Buat Apa Punya Kuping Kalau Bukan Dipakai Nguping?
Hari sudah pagi. Kehidupan normal orang-orang di sekitar mulai terdengar. Aku terbiasa menguping dari dalam kamar kost-ku yang sejuk dan nyaman.
Barusan aku mendengar seorang anak bercicit, “Puuus… Sini, sini.” Terdengar pula pintu kost berdebam. Tandanya kucing kampung mana pun memiliki akses bebas keluar-masuk rumah kost ini.
Lalu terdengar derap langkah cepat dibarengi suara pria yang berkata, “Eeeh… masuk nih kucing. Kucing yang gendut lagi. Heeeh. Shuuush. Shush! Hush!”
Aku membayangkan seekor kucing liar yang pernah kulihat. Gendut dan berbulu oranye terang. Persis kucing Garfield.
“Ngiaw…” si kucing membalas. Kubayangkan ia berjalan makin jauh menuju lantai dua.
“Eeeh, nggak mau keluar lagi. Ketok, nih!”
“Ngiaaaw…”
Interaksi singkat antara bapak pemilik kostan yang akrab disapa Akang dengan kucing ini lantas membuatku terkikik. Langsung terbayang kucing gendut itu terpaksa dibopong keluar, tak peduli bagaimana pun ia memrotes.
Latar suara interaksi singkat ini berupa aliran air keran di kamar mandi kostan. Seperti pagi-pagi biasanya, aku telah mengantisipasi suara-suara ini. Antara lain, mulai pukul empat pagi, adzan subuh berkumandang. Didahului oleh suara mengganggu seorang pria yang berbicara lewat TOA-nya. Aku hapal betul kata per kata.
Assalamualaikum. Bapak-bapak, ibu-ibu. Kaum muslimin, kaum muslimah. Baaanguuun… banguuun… mari kita sholat subuh berjamaah.
Lalu ia akan memulai doanya. Biasanya ini menjadi pengingat aku untuk segera tidur. Jika tidak, aku akan bangun terlalu siang dan akan berujung pemecatan sepihak.
Namun, sayangnya aku tak pernah bisa tidur pada jam yang seharusnya. Akhirnya suara-suara lanjutan pun aku hapal.
Memasuki pukul enam, tetanggaku di lantai dua akan menyetel lagu-lagu favoritnya yang pasti terdiri dari lagu Jepang dan Korea. Beberapa lagunya merupakan pemberian hasil unduhanku. Meski kadang terganggu oleh volume yang distel terlampau tinggi, jika lagu J Rabbit terpasang, aku sedikit terhibur. J Rabbit satu-satunya band indie Korea yang aku tahu dan suka banget.
Menjelang pukul tujuh biasanya pintu kost-kostan ini akan sering dibukatutup. Penghuni kostan ini satu per satu berangkat kerja.
Di waktu-waktu ini pula burung-burung mulai pede mencuit-cuit. Tukang roti bersepeda motor dengan dering nyanyian yang cukup kencang untuk membangunkan ayam mati pun terdengar. Aku sendiri tak pernah menangkap dengan benar kata-kata di jingle roti itu. Kedengarannya seperti sebuah toko roti yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Karena jingle itu memang dinyanyikan oleh anak kecil yang belum mahir bicara.
Roooti, roti. Dari padenchi(?)
Begitu kira-kira. Biasanya disambut dengan nyanyian yang terkenal sumbang dari wanita penjual Susu Moni Nasi Yonal (belakangan aku baru tahu kalau mereknya Susu Murni Nasional, bukan Moni). Aku heran mengapa memakai suara sumbang untuk memasarkan produk. Mungkin saja ada unsur ketersengajaan.
Jadi teringat sebuah jingle radio Permata Hero Card yang juga dinyanyikan dengan nada sumbang dan menyiksa telinga. Menyedihkan sekali rasanya di saat aku sedang menimbang-nimbang dengan serius mana harga yang termurah, tiba-tiba…
PERMAATA HEEROOO CAAARD (di sini bagian sumbangnya)~ JUTAAN KELUARGA SATUUU KARTUUU~
Kuharap untuk ini supermarket Hero memiliki instalasi gawat daruratnya sendiri.
Kembali lagi ke suara-suara pagi di sekitarku, menuju pukul sembilan dan seterusnya biasanya suasana mulai sepi. Hanya terdengar sesekali deru mesin sepeda motor yang berlalu lalang atau suara sayup orang berbincang. Selebihnya aku tak tahu karena biasanya jam segitulah aku mulai mengantuk dan tertidur.
Lah, sebentar. Jika memang ini hari kerja, kenapa kau bisa hapal semua suara-suara itu? Memang kau tak kerja?
Yah, seperti petunjuk yang kuberikan di beberapa paragraf sebelumnya, aku akhirnya dipecat akibat terlampau sering mengabaikan aturan jam masuk kantor.
Omong-omong, di lain waktu, akan kujabarkan kesempatanku menguping suara-suara malam hari di kostan ini.