Oxi Gravitasi Putri: Duka Jadi Tekad

Kesedihan mendalam yang menyelimuti petenis muda profesional Oxi Gravitasi Putri (16), menjelma sebuah ambisi besar: bermain di ajang Tennis Grand Slam. Meski ia sadar olahraga ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah, tekadnya sama sekali tidak pudar.

Oxi tidak bisa menerima kenyataan tatkala melihat ayahnya, Abun Astra Sumiarsa Bangkit Ramadhan (67), menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit komplikasi organ dalam tubuh, Selasa (6/12/16). Ia murung, dan menangis sesegukan hampir sepanjang hari.

Padahal, ia baru saja membelikan alat bantu untuk ayahnya yang sakit, dua hari sebelumnya. Dengan menggunakan uang dari hadiah turnamen-turnamen yang telah ia menangkan, petenis putri unggulan satu DKI Jakarta ini membeli sebuah kursi roda.

Cimo, sapaan akrabnya, ingin melihat ayahnya dapat berpindah tempat dengan kondisi badan tetap merebah. Selama tiga bulan terakhir, ayah Cimo hanya bisa berbaring di rumah sakit karena harus terus mendapat perawatan medis.

Mengetahui pemberian anaknya, sang ayah berniat memakai kursi roda tersebut sehari setelah Cimo beli. Tetapi hujan turun di hari yang telah ia rencanakan. Ia pun menunda niatnya.

Berharap tidak ada halangan di keesokan harinya, kondisi kesehatan ayah Cimo malah berubah makin memburuk. Kondisinya kian mengkhawatirkan. Sampai akhirnya, dokter terpaksa menyatakan, ayah Cimo meninggal dunia.

Akhirnya kursi roda itu pun tidak sempat berguna, dan hanya bermakna sebagai kenangan bagi Cimo beserta keluarga. “Ini kursi rodanya masih di sini (di rumah),” kata Ima Siti Rachima, ibu Cimo, Jumat (23/12/16).

Pengaruh Ayah

Cimo adalah anak keenam dari delapan bersaudara. Dua kakak dan dua adiknya turut bermain tenis. Kecintaan Cimo dan saudara-saudaranya terhadap tenis tidak lepas dari pengaruh ayahnya. Padahal, sang ayah sebenarnya lebih suka bermain basket saat masih muda.

Cimo mengisahkan, ketertarikan terhadap tenis berawal dari seringnya melihat sang ayah menonton pertandingan tenis kelas dunia di televisi. Selain itu, ia yang saat itu berusia empat tahun, kerap melihat ayahnya melatih kakaknya bermain tenis.

Ia pun turut memegang raket dan berlatih memukul bola di usia lima tahun. Di tahun berikutnya, Cimo memulai karir profesional di umur enam tahun, di sela-sela pendidikan home schooling-nya.

Kepergian sang ayah, bagi Cimo, membuatnya kehilangan dua sosok sekaligus. Seorang panutan keluarga di satu sisi, dan seorang pelatih di sisi lain.

“Biasanya latihan sama ayah terus,” kata Cimo, menitikan air mata. “Almarhum ayah pernah bilang, kalau ayah gak ada, teruslah latihan tenis.”

Petenis yang mengidolakan Garbine Muguruza ini telah berkembang pesat berkat latihan keras dengan bimbingan dan motivasi dari sang ayah. Sejumlah prestasi individu maupun beregu telah ia dapat, di antaranya juara Piala Yayuk Basuki 2016 dan Turnamen Christoper Benjamin Rungkat (CBR) 2016.

Menurut kakak Cimo yang yang kini jadi pelatihnya, Hemat Bhakti (22), potensi penyumbang medali perak untuk DKI Jakarta di kelas beregu putri pada Pekan Olahraga Nasional (PON) beberapa waktu lalu itu memang sudah terlihat menonjol sejak umurnya masih enam tahun. Berkat bimbingan ayahnya, Cimo meraih prestasi di turnamen nasional kelompok umur 10 tahun saat itu.

Turnamen berskala nasional tersebut adalah ajang tenis pertama yang Cimo ikuti. Niat awal hanya iseng, ia malah berhasil menyabet juara kedua di ajang tersebut. Sejak saat itu, pujian pun datang dari berbagai kalangan.

“Pelatih nasional kayak om Dedi Prasetyo dan pengamat-pengamat tenis bilang dia bagus. Banyak yang bilang dia berbakat. Tangannya kuat dan feelingnya bagus,” kata Hemat.

Cimo terkenal memiliki ciri khas pukulan servis yang menukik tajam di kalangan tenis saat ini. Sempat bermasalah dengan stamina, kini Cimo menutupi kekurangan tersebut dengan kurun waktu yang cenderung cepat.

“Sekarang fisiknya sudah mulai kuat, main di banyak rubber set juga dia kuat. Dia juga orangnya gak mau kalah. Jadi, poin demi poin, dia terus ngotot,” Hemat menerangkan.

Mewujudkan Mimpi Ayah

Sebelum meninggal, sang ayah sempat mengungkapkan harapan besar pada Cimo. Ia mengingkan petenis muda peringkat enam Indonesia itu dapat mewujudkan mimpinya, yaitu mengibarkan bendera merah-putih di Tenis Grand Slam.

Sang ayah yakin, impiannya kelak terwujud dengan kegigihan, potensi, dan waktu yang masih panjang untuk Cimo. Di usia Cimo saat ini, ia telah berhasil memenangkan banyak kejuaraan. Hal tersebut membuatnya menempati posisi enam kategori putri senior di Peringkat Nasional Pelti (PNP).

“Dia (sang ayah) sangat percaya, Oxi itu bisa,” kata Hemat.

Hal tersebut kemudian menjadi tekad kuat di diri Cimo. Bila ayahnya tidak sempat merasakan kursi roda pemberiannya, ia ingin membuat sang ayah melihat mimpinya terwujud, dari surga.

“Ayah bilang aku sudah membanggakan, tapi kan aku belum mencapai mimpinya. Meski sangat berat untuk kehilangan ayah, tapi ini jadi motivasi besar buat aku,” Cimo menjelaskan.

Tapi Cimo sadar, perjalanan mewujudkan impian itu masih sangat panjang. Kemenangan-kemenangan di turnamen yang ia dapatkan belum cukup untuk jadi modal menggapai mimpi bertanding di Tenis Grand Slam. Ia masih butuh lebih banyak pengalaman bertanding.

Ia juga punya kendala. Minimnya turnamen dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap olahraga tenis bisa menghambat perkembangannya.

Berbeda dengan di luar negeri, atlet muda di Indonesia kesulitan mendapat jam terbang di tingkat nasional maupun internasional karena minimnya kompetisi dan persoalan dana. Selain itu, para atlet tidak mendapat pembinaan yang serius dari negara.

Ibu Cimo membenarkan hal tersebut. Tetapi ia mengatakan, itu tidak menjadi hal serius bagi proses perkembangan kemampuan anaknya.

“Oxy tidak dapat lawan sparring (latih tanding) aja sudah sering dapat juara,” kata Ima. “Tidak dipoles pelatih bagus dan program yang rutin pun dia sudah terlihat begitu bagus.”

Ima mengaku, dirinya tidak mendapat dana dukungan dari pemerintah untuk karir Cimo. Walhasil, ia harus mengeluarkan dana pribadi yang tidak sedikit, agar anaknya itu bisa terus mengikuti kompetisi.

Paham dengan kondisi tersebut, Ima menolak untuk menyerah dalam mendukung anaknya yang bertekad mewujudkan impian suaminya. Dari pada terus mengharapkan dukungan dari pemerintah, ia akan terus bekerja keras mencari dana sendiri dan membuat anggaran khusus untuk kompetisi anak-anaknya.

“Kita ini sekeluarga memang sudah kayak orang gila, kalau soal tenis,” katanya, sedikit tertawa. “Saya dan suami sudah tidak lagi memikirkan apa-apa, apa lagi soal kekayaan. Insya Allah, semua ada jalannya.”

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Belajar Membaca’s story.