Ada anak bertanya pada bapaknya

Sewaktu saya makan pecel lele dekat kosan beberapa hari yang lalu, ada seorang anak yang bertanya pada bapaknya, “Pak…siapa presiden Amerika?”.

“Donald Trump.” Jawab si bapak.

Sambil mengunyah ikan lele dengan lahap, si anak bertanya lagi, “Donald Trump suka makan pecel lele nggak pak?”

Mendengar pertanyaan si anak, bapak tersebut diam sebentar dan menjawab, “Kamu tuh jangan nanya yang aneh-aneh, dia kan orang Amerika mana suka makanan kayak ginian, sudah kalo makan jangan sambil ngomong, abisin dulu makananmu”

Kemudian si anak terdiam dan melanjutkan makanannya sampai habis. Tak lama setelah itu mereka tampak sudah selesai makan dan meninggalkan warung pecel lele tersebut.

Pertanyaan si anak terus terngiang-ngiang di kepala saya dan membuat penasaran. “Apakah Donald Trump suka makan pecel lele?”. Saya nggak setuju sama jawaban si bapak. Karena jika harus dijawab sekarang juga maka jawabannya antara mungkin suka atau mungkin nggak suka. Lebih dari itu, kita harus tahu dulu apakah Donald Trump udah pernah makan pecel lele atau belum. Ngeliat dia tinggal di Amrik dan di sana sulit ditemuin warung pecel lele jadi kemungkinan besar Donald Trump belum pernah makan pecel lele (tapi mungkin juga udah, kali aja dia pernah makan pecel lele pas mampir ke restoran Indonesia di sana.). Nah selama dia belum pernah makan pecel lele, nggak akan ada jawaban pasti apakah dia suka atau nggak sama makanan yang banyak dijual sama perantau asal Lamongan tersebut.

Sebenernya sih pertanyaan bocah tadi soal apakah Donald Trump suka makan pecel lele atau enggak sama seperti pertanyaan yang kita ajukan ke diri kita sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang cuma bisa dijawab dengan “mungkin” sampai kita bener-bener ngelakuin, semisal mau bikin usaha sendiri muncul pertanyaan “bakal sukses nggak ya?” atau suka sama cewek terus muncul pertanyaan “dia suka sama aku juga nggak ya?”, tapi sayangnya kita sering menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang terlalu dini seperti yang dilakukan si bapak tadi (biasanya sih ditambahi segudang excuse.) dan berakhir nggak ngelakuin apa-apa.

Padahal kan selama masih berupa kemungkinan kenapa harus mundur duluan? Ya enggak?

Enggak juga nggak papa.