
Penanda Kehilangan
Tak ada yang lebih menyesakkan selain perpisahan yang tak menyertakan ucapan selamat tinggal. Tak ada yang lebih mengerikan dari kesetiaan yang dibalas penghianatan.
Kita pernah berjalan-jalan ke taman kota. Kaupetik setangkai anyelir yang tumbuh di kiri kanan jalan yang kita lewati, kauulurkan padaku dengan senyum merekah seindah suasana musim semi.
“Ini untukmu, semoga rasa yang tersemat di bilik kiri dada tak kalah rimbun dengan rumpun anyelir yang berjajar.”
Aku tersipu, rona merah memulas sepasang pipi. Kubawa bunga pemberianmu dengan tangan kanan yang kudekatkan ke jantung; agar detak di dalamnya mengingat selekat mungkin kenangan itu. Sesampai rumah, kuletakkan ia di sebuah vas yang kuisi air agar kelopak-kelopaknya tak layu. Detik, menit, jam, hari berganti. Kelopak indah bunga anyelir itu mulai mengering, lalu jatuh satu persatu ke lantai. Kupunguti serakannya dan kutaruh di halaman tengah sebuah buku bersampul pastel; rekam jejak kisah kita sejak awal kebersamaan.
Lalu kaupergi. Tanpa pesan, tanpa ucapan selamat tinggal. Kurasakan waktuku menjelma paku menusuk-nusuk seluruh persendian. Setiap malam, mata memejam tak mampu, membukanya terasa ngilu.
Begitu kujalani hari-hari dengan penantian akan kembalimu, entah berapa lama aku tak mampu mengingatnya. Hingga akhirnya burung-burung prenjak yang terbang ke atap rumah membawa getir maklumat tentangmu; kau telah menemukan separuh jiwa selainku. Seluruh bagian dari istana yang kubangun sekian lama di taman jiwa dengan engkau sebagai satu-satunya raja yang bertahta runtuh seketika. Kakiku tak mampu lagi menjejak menghadapi kenyataan yang terbentang di hadapan.
Sukmaku ikut layu, perasaanku ikut mati bersama helai-helai anyelir yang hingga kini menguning garing-hampir hancur-di halaman tengah bukuku. Seolah menjadi penanda bahwa kau pernah kucintai dengan segala dan membalasnya dengan penghianatan paling nyeri.
Aku akan tetap menyimpannya sebagai pengingat yang mengandung pembelajaran, bahwa mencintai seseorang tak boleh dibiarkan sepenuh hati agar saat pergi meninggalkan aku tak jadi pesakitan; jiwa maupun raga.