Nostalgia dan Album Foto Orang Mati

Terkadang aku terbangun dalam keadaan sedih akibat mimpi yang tak begitu dapat kuingat. Rasanya seperti menemukan foto-foto lama yang mulai pudar. Sambil berusaha mengingat-ingat kapan foto itu diambil dan siapa yang ada di sana.

Kesedihan macam ini muncul oleh nostalgia dan harapan-harapan masa lalu. Melankoli, ke tempat mana aku tak sungkan pergi, mencicipi kembali sedikit potongan hidup yang telah terlewati.

Beberapa tahun lalu, saat aku masih tinggal di rumah kakekku, kami punya kebiasaan membuka beberapa kardus berisi album-album foto yang tersusun rapi. Itu salah satu kegiatan favoritku dengan kakek di waktu senggang.

Aku ingat beberapa albumnya. Mulai dari kakekku yang ganteng itu bekerja hingga menghabiskan sepotong masa tuanya berjalan-jalan keliling Cina. Foto keluarga besar hitam-putih bersama anak-anaknya yang masih kecil dipajang di dinding. Tak ditemukan wajah mama di sana karena ia belum lahir (mamaku anak terakhir).

Ada juga album berisi dokumentasi masa kecil mama hingga saat aku dikandungnya. Mama dibesarkan dengan berjejal ilmu. Dasarnya, ia memang anak kesayangan kakekku. Kulihat di foto-foto itu, mamaku yang masih kecil berenang, berlatih taekwondo, dan menari balet. Mama kurus sekali dan tatapannya yang tajam mengingatkanku akan wajahku sendiri. Ada juga fotonya bersama teman-temannya di sekolah Pakistan International School. Sungguh bergengsi.

Ada juga album foto khusus isinya papa dan mama sedang berdansa dan berlibur di Cibubur. Papa menggendong gitar. Kece sekali. Di album yang sama terdapat foto-foto pernikahan mereka. Mama mengenakan gaun pink pastel. Waw. Papa berjas warna krem.

Tak berhenti sampai sana, saat aku lahir pun dokumentasi itu masih berlanjut. Foto-foto telanjangku (usia tiga hingga enam bulan) dengan berbagai pose lucu-lucu sekali. Tak sangka aku pernah segempal itu. Foto ulang tahun pertamaku. Satu-satunya foto di mana ada aku, mama, dan papa. Banyak juga foto bersama kakek, om, dan sepupu-sepupu yang pernah mandi bersama.

Biasanya setiap album aku menanyakan cerita di baliknya. Siapa yang mengambil foto ini, kapan, dan sebagainya. Kecuali satu album. Hanya di album itu aku berhenti bertanya, dan tak ada pula yang membahasnya.

Album foto di hari penguburan mama. Di foto-foto itu sosokku sama sekali tak nampak. Aku pun tak memiliki ingatan apapun tentang hari itu. Mungkin aku memang tak pernah diajak ke sana. Kulihat seluruh keluarga berusia dewasa berkumpul. Ada juga foto tubuh mama yang terbaring di dalam peti. Tangannya menggenggam salib putih. Bedak wajahnya tebal dan putih sekali. Bibirnya merah menyala.

Mengapa orang mati perlu didandani seheboh itu? Mungkin karena tak ada yang benar-benar mau melihat wajah asli orang mati. Mereka ingin menganggap orang-orang mati itu masih hidup, hanya saja tak bisa bergerak dan terkurung peti segi empat.

Sekarang aku tak ingat di mana album-album foto itu disimpan. Semenjak kepindahanku dari rumah masa kecil, aku tak terlalu memusingkan barang-barang masa itu. Meskipun kadang kuharap aku masih dapat memilikinya, sekadar untuk menikmati potongan nostalgia dan serbuk-serbuk melankoli.

Tapi apalah pentingnya nostalgia dan tetek bengek itu dalam kehidupan sehari-hari? Tak apa sih, jika sekali-sekali. Membolak-balik album foto bisa jadi aktivitas menyenangkan di acara kumpul keluarga. Daripada harus makan besar dirudung basa basi dan membicarakan gosip atau politik? Kan jauh lebih menyenangkan kita bernostalgia.

Yes or yes?

Tahun baru cina sebentar lagi. Mungkin ini kesempatan terbaik untuk mengunjungi saudara sambil menanyakan di mana album-album itu berada.