasil pembakaran kalori pun mulai terasa, lemas. Kami berdiskusi kembali, awalnya tidak ada yang bergairah melanjutkan perjalanan, jengah dengan medan pasir yang tiada habisnya. Namun saya pribadi belum puas, belum klimaks. Nanggung.

Akhirnya, Muth menemani saya menuruni puncak 2, dan lanjut menanjak lagi ke puncak 3. Berbekal gula merah setengah potong yang tersisa dan air mineral sepertiga penuh, kami mengandalkan semangat yang tersisa, karena perut sudah mulai berontak dan langkah yang ikut lemas.

puncak 3, ujung kami.

Bebatuan yang ada di puncak 3 nampak berasap di beberapa titik. Bau belerang begitu menyengat, dan lembek di lubang-lubang yang menyemburkan gas tersebut. Dari sini, puncak 4 atau puncak sejati tertutup kabut yang tidak lama kemudian menutup total pemandangan dari puncak 3 ini. Karena khawatir kabut makin parah yang dapat membut kami tersesat kapan saja. Kami memutuskan kembali, ke puncak 2, sebelum kembali berempat ke titik camp untuk berleha, sejenak.

Take nothing but picture

Mengembali

Perjalan turun lebih cepat, setengah berlari dengan pasir yang kali ini seperti mengantarkan kami turun (atau mungkin mengusir kami secara halus). Satu langkah menjadi 2 langkah dengan pasir yang ikut longsor kebawah.

turun kebawah
bukit-bukit berisi pasir
siang gini liat pasir kaya liat kerikil yaa

09.10
Kebanyakan pendaki sudah puas sampai di puncak satu atau mungkin juga termakan omongan orang tentang tipuan puncak yang tiada habisnya. Sebelum ‘berlari’ kembali menuruni bukit pasir terakhir sebelum merengkuh hangatnya tenda, kami memeriksa kembali ikatan sepatu dan tak lupa mengeluarkan kerikil yang mengganjal di sudut-sudut sepatu, atau nyelip di sela-sela sendal bagi yang mengenakan. Dan kabut mulai naik bersamaan dengan kami melambaikan salam pamit.

dari puncak satu kabut silih berganti, berlalu
Cuma mau bilang kalo ini miring beneran
terik-terik apa yang bikin kangen? Terikngat kamu
kadang, tersungkur, terbentur!
lukisan Illahi penyulut kembali semangat kami
Banyak guntur di puncak guntur
cerdas tanpa etika, apa guna

10.20
Kami sampai di area camp pos 3 dalam 1 jam 10 menit. Hampir sepertiga dibanding jalur yang sama dengan arah sebaliknya. Segera kami membagi tugas untuk beberes tenda, memasak, mengambil air wudhu dan masak, serta membuat lubang sampah organik.

Beberes adalah penting untuk memastikan apa yang kami bawa naik, akan kami bawa turun kembali, terutama gear pendakian yang lumayan bila dinominalkan. Memasak tentu tak lain dan tak bukan untuk memastikan tubuh mendapat santapan jasmani yang cukup, juga biar perut tidak berdenyut sepanjang perjalanan pulang. Air wudhu tentu tidak kalah pentingnya untuk memastikan asupan rohani terjaga (tsahhh). Dan yaa, jangan lupa memastikan sisa makan Anda terkubur dengan layak, biar apa? Biar tenang di alam sana. Karena kebersihan sebagian dari iman dan dengan demikian kita turut menjaga lalat-lalat nakal tidak berseliweran, apalagi babi hutan yang berseliweran.

nasi, tempe, tahu, abon, INDOMIE!
nyam-nyam

Menyudahi?

12.30
Selesai menyatukan dan mereduksi 2 waktu shalat, 8 rakaat. Kami bergegas merapihkan kembali barang-barang yang sebenarnya sudah rapih, sekedar memastikan untuk terakhir kali. Berpamitan dengan mas-mas volunteer di tenda pos 3, lalu kami siap melawan terik.

rupa gerbang pos 3

Medan yang kami temput sama dengan yang dilalui semalaman bersama hujan. Secara sense kami sudah bisa menduga bagaimana rupa trek turun nanti, tapi secara rupa belantara seperti apa yang ada dibawah, kami tidak cukup tahu. Karena semalam temaram Kota Garut menjadi satu-satunya terang, di belakang.

ilalang dengan garut menanti didepan

Trek yang cukup landai menyambut kami, ditambah terik yang sebegitunya. Ilalang di sekujur jalur, beberapa titik longsor karena di kiri arah turun merupakan aliran air.

masuk pintu hutan, pintu hatimu kapan?

Trek berganti tanah sempurna ditambah berkah payung alam yang mencegah terik menerpa sempurna. Beberapa akar ikut andil menjadi pijakan di sepanjang jalan. Trek baru menyambut kami, turunan batu.

semalam hujan, keatas sana

Sudut kemiringan berubah drastis. Sekitar 60 derajat jauh lebih miring dari derajat shalat berjamaah. Beberapa titik bahkan sampai 70 lebih sepertinya. Pantas saja semalam, selain licin, nafas tidak kuasa menahan bunyi terengah panjang lengkap dengan asap yang melintas di penerangan, hasil metabolisme yang dipaksakan.

pos 2 tanpa tanda

Turunan nan curam ini membawa kami sampai pos 2, tapi bukan berakhir disini. Baru setengah jalan kira-kira. Dari pos 2 dengan lapang dada kita bisa melihat kota garut di kejauhan, nyaris tanpa penghalang. Di beberapa titik juga banyak jalan yang ditutup, longsor sepertinya.

jangan coba-coba
berpapasan dengan pendaki lain, siapa tahu jodoh
saya prihatin
maju terus mundur pantang
jembatan putus, kamu kapan?
alon-alon asal kelakon

Pos 1 adalah adalah jajaran gubuk kayu dan beberapa kursi sebagai sandaran. Tidak terlalu ramai karena mungkin bukan akhir pekan dan libur panjang. Dengan terik seaduh ini tentu menggoda siapa saja yang lewat dan mampir beristirahat. Apalagi yang dalam perjalanan naik, sayang untuk tidak mencoba menu alakadarnya namun nikmatnya jangan ditanya (karena saya belum mencoba sejujurnya). Yang cukup menarik adalah menu es buah yang sekelebat melihat saja sudah membuat langkah makin lemas ketika beranjak dari satu gubuk ke gubuk lainnya.

Sepanjang pos satu kami disuguhi deburan sungai yang begitu deras, karena memang jalur yang kami lewati berada disebelah sungai. Beberapa titik bahkan menunjukan sisa longsoran dibantaran sungai, mungkin gubuk kayu yang ada harus berada agak jauh dari sempadan sungai. Tentu tidak ada yang mau sedang ngaso dan njajan lantas tiba-tiba terbawa air kiriman yang bisa deras sewaktu-waktu. Bahkan jalur yang memotong sungai juga ada yang putus, sehingga mau harus mau kami menyeberang dengan merelakan alas kaki basah tergenang, karena lompat bukan pilihan bijak.

Lanjut?

karena hidup harus ada pegangan

Keluar dari deretan warung penjaja yang menggoda, kami tiba di hutan perdu yang rindang. Di beberapa jalur sudah ada tangga berundak, lengkap dengan pegangan di salah satu sisinya. Dari sini jalan diikuti pipa air yang mengalirkan sumber air bersih warga di kaki gunung, yang menemani kami menuju basecamp di bawah juga tentunya.

tiada hutan terik pun menjadi

Keluar dari hutan, terik lagi-lagi menyergap kami. Kali ini trek yang menyambut adalah kombinasi tanah kering, kerikil, dan keduanya. Trek yang ada lumayan lapang, beberapa bahkan bercabang. Untuk menandai mana jalan yang benar cukup mudah, hanya dengan kembali ke jalur yang benar apabila salah. Pipa-pipa air akan menunjukan jalan, percayalah.

pipa aja bisa bocor apalagi rahasia negara, ehh

Makin kebawah, banyak pipa warga yang menyemburkan air. Bocor atau mungkin malah sengaja dilubangi? Entah.

tambang pasir, hutan tersingkir

Di penghujung jalan berpasir ini terdapat alat-alat berat yang ketika kami sambangi sedang tidak beroperasi. Tidak nampak juga pekerja yang berseliweran, pun semalam ketika kami lewat. Di kaki Gunung Guntur ini memang banyak bukit-bukit batu dan kawah-kawah sisa penambangan pasir. Menurut beberapa cerita, dulunya beberapa air terjun masih ada sebelum tambang-tambang macam ini mulai menggila. Sebuah pelajaran tentunya.

tidak ada yang gratis, apalagi pendidikan tinggi, ehh

Perjalanan turun kami sampai di ujung. Pos pendaftaran terlihat di pinggir jalur. Lantas kami berleha sejenak ditemani segelas es jeruk yang nikmatnya sungguh kelewatan. Membayar mahar goceng saja untuk penginapan motor kami yang terlindung dari panas dan hujan.

Puncak Guntur makin menjauh, tapi tetap lekat di angan. Namun kami belum benar-benar pulang.

15.00
Bandung kekiri, Kota Garut kekanan. Kami memilih berhalauan kanan, kali ini. Bukan untuk menambah beban pulang dengan menimbun dodol garut atau choco*dot yang legit itu.

Guntur belum benar-benar usai. Selain memiliki panorama aduhai, Guntur memiliki potensi alam lain yang sayang sekali untuk dilewati. Cipanas, sumber air panas yang letaknya tak jauh dari jalur pendakian kami. Sedikit menuju ke arah kota, sebelum sampai bunderan alun-alun Tarogong belok ke kanan. Biar mudah dan tidak salah, ikuti saja angkot trayek cipanas-terminal guntur (kalau tidak salah, ya benar).

Deretan penginapan dan pemandian berjajar beradu paket yang memanjakan. Kami melewati satu persatu sampai tiba di ujung gang, apalagi kalau bukan mencari alternatif yang paling murah. Dan sialnya sedang meriah.

Angkot-angkot yang terparkir ternyata bukan sembarang parkir, dari luar terdengar riuh, namun tidak menyurutkan niat kami (karena kantong tidak lagi terlalu berani). Ternyata benar, kami baru ingat kalau ini akhir semester sekolah. Anak-anak tanggung dan yang lebih kecil lagi begitu berisik, sangat. Tingkat occupansy tidak bisa dikatakan rendah, berlebih malah.

Yasudah. Kami tetap merebahkan kaki, lalu pinggang, pelan-pelan sampai leher, sampai akhirnya semua tercelup juga. Bagaimanapun badan perlu penyesuaian, aklimatisasi, adaptasi, asupan gizi, siraman rohani, ipk tinggi, perhatian doi, yaa ngga sih?

Seketika pegal dan lelah yang terasa tetap tidak hilang, namun air panas cipanas tetap memberi sensasi tersendiri. Seakan tangan-tangan ikut memicit perlahan, terasa hingga sendi. Bagaimanapun nikmatnya, kami tidak boleh lupa, karena kenikmatan sebenarnya adalah ketika kami sampai di Bandung kembali, dengan selamat, dengan setumpuk cerita, dan dengan pembelajaran tak terkira. Teriring doa, semoga caheum tidak macet teramat gila.

Pulang, dan pergi kemana saja lain kali, ambil hikmah dari penjuru pertiwi dan bumi illahi, untuk kemudian kembali, kembali menjadi pribadi yang tidak biasa-biasa lagi.

Meng’ibroh’

Dini hari selalu berkisah tentang sepi. Seringkali kita terlarut dalam keramaian keseharian. Dunia sudah benar-benar gaduh, mungkin sebentar lagi menemui ujung. Bumi pertiwi selalu memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin keluar dari rutinitas, keluar dari sangkar emas kenyamanan.

Karena dengan sepi kita diajarkan untuk merenungkan kembali.
Dengan berada tak tentu rimba, adalah saat dimana kita tak bisa jumawa.
Karena dengan sepi kita diajarkan untuk tidak merasa paling tinggi.
Demi apapun, alam akan menunjukan siapa sebenarnya diri kita.

Karena Tuhan bersama para pemberani

Masih banyak tanah pertiwi yang layak untuk dicari arti
Masih banyak puncak tak musti tinggi yang layak jadi tempat refleksi kembali
Masih banyak sudut kota yang kadang terlewat dari pengamatan kita
Masih banyak kawan, dan sayang untuk dilewatkan…
tanpa sempat kita “tengaktengok” dan ceritakan :)

Untuk Para Petualang, Pencari Makna Kehidupan
Catatan pencarian, 
Gunung Guntur, 26–27.5.16
Galih Norma Ramadhan
Pemain Tunggal

#TengakTengokKotaKita
#3
#LiburanBarokah