Banda Neira

mbun_
mbun_
Sep 1, 2018 · 3 min read

“Badai, Puan, telah berlalu

Salahkah ku menuntut mesra?

Tiap taufan menyerang

Kau di sampingku

Kau aman ada bersamaku

Selamanya, sampai kita tua

Sampai jadi debu

Ku di liang yang satu

Ku di sebelahmu”

Seakan tak percaya, Radit memutar lagu melankolis itu berkali-kali. Seakan tak percaya, ia terus memeluk beberapa foto polaroidnya. Dan tangisnya pun tak berhenti, meski lagu itu kini telah usai karena telepon genggamnya mati. Hingga ia tertidur dengan peluknya yang tetap terjaga, enggan melepaskan foto-fotonya.

Mimpi itu pun datang.

Dit, Dit! Ih bangun!”

Ia terbangun. Mata kusamnya melihat kembali ruang kelas yang pernah ia singgahi saat bersekolah dulu. Dan saat itu ia melihat Gea, seorang gadis ceria yang selalu menjadi idaman hatinya.

Ayo cepet, bangun! Ini pensi perpisahan malah tidur, gimanasih, kamu?! Ayo, Banda Neira mau main bentar lagi!

Ia hanya bisa terdiam, ia hanya bisa merasakan, seakan waktu memang membawanya kabur dari realita.

Gea menariknya, dan mereka berjalan menuju lapang sekolah mereka. Karena penuh sesak, mereka duduk di bawah pohon yang tak jauh dari panggung. Ada pula beberapa teman bersama mereka, tetapi yang terdengar hanyalah suara Gea yang bernyanyi kecil dan dentingan piano yang dimainkan Gardika Gigih, dan sepertinya waktu pun berhenti bergulir berputar.

Radit terus menatap gadis itu dengan mata yang menjadi sayu tajam. Rasanya ingin sekali ia memanggil namanya, menyentuhnya, dan memeluknya, tetapi ia tetap tertahan. Air mulai menggelimang dan lalu jatuh turun dari matanya. Saat itu pula Gea melihatnya dengan senyum, memanggil namanya dengan tenang, mengusap air matanya dengan lembut, lalu memeluk erat sang kekasih hatinya.

Kini si gadis tak sedang ceria, air mata menghujam membasahi bahu Radit. Sepasang kekasih hati akhirnya larut meluapkan semuanya dengan tangisan di dalam mimpi.

Akhirnya Radit terbangun dari mimpi yang membawanya ke masa lalu. Ia mulai teringat kembali semua kejadian pada waktu itu, saat Bumi meluluhlantakkan anaknya yang cantik berkali-kali, hingga seisi Lombok porak poranda. Peristiwa itu memakan lebih 400 korban jiwa yang meninggal dunia, dan salah satunya adalah kekasih hatinya, Gea si gadis ceria.

Sebelum peristiwa itu terjadi, mereka selalu berdebat riang tentang makna dari lagu melankolis itu. Pikir mereka, Banda Neira telah mengajarkan umat manusia tentang kesetiaan lewat lagunya, tapi lucunya Banda Neira pun berakhir bubar.

Memang sayang, tetapi kini Radit mengetahui arti sesungguhnya tentang kesetiaan. Bukan soal hidup bersama sampai tua, bukan soal mati di liang yang bersebelahan, tetapi rela saling mencintai meski hidup dan mati tak bisa selalu bersama. Walau hidup atau mati pun tak lebih baik, kesetiaan itu tetap ada dalam hati kita dan tak akan pernah henti untuk mencintai walau ada yang tak terbalas.


Cerita fiktif, hanya sekedar saja. Karena pada saat seorang teman di sebelah mendengarkan lagu di atas, bertepatan dengan kabar duka bencana alam yang terjadi di Lombok. Turut berduka cita, doa dan pengharapan saya langitkan, semoga Lombok segera bangkit tanpa melupakan masa bersama orang-orang tercinta.

Salam.

Written by

mbun_

I need to attend a Radiohead concert before I die.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade