Percayalah, Allah itu Mahadekat.

Pernah gak, sih, kita ngebayangin bisa ketemu sama orang yang kita idolakan? Entah dia seorang penyanyi, aktor, atau influencer. Alhamdulillah, saya baru saja mengalami hal itu. Tidak hanya ketemu, bahkan saya sampai bisa berkenalan dan bertamu di rumahnya.

Kok bisa, sih? Bisa, dong. Simak cerita saya di bawah ini supaya tahu caranya.


Bandung, Jumat, 3 Agustus 2018

Kemal, Muzammil, Khadijah

Seperti yang teman-teman ketahui, saya baru saja bertemu dengan public figure di atas, Muzammil Hasballah. Singkat cerita, saya sedang gabut dan kepikiran untuk pergi ke suatu masjid yang terkenal dimakmurkan oleh anak-anak muda di Bandung. Langsung lah saya pesan gojek dan cabut menjelang maghrib.

Selama di perjalanan, saya berharap bisa diimamin sama anak muda yang bagus suaranya siapa pun itu. Seperti biasa, saya selalu selawat ketika sedang mengharapkan sesuatu. Harapan saya seketika hilang ketika tahu kalau saya sampai di masjid itu sekitar jam 18.20 karena biasanya jam segitu sudah selesai shalat berjemaah. Namun, saya kaget begitu dengar ada suara yang mirip banget sama Muzammil.

“Siapa, ya, yang kira-kira bisa niruin suaranya Muzammil sebagus ini? Rekaman doang kayaknya ini.”

Ternyata salat masih berlanjut. Apa mungkin imamnya benar-benar Muzammil? Perasaan ga ada sounding apa-apa di Instagram.

Begitu selesai salat, saya langsung lihat ke depan dan ternyata ga salah lagi. Imam yang tadi benar-benar Muzammil! Saya spontan berdoa kepada Allah supaya bisa ketemu sama Muzammil entah bagaimana caranya. Tidak lupa, saya selawat sembari membayangkan pertemuan saya dengan Muzammil.

Tidak lama, saya ke saf paling depan dan duduk di tempat yang kosong. Saya mengeluarkan mushaf Alquran dan ngaji sambil nunggu waktu isya. Tau-taunya, ada orang yang ngeluarin meja dan menaruh Alquran di atasnya. Ga lama, Muzammil keluar dari sebuah ruangan dan duduk di depan meja itu.

Wah, pas banget! Pasti mau ada acara, nih.”

Ternyata setiap setelah maghrib hari Jumat, Muzammil mengadakan sharing tentang ilmu maqamat (irama) Alquran. Pada saat itu, saya mendapatkan banyak banget ilmu baru yang selama ini saya anggap cukup. Singkat cerita, sesi sharing dari Muzammil selesai saat azan isya dan dilanjutkan dengan salat isya berjemaah yang diimami oleh Muzammil.

Muzammil selesai sesi sharing.

Selesai salat isya, saya masih tidak bisa lepas dari bayangan saya bertemu dengan Muzammil. Entah kenapa, saya rasa kalau saya harus bisa ketemu beliau hari itu juga. Saya terus berdoa dan selawat supaya keinginan saya dikabulkan. Tiba-tiba, saya terpikirkan kalau Muzammil bisa mengimami salat di masjid itu tanpa ada sounding yang begitu besar, jangan-jangan rumahnya ada di sekitar masjid itu.

Akhirnya tanpa berpikir panjang, saya keluar dari masjid dan berniat mencari-cari rumahnya tanpa petunjuk apapun kecuali hasil publikasi rumah Muzammil bagian dalam dari teman-temannya yang saya follow di Instagram.

Tepat setelah saya keluar masjid, saya lihat sosok figur yang familiar. Orang itu terlihat sedang bersama tiga orang lainnya yang tidak saya kenal dan mereka ingin memasuki sebuah mobil berplat “B” yang menandakan mereka dari Jakarta. Saya sempat ingin mencari tahu orang itu siapa, tetapi saya terlalu penasaran untuk melanjutkan perjalanan saya.

Melewati rumah-rumah di sana, saya berbicara dan berandai kepada diri saya sendiri bahwa bisa jadi itulah rumahnya. Namun, saya tahu saya terlalu banyak berkhayal dan pada akhirnya saya melanjutkan perjalanan menyusuri perumahan sekitar masjid itu.

Setelah sekian lama, saya semakin sadar bahwa saya terlihat seperti orang yang tidak mempunyai tujuan. Akhirnya, saya berdoa dan selawat berkali-kali dalam hati mengharapkan agar Allah memberikan petunjuk bagi hamba-Nya. Tiba-tiba, mobil berplat “B” yang saya sebutkan di atas nongol dan menepi di sebuah rumah. Empat orang yang saya sebutkan tadi juga keluar dari mobil tersebut dan menunggu di depan rumah itu. Mereka terlihat membawa sesuatu seperti boks kue dan menunggu seseorang untuk keluar dari rumah itu.

“Jangan-jangan, itu rumahnya Muzammil?”

Pada saat itu, saya jadi teringat akan story-nya Muzammil yang menunjukkan Edwin Putra sedang menjenguk Muzammil dan putrinya pada pagi hari itu. Saya membuka akun ig-nya dan melihat di posting-annya bahwa Edwin sedang bersama sosok figur yang saya bilang familiar beberapa jam yang lalu. Ternyata sosok itu adalah Alvin, anak dari Ust. Arifin Ilham! “Sudah pasti empat orang itu akan menjenguk Muzammil juga!” pikirku pada saat itu.

Saya memberanikan diri, menghampiri mereka, dan mengenalkan diri saya kepada mereka. Untungnya, saya memiliki teman yang pernah bermain futsal bersama Alvin jadi tidak begitu canggung. Tiga orang lainnya adalah Natta, orang di balik buku Cinta yang Tak Biasa, Adit, manajer dari Natta, dan Fajri. Alhamdulillah mereka semua baik dan tidak sombong walaupun kami baru kenalan di tempat.

Baca: Al-Lathiif (Mahalembut)

Pada saat kami tengah asyik mengobrol, ada orang yang membuka pintu dan memanggil kami. Tidak salah lagi orang itu adalah Muzammil Hasballah. Awalnya, saya ragu untuk ikut masuk, namun saya memberikan isyarat yang menunjukkan pertanyaan untuk ikut kepada empat orang tersebut dan untungnya mereka mengiakan.

Singkat cerita, saya mengenalkan diri saya kepada Muzammil sebagai volunter Qur’an Indonesia Project sekaligus teman dari Archie Wirija dan beliau mengajak kami masuk ke dalam rumahnya. Alhamdulillah, kami dapat dijamu di sana, ngobrol tentang berbagai macam hal, dan saya juga sempat mengangkat topik tentang proyek Qur’an Indonesia Project yang terkini, Cahaya Dalam Sunyi. Ternyata, Muzammil belum pernah dengar dan saya senang bisa memperkenalkan sedikit tentang teman-teman tuli kepadanya. Tidak lupa, kami juga sempat menengok putri Muzammil yang baru 1,5 bulan, Khadijah Haura.

Adit, Alvin Muzammil, Khadijah, Natta, Fajri

Inti dari cerita ini adalah bukan untuk menunjukkan keberuntungan saya yang bisa bertemu dengan Muzammil begitu saja tanpa usaha yang banyak. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana usaha sedikit saya bisa berakhir di rumahnya Muzammil. Padahal, kenal banget juga engga. Niat makmum di belakangnya juga engga, apalagi ketemu. Terjadi begitu saja. Semua bisa terjadi tidak lain hanya karena Allah.

Kalau dilihat dari perjalanan saya di atas, saya tidak berhenti dan tidak puas di satu titik. Setelah mendapatkan satu hal, saya terus meminta dengan penuh keyakinan dan ketidakputusasaan agar mendapatkan yang terbaik walaupun hal itu mustahil sekalipun. Tidak lupa usaha kita untuk terus berselawat kepada Nabi karena perbandingan doa kita dengan dan tanpa selawat adalah seperti Nabi dan kita; jauh. Alhasil, doa saya bisa dikabulkan dengan cuma-cuma dan sesegera mungkin.

Namun, bisa jadi Allah mengabulkan doa saya karena Allah meridai waktunya. Tidak menutup kemungkinan pada saat itu jika Allah ingin saya lebih bersabar dan menunjukkan usaha yang lebih agar bisa bertemu dengan Muzammil. Intinya, jangan mudah menyerah dalam rahmat Allah.

Pada saat itu, saya semakin terbuka matanya bahwa kapan pun kita menginginkan sesuatu, larilah ke Allah. Allah itu Mahadekat dan pasti Maha Mendengar. Saya semakin yakin bahwa setiap kali kita berpikir positif kepada Allah, Allah akan memberikan sesuatu yang jauh di atas ekspektasi kita dan Allah bisa melakukan apa saja.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah/2:186)

Mungkin bagi teman-teman hal ini bukan lah apa-apa, tetapi percayalah hal ini sama seperti bertemu dengan penyanyi atau artis favorit teman-teman yang sangat teman-teman ingin temui.

“Banyak orang yang susah-susah mencari si dia siapa pun itu. Tetapi, mereka lupa untuk minta kepada si Dia yang menciptakan si dia.”

Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuka pikiran teman-teman bahwa Allah itu Mahabaik. Jangan lupa untuk terus berdoa dan terus berselawat kepada Nabi kita tercinta agar nanti kita semua bisa berkumpul di surga-Nya bersama para Nabi. آمين.

Sekian.