Kaki Malam

Hitam terlanjur pekat diselimuti kemelut kabut yang hinggap di sepertiga gemintang. Kusaksikan dengan penuh harap satu persatu suara ditelan lenyap. Tanpa seduhan hangat pengantar senyap, kucumbu garis waktu ditengah sumbu peredaran lintas ilmu.

Sebelum kemudian sadar menyapa daku, “wahai dikau, jangan berharap pada mereka, berharap saja pada segenap daya disertai restu semesta”.

Berjalan pada sebuah lajur bertabur persimpangan. Menengok kemana arahnya, menerka dimana ujungnya, meyakinkan langkah yang (semoga) tak kunjung (di)cidera(i). Semesta sudah menggariskan, bahwa kuasa kita hanya berupaya, berupaya, berupaya. Meski ujung itu tak nampak, dan sekalipun fana.

Betapa iri raga dan kewarasan ini, pada siapapun yang lurus tanpa cela. Semudah membalik perahu Sangkuriang, jadilah Tangkuban. Begitu pula kuasa menghampiri siapa saja yang menyerahkan diri pada keteraturan, alur yang diskenariokan. Tanpa perlu terpenjara oleh sepi, oleh kesendirian tanpa sisi.

Ahh, biar saja. Tentu semesta selalu punya mekanisme sendiri, untuk tetap berada pada titik ekuilibrium-nya. Jadi mengapa kita masih enggan menerima?

kaki malam,
diantara perjalanan tanpa purnama, entah yang keberapa. Semoga yang disemogakan tetap diteguhkan. Walau pada akhirnya hanya disokong pilar rapuh nan usang.

Keluarga dimanapun berada (dan berkarya),
25.02.16
Galih Norma
Penggembira yang tak kunjung gembira.