Separuhmu Mengutuhkanku
Karena cinta datang untuk mengutuhkan dua hati yang berbeda bukan memaksakan satu keinginan atas keinginan yang lain.

Boleh nggak sih kalau kita mematok kriteria saat mencari pasangan, seperti pengen punya pasangan engineer, atau dokter, atau mungkin yang badannya atletis seperti “Jojo” Jonathan Cristie, atau yang semanis Pevita Pearce.
Nggak ada salahnya kok punya kriteria khusus buat temen hidup mu nanti, kamu yang akan menjalani hidup bareng doi, wajar aja kalau kamu punya standar khusus yang harus dimiliki. Ibarat Manajer HRD yang lagi nyari karyawan buat perusahaan, pasti ada beberapa kriteria yang harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Eits, tapi menikah itu beda, kalau kerja ngga cocok kamu bisa resign, kalau nikah kamu bisa apa dong? Nah makanya itu kembali lagi ke hakikat pernikahan, sebenernya kenapa sih kamu harus NIKAH? Faktor WHY ini penting banget biar kriteria yang kita tentukan nggak melenceng jauh dari koridor utama sebuah pernikahan.
Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)
Menikah berarti menyempurnakan separuh agama, maka sudah seharusnya kita menetapkan kriteria yang bisa menjadi penyempurna agama bukan sekedar penyempurna dunia. Lah tapi namanya juga manusia pasti sesekali pernah ngarepin dunia, terus gimana biar kita juga bisa dapat akhiratnya? Carilah 1001 alasan agar kamu menikahinya semata-mata karena agama.
Misalnya nih, aku pengen punya suami engineer, biar bisa desain masjid deket rumah, biar makin banyak anak muda yang ke masjid. Mungkin bisa juga gini, karena basic ilmu-ku kesehatan, aku pengen punya suami dokter, biar nanti bisa berangkat ke Gaza atau Suriah bantuin saudara-saudara disana. Kalau sudah gitu berarti harus mulai dipikirkan, di renungkan kembali kira-kira kenapa sih harus menikah dengan orang yang punya kriteria ini dan itu. Biar makin paham yuk kita simak langsung dari pakarnya.
Ada beberapa teori psikologi yang bisa menjelaskan proses mencari dan menentukan pasangan
- Exchange Theory
Inti teori ini adalah semua orang ingin memaksimalkan kesenangan bagi mereka. Dalam teori ini individu yang memiliki sumberdaya yang bernilai untuk ditawarkan, akan memilih seseorang yang memiliki sumberdaya atau sifat yang sepadan dengan yang ditawarkan bahasa mudahnya saling tukar-menukar sumberdaya. Hal tersebut akan membuat individu memikirkan tentang kelebihan dan kekurangan calon partner mereka.
Misalnya seorang laki-laki meminta calon isterinya untuk berhenti bekerja ketika sudah menikah, karena penghasilan yang dimiliki suami sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua, namun sebagai gantinya isteri harus mengurus pekerjaan rumah tangga dengan baik, disinilah terjadi pertukaran peran antara suami dan isteri. Teori ini juga meyakini bahwa hubungan akan terus berlanjut, jika keduanya merasa mendapatkan keuntungan daripada kerugian dari pasangan masing-masing.
2. Equity Theory
Pengembangan dari exchange theory, equity sendiri memiliki arti kesetaraan atau keadilan dalam hal ini biasanya berkaitan dengan daya tarik fisik, kesehatan mental dan fisik, latar belakang keluarga, gaya hidup, karakter pribadi, nilai agamaatau bahkan suku bangsa. Individu akan merasa cukup adil untuk mendapatkan keuntungan secara proporsional dari hubungan yang sedang dijalaninya sesuai dengan usaha yang dilakukan.
3. Complementary Need Theory
Menurut Robert Winch (1958) untuk membina suatu hubungan, individu akan mendasarkan diri pada kebutuhan saling melengkapi. Kebutuhan dalam lingkup ini terbatas hanya pada kebutuhan komplementer. Winch kemudian membagi tipe kepribadian komplementer tersebut menjadi dua tipe. Tipe pertama, pasangan akan saling melengkapi pada hal yang sama sedangkan pada tipe kedua pasangan akan melengkapi pada area yang berbeda.
4. Konsep Kufu
Konsep kufu mirip dengan exchange dan equity theory, hanya saja dalam hal ini, Islam dan kebaikan akhlak menjadi standar kesetaraan menikah. Jika menggggunakan dua standar tersebut, Pertukaran yang adil dan setara tidak akan terjadi jika seorang muslim menikah dengannonmuslim, orang fasik, pezina atau munafik karena dianggap tidak sekufu. Jika kedua individu yang hendak menikah adalah muslim, maka yang pertama kali diperhatikan adalah kufu dalam hal agama, apabila agama dari masing-masing individu sudah baik barulah dimungkinan menuju level pertimbangan berikutnya seperti kufu dalam masalah sosial ekonomi, pendidikan, karakter atau kebutuhan, dan hal lain yang bersifat manusiawi.
5. Psychodinamic Theory
Teori ini dilandaskan pada teori Sigmund Freud, yang meyakini bahwa kehidupan masa kecil akan berpengaruh terhadap kehidupan ketika dewasa. Interaksi dengan orang tua atau keluarga akan berpengaruh terhadap pencarian pasangan. Karena diyakini seseorang akan memilih pasangan yang akan membantu individu tersebut kembali berperan sebagaimana pengalaman emosinya pertama kali. Seorang wanita bisa jadi memilih pasangan yang mirip dengan ayahnya, begitu pula laki-laki memilih pasangan seperti ibunya. Namun ada penelitian lain yang mengungkapkan bahwa citra ibu lebih mempengaruhi pilihan pasangan perkawinan anak baik laki-laki maupun perempuan.
Nah sudah makin paham kan, setelah membaca artikel ini pasti kalian sudah siap untuk menentukan kriteria calon pasangan lengkap dengan alasan kenapa harus memenuhi kriteria tersebut. namun tetap ingat ya, nggak ada manusia yang sempurna, mesti adalah satu atau dua sifat yang mungkin kita nggak suka dari calon pasangan. Seperti pada exchange theory, ada pertukaran yang sifatnya menguntungkan kedua belah pihak, anggap saja kelebihanmu itulah yang nanti akan menyempurnakan kekurangannya, begitu pula sebaliknya. Karena begitulah cinta, ia datang untuk mengutuhkan dua hati yang berbeda, bukan memaksakan satu keinginan atas keinginan yang lain.
REFERENSI
Jannah, Izzatul.(2008). Psiko Harmoni Rumah Tangga. Surakarta : Indiva Pustaka.
