Kepada Malam

Malam ini aku ingin terjaga, bersama senandung pilu lagi nestapa. Bercerita tentang tanah bencana, mengemuka dengan gelimpang badan tanpa nyawa, menyayat kalbu dengan fasisme tuan-tuan kota, merebut tanah dan sumberdaya. Aku juga mendengar siaran peringatan, satu dua tiga sampai rata akhirnya. Dan kabar tentang setingan media, batu loncatan buat memberangus Perda, apa kabarnya?

Malam ini aku ingin terjaga, bersama tawa dan amarah. Tak terasa kita telah keluar dari tanah suci. Disana hidup laiknya surgawi, ideal hampir-hampir tanpa cela, bila tanpa aku tentunya. Siapa sangka, satu persatu menghitung tangga wibawanya. Aku tidak benar-benar paham mengapa, yang jelas mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki tekad baja, selalu menolak nyaman duduk di teras rumahNya, saja. Banyak api yang musti dipadamkan, banyak tanah yang masih kering kerontang, dan banyak mulut-mulut belaga pintar yang musti dibungkam. Dengan teladan bukan bualan.

Malam ini aku ingin terjaga. Dengan kopi yang kutanam sendiri. Dari bibit kasih sayang, yang kusiram dengan tangis dan keringat. Yang kupupuk dengan harap dan doa. Yang kupanen dengan tangan menengadah. Kemudian aku olah sedemikian rupa dengan perantara tulus ikhlas. Kuseduh pelan dengan senyum paling sengaja. Lalu keteguk perlahan sampai habis rindu yang menggebu. Sial.

Malam ini aku ingin terjaga. Dengan belai dan pintu yang terkunci. Obrolan santai penghangat dini hari. Berkisah tentang hari-hari yang sudah sedang akan ditapaki. Ahh, bukankah hadirmu selalu saja istimewa. Izinkan ku untuk berbaring bersama sepi sampai esok keberapa, kala waktu mengijinkan kita bersitatap dan bersidekap, hangat.

Malam ini aku ingin terjaga. Siapa yang tidak bahagian, atau minimla pura-pura demikian. Menyambut bulan kemenangan, tanpa lulus apa yang dilawan. Sudah berapa lembar firman yang terbaca, sudah berapa sujud berurai air mata. Sudah berapa rupiah yang dinafkahkan dijalanNya. Sudah apa? Duh Gusti paringono mercy.

Semoga malam mengizinkan, dengan perantara gerimis yang bisa membesar kapan saja, bukankah tanah-tanah itu butuh hasil tanam, tapi kumohonkan jangan berubah jadi bah. Dengan perantara angin yang semilir menyejukan, tapi kusemogakan tidak memporak-porandakan. Dengan perantara makhluk yang semoga membesarkan hati, bukan justru menciderai.

Aminn.