Akan ada nanti ribuan tanya dikepalamu ia bisa menjelma bagai apapun yang dia mau jadi rambut putih luka disikumu atau hal yang tak pernah kau duga sekalipun hal itu justru mengakibatkan kau menjadi lebih buruk yang menjauhkan dari perihal baik seperti berbiak setiap menitnya

Kau juga berpikir bahwa hal itu akan sangat menganggu dan terus menyakiti seakan bekasnya tak mampu ditemukan atau memang tak mau ditemui sekalipun Tanya itu menjadi nyanyian yang setiap malam menganggu pendengaran telinga seperti berbisik dan berteriak tetapi tidak ada satu pun yang mendengar kecuali kau

Jika nanti kau ingin menjawab ribuan pertanyaan itu jangan pernah mencarinya dihalaman yang pernah kau tutup dan tak ingin kau buka dulu biarkan kau menjawab seperti kebodohan yang perlahan mengerogoti pikiran menyala bagi api yang habis membakar ritual sunyi menggigil jika kau membukanya dan tak mau kau tutup rapat-rapat hingga pada akhirnya hanya menyisahkan air mata yang jatuh dan jauh dari matamu

Akulah ribuan pertanyaan itu yang sengaja kau biarkan hingga berbiak menjadi ribuan dan kau tak sanggup hingga menyerah dan melupakan aku hingga abuku kau buang dilautan karam yang airnya asin bagai garam yang ketika kau masak sayur memasukkannya terlalu banyak

Aku mengalir bagai air yang pasrah menuju muara dari atas yang tabah untuk turun kebawah dan tak pernah mengeluh kenapa harus mengalir

Like what you read? Give Mayogi Ariski Pondoh a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.