
Munir
Berarti cahaya, cahaya yang pernah hadir di banyak peristiwa sejarah kelam bangsa ini.
Cahaya itu hadir di tahun 1993 ditengah para petani Nipah, Madura yang dibunuh oleh tentara, 1994 dalam kasus pembunuhan Marsinah, penasihat korban pembantaian Tanjung Priok 1984-1998, mendampingi keluarga korban penghilangan paksa 1997, mendampingi korban penembakan Semanggi I&II 1998-1999, mengadvokasi warga Aceh dan Papua dalam kasus pelanggaran HAM berat dan berbagai rentetan peristiwa ketidak-adilan yang menjadi perhatiannya.
Munir mati dan 14 tahun pembunuhnya masih berkeliaran. Ini berarti antrian nama calon korban pembunuhan berikutnya masih akan diperpanjang. Pembunuhnya masih berkeliaran dan dengan alasan apapun, siapapun bisa dilenyapkan.
Itu sudah terjadi, Salim Kancil dicangkul kepalannya, forum-forum sipil dibubarkan tentara, militer yang dulu diwajibkan pulang ke barak kini makin tak tahu malu petantang-petenteng di kehidupan gerakan sipil, gerakan warga yang kian masif melawan ekspansi kapital dan membela tanahnya dilibas tentara.
Munir mati dan 14 tahun pembunuhnya memang masih berkeliaran, tapi ingat!, bahwa semangatnya juga masih dan terus berkeliaran di luar sana, tersebar tak terbendung, bersemayam di kepala dan hati anak-anak muda, yang saling merangkul dan bergandengan tangan membaca sumpah bahwa kemanusiaan adalah jawaban, dan kebenaran adalah pembebasan.
Sumber:
