Selepas Kelas Pagi Menghempas Kembali

Hari pertama kuliah dan kelas pagi adalah perwujudan sempurna dari sudah jatuh tertimpa tangga. Bila tidak boleh berdusta harusnya ini semester ke-29 (bagi saya) dalam rentang pendidikan formal yang akan kembali menyulut berbagai pertanyaan-pertanyaan, memgerami cangkang pengetahuan, menenggelamkan diri dalam pelbagai emosi yang itu-itu saja: senang, sedih, tangis, haru, sesal, lelah, lemas, tetih, lesu, lunglai, mungkin gejala… malas, malas, malas. Atau semua bakal kembali terlewat begitu saja, kecuali rindu tentunya.

Semester baru juga menjadi bentuk kongret dari frasa menulis lembar hidup yang baru, tentu bukan dalam artian sempit buku dan alat tulis di semester baru dengan kutipan pengalaman adalah guru terbaik itu. Dalam lembar-lembar berikutnya kita yang menentukan sendiri siapa saja tokoh utama, bagaimana alurnya, tinggi-rendah temponya, satu-dua kejutan (konflik) yang mungkin sudah kita duga, tentu masing-masing dengan jumlah lembar yang sama, namun dengan ending yang belum tentu serupa.

Orang bilang impresi sebegitu pentingnya, bahkan ada yang ‘mengorbankan’ ratusan bahkan ribuan bibit sawi buat sekedar memperoleh rekor muri. Semoga angin membawa kabar palsu, aminn.
 Ada sisi lain impresi yang kadang kita abai, ia tidak melulu soal bagaimana si ‘pemberi’ menunjukan kita kesan pertama. Apakah ia menyenangkan atau membosankan, bagaimana ia menjelaskan silabus dan system penilaian, dan yang paling penting adalah apakah ia memperdulikan absensi atau tidak.

Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita sendiri menciptakan impresi itu, katakanlah langkah awal yang bakal menjadi penanda. Apakah kita bangun pagi atau terlambat lagi, apakah kita memperhatikan atau ketiduran, apakah kita mencatat atau malah nge-chat, dan seterusnya serta sebagainya. Memang tidak selalu linear, tapi salahkah bila niat baik kita sandingkan dengan impresi terbaik? Asal jangan lupa konsistensi terbaik, tentang bagaimana minggu-minggu kedepannya, bagaimana kita menulis sejarah kita sendiri, apakah sama dengan nasib ribuan sawi rekor muri?


Homo socius-homo economicus-homo homini lupus. Meski tidak selalu, tapi seringnya begitu. Coba tengok manusia-manusia di sekeliling kita, tanagn-tangan yang mencatat atau menyangga kepala sebelum terantuk meja, kepala-kepala yang mendongak atau tertunduk malas sedemikian rupa, mata-mata yang berbinar penuh tanda tanya, ingin tahu, penuh mimpi, meski malu-malu mengacungkan jemari.

Kita tidak pernah benar-benar sendiri, leterally. Namun tidak juga benar-benar terjalin secara ikatan komunal. Hari ini serba untung rugi, tidak salah sekaligus seringkali tidak benar. Wajar bila kita ingin ‘mendapat’ nilai tambah, namun kurang ajar bila tidak balik menunaikan kewajiban. Pada ujungnya kita hanya akan menjadi kanibal, bukan lagi memakan daging segar atau bangkai saudara sendiri, lebih menjijikannya kita sudah menghilangkan kemanusiaan, dengan tidak memanusiakan selain kita, dengan berorientasi pada kepuasan dan ambisi tak hingga masing-masing. Bersyukurlah mereka yang ikhlas lagi peduli.


Akan ada generasi-generasi baru, ada yang ditipu dan ada yang menipu diri sendiri.
Akan ada pembual-pembual baru, yang bermimpi tentang posisi, yang bergincu cv, yang hanya sibuk membangun rumah ber-genteng emas namun ber-tiang lidi.
Akan ada perayaan-perayaan baru, entah itu internalisasi, entah itu apresiasi, entah itu eksistensi, dengan taruhan gengsi dan harga diri, didukung kongsi sendiri sedang kongsi lain membelakangi.

Yakinlah tetap ada, pembangkan-pembangkan baru, yang masih mengeja gejala-gejala yang ada, yang sibuk menerjemahkan satu dua realita, yang memilih menjadi pembeda. Semoga.


Dan yang harus dicatat bersama, sungguh tidak boleh tidak. Adalah kita harus kembali mengingat pesan Rendra.
Apakah papan tulis di kelas pagi ini masih terpisah dari persoalan sebenarnya.
Sudahkah kita turun sendiri melihat gejala dan menerjemahkan realita. Atau kita masih pasrah dan enggan mengakui, bahwa hari ini kita masih membeli rumus-rumus asing dan bukan membuat sendiri metode yang cocok dengan permasalahan lingkungan.

Ada yang setuju? Tidak apa-apa :)

Bandung, Kelas Pertama Semester Yang Mula
22.08.16
Galih Norma
Pengamat Ter-Belakang