Mono-lo-gue, Mencari Jerami Dalam Rerimbun Duri

Sebuah Catatan, Refleksi, dan koreksi.

“Hanya ada satu angkatan yang pantas menjadi angkatanku. Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku.”
~Hatta-edited~

Aku selalu merindu senja.
Mau bagaimanapun corak maupun sejingga apapun cahyanya.
Terserah.
Yang menarik adalah bagaimana kita menanti, bagaimana kita mengisi tiap detik menjelang datangnya, meski hanya terhenyak menghitung detiknya.

Apa peduli kita? Toh sehabis senja, kelam datang membawa pekat, membunuh semangat. Ia datang membawa serta ketidakberdayaan, masing-masing pulang dan mencoba beristirahat, selepas berlumur peluh seharian.
Bagiku tak sesederhana itu.
Justru senja adalah refleksi, adalah kesempatan untuk mawas diri.

Sudahkah kita mengenal, dan bersiap akan bagaimana esok kan menjelang?
Sudahkah deras keringat kita sepadan, dengan ekspektasi dan pencapaian yang kita dambakan?
Sudahkah kita terbebas dari ketakutan, dan adil sejak dalam pikiran?
Sudahkah kita tahu, siapa diri kita?
Ahh, sudah lah.

Omong kosong! Ini bukan petuah, sebatas gurauan yang mengada-ada, sebatas prasangka yang menduga-duga.
Hmm… sudah kuduga.

Namun aku mencatatnya. Mencatat senja yang kuhabiskan dalam pertemuan.
Aku kesal, geram, dan terbahak.
Ketika langit mendadak gulita dan tawa mulai sirna.
Ketika senyap hinggap menyergap dan sendu datang menggurita.
Sementara mereka sibuk mengorek dosa, dan kita sibuk membuang muka, takut-takut nista terbuka.
Toh, Tuhanmu saja menutupnya, buat apa diumbar segala?

Sering kali jumlah menjadi acuan. Tak salah memang, tapi tak sepenuhnya benar. Yaa setidaknya ada ukuran, ada standart baku yang universal. Toh, kehadiran membuka kesempatan, setidaknya bertambah kebingungan. Tak apa, artinya wawasan tidak selintas lalu, tak sekedar singgah sejenak, ketika kebingungan merupakan representasi keingintahuan. Paling hina pun, se-iya-nya kita tahu tak perlu bersusah membuat narasi dua lembar.
Seperti jamaah taraweh yang kian hari kian maju kedepan, begitulah statistik berkata.
Belenggu baru diciptakan.
Beberapa gemas, sambil meremas, tentu tak sambil keramas. Mempersulit diri sendiri, secara sadar kita sepakat untuk disadarkan, akan pentingnya sebuah keseriusan, sebuah komitmen. Karena ciri mereka yang dewasa adalah konsisten dan konsekuen pada komitmen yang dipilih, yang diimani.

“Jika ingin cepat maka berjalanlah sendiri, jika ingin cepat dan jauh maka pakailah jasa kereta, jika ingin cepat, jauh, dan pasti dapat maka pakai kendaraan pribadi”
-ngasalsumvah-

Aku (mencoba) ingat bagaimana senja di Tanah Abang, bukan pasar tapi stasiun. Bagaimana mereka berlari kecil, atau setidaknya berjalan cepat, sesaat setelah kereta baru nampak sorot lampunya. Bagaimana mereka berebut, saling sikut, saling peduli tapi pada dirinya sendiri.
Beberapa berleha, duduk pada sandaran sofa, meski agak keras busanya. Beberapa mendesah, mengaitkan jemari pada lubang kasat mata, menggelantungkan diri. Beberapa diam, tanpa pegangan, terombang-ambing diantara bahu yang mendapat kesempatan mengukuhkan posisi dengan tangan mengait pegangan.
Beberapa mengumpat, kesal tak kebagian tempat. *bahkansekedarmasuk
Sudah kubilangkan, bila ingin dapat pakailah milik pribadi, persetan dengan orang lain, yang penting sampai cepat dan tepat, toh?
Sendiri memang bisa, bersama bikin repot saja. HAHA.
Sendirilah karna itu pilihan, tetapi jangan sampai ada kesendirian karena pembiaran, tak berkesempatan untuk bersama, meski pahit rasanya.

Terkadang kita merasa, iya merasa. Bahwa kepedulian diukur dari apa yang kita beri, kita korbankan. hah, benarkah?
Aku setuju, sekaligus tidak.
Kontribusi, sebuah kata yang diidentikan dengan kepedulian. Semakin banyak kontribusi yang dicurahkan, semakin berpeluang Anda dilabeli bahwa anda peduli. Dalam prosesnya, mereka yang telah dilabeli sebagai oknum-oknum bergelar “yang peduli” menimbulkan implikasi baru yakni munculnya kelas sosial (yang tentu dianggap minor), let’s say mereka yang bergelar “yang tidak peduli”. Duh, sebegitu mudahnya mengeneralisasi.
Padahal kalau kita tilik lebih jauh, apa benar rasa peduli sesederhana itu teridentifiksi? terklarifikasi? tervalidasi? terklasifikasi? tergrorifikasi?
Suudzon-ku, bisa saja mereka yang melabeli atau ingin dilabeli sebagai “Yang peduli” dan melabeli selainnya “yang tidak peduli”. Jika keserakahan akan rasa peduli ini benar adanya, apa bedanya ia dengan modal yang dikapitalkan, dan dikuasai segelintir orang?
Duh, ingat kembali, ingat kan lagi, bukankah kepedulian ini milik kita, lantas buat apa dimiliki sendiri? Mengapa tidak mau berbagi? tidak mau percaya? Aku (tak) tahu.
Harusnya yang punya mengayom yang tak berpunya, dan yang tak berpunya mengupayakan turut berpunya, saling menumbuhkan kepedulian, mungkin.

“Jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu.”
-Sujiwo Tejo-

Camkan baik-buruk!
Karena aku tak yakin ini benar-benar baik, atau malah benar-benar buruk.
Atau tak berarti, samsek.
Mono-lo-gue.
satu-kamu-aku. Ini bukan tentang kamu, apalagi tentang aku.
Karena ini tentang kita. Kita satu, Kita Tunggal!

Panjang umur, (isi sendiri)…

masgal

Penulis adalah manusia yang bergelimang dosa (bukan harta), tengah menempuh pendidikan tinggi di Institut (katanya) Terbaek Bangsa, dengan sokongan duit rakyat yang mungkin juga tak seberuntung silsilahnya.

Like what you read? Give Galih Norma Ramadhan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.