Apa itu Waktu?

Waktu adalah kehidupan yang membentang antara kehidupan dan kematian. Maka waktu itu adalah kehidupan itu sendiri. Kata seorang ulama, manusia adalah kumpulan dari puzzle2 waktu, jika waktu itu telah hilang atau berlalu, maka hilanglah pula sebagian dari diri manusia itu sendiri
Waktu tidak akan pernah kembali, walau sampai hari kiamat nanti.

Sebagaimana Imam Al-Ghazali pernah menasehatkan kepada murid2nya tentang sesuatu yang paling jauh, yaitu waktu yang telah berlalu karena ia tidak akan pernah kembali sampai hari akhir nanti
Waktu adalah hal yg sangat urgent dalam kehidupan manusia, sampai2 Allah SWT bersumpah dg bberapa nama waktu, diantaranya: Wal’ashri (demi masa), wadhdhuhaa (demi waktu dhuha), wallaili idzaa yaghsyaa (demi malam apabila menutupinya) dll. Ini menunjukkan bahwa waktu merupakan hal yang sangat penting untuk kehidupan manusia

Waktu bagi seorang hamba adalah umur yang Allah rezekikan kepadanya. Kata Rasulullah, umur ummat Rasulullah adalah 60–70 tahun, dan hanya sedikit yang lebih dari itu. Umur manusia itu berbeda-beda, sehingga secara kuantitas barangkali ada yang beramal lebih banyak dari yang lainnya. Akan tetapi Allah Maha Adil, yang Dia nilai bukan banyak sedikitnya amal, akan tetapi rasio antara umur yang diberikan dengan amal yang dilakukan. Allah berfirman, “yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya (ahsanu amala)” (Al-Mulk: 2). Maka, sangat memungkinkan orang yang umurnya pendek tapi amalnya berkualitas. Umur yang panjang juga tentunya punya peluang untuk memasukkan seseorang ke surga, karena semakin banyak dia beramal maka semakin banyak probabilitas amal2nya yang berkualitas. Poinnya adalah sama, yaitu sejauh mana seseorang memanfaatkan waktu dia miliki untuk beribadah kepada Allah

Mari kita renungkan berapa banyak umur yang kita miliki yang sudah digunakan untuk beribadah kepada Allah. Ingat bahwa dunia ini singkat, dan akhirat kekal abadi. Kalau mau hitung-hitungan, berarti satu detik di dunia ini sebanding dengan sekian tahun atau mungkin sekian ratus tahun di akhirat. Maka setiap saat kita harus sadar akan hal tersebut, betapa dipertaruhkannya setiap detik kehidupan kita untuk dua pilihan yang sangat menentukan, surga atau neraka. Sebagai seorang muslim tentunya kita akan mengoptimalkan setiap detik agar bernilai ibadah di sisi Allah

Tentu hal tersebut bukanlah hal yang mustahil bagi seorang muslim. Meminjam kata-kata Mustafa Al-Ghulayani, “ Hayaatunaa kulluhaa ‘ibaadah”, Hidup kita adalah ibadah. Dan memang ibadah itu sendiri, sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyyah, “Isim jama’ untuk semua yang Allah cintai dan ridhoi baik berupa perkataan, perbuatan, yang nampak maupun tersembunyi.” Maka disana ada amal-amal yang bisa dilakukan dalam waktu tertentu, ada juga amal-amal yang bisa dilakukan setiap waktu. Ada amal tahunan, bulanan, mingguan, harian, dan amal yang bisa dilakukan setiap saat. Contohnya adalah dzikir. Allah SWT berfirman, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi” (Ali Imran: 191)

Rasulullah SAW menyebutkan kalimat-kalimat dzikir, diantaranya:
1. Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa membaca “Laa ilaaha illaalloohu wahdahuu laa syariikalahuu” 10 kali, maka ia seperti memerdekakan empat belas orang dari anak bani ismail (HR Bukhari Muslim)

2. Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa membaca, “Subhaanallahu wa bihamdihi” 100 kali, dihapuslah segala dosanya walaupun sebanyak buih di lautan” (HR Bukhari Muslim)

3. Rasulullah SAW bersabda, Dua kalimat yg disenangi Yang Maha Rahman, ringan di lisan, berat di timbangan amal, (yaitu kalimat) subhanallah wabihamdihii subhanallahil ‘adhim” (HR Bukhari Muslim)

Mari kita amalkan dzikir-dzikir tersebut, kapan pun dan dimana pun berada (kecuali di tempat2 yg dilarang). Sambil berjalan, duduk, maupun berbaring agar kita senantiasa ingat kepada Allah. Maka dengan demikian, setiap waktu yg kita jalani dalam kehidupan ini akan bernilai ibadah

Orang merugi adalah orang yg tidak menggunakan waktunya utk iman, amal sholeh, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Itulah yg Allah firmankan dalam Q.S. Al-’Ashr

Iman adalah pembenaran dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Iman berarti sebuah proses pembaruan komitmen kepada Allah. Sehingga nanti setiap ucapannya dalam rangka mencari ridha Allah, gerak-geriknya hanya ditujukan karenanya, bahkan bisik hatinya pun tidak lain agar Allah ridha kepadanya
Amal sholeh adalah pembuktian dari iman, karena iman itu sendiri harus terlihat dalam perbuatan
Tidak cukup hanya dengan iman dan amal sholeh, tapi Allah ingin waktu kita digunakan untuk mengajak orang lain kepada kebenaran dan kesabaran (dakwah)
Secara ringkas, inilah yang Allah inginkan untuk hamba2NYA yang beriman

Seseorang itu tergantung dari akhir kehidupannya, husnul khatimah atau sebaliknya. Tapi juga, mendesain akhir kehidupan, sama dengan mendesain hidup kita sehari-hari

Kira-kira desain kematian seperti apa yang akan kita buat?

Walloohu a’lam

Like what you read? Give Majelis Ta’lim Salman ITB a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.