Sakit

Teruntuk kamu, tentang keresahan hati ini.

Halo, Kamu

Apa kabar?

Ku harap kamu baik-baik saja

Tidak kekurangan satu pun

Aku pun di sini baik-baik saja

Hanya saja, hatiku tidak

Alasannya tentu saja karena kamu

Oh, bukan

Bukan kamu

Lebih tepatnya, kita

Aku tidak bisa berbohong

Ketika aku sedang beribadah

Diam-diam aku memendam perasaan ini

Kapan aku bisa melihatmu beribadah di depanku?

Kapan aku bisa melihat punggungmu seusai aku mengucapkan salam?

Aku yakin kamu pun tidak bisa menutupi perasaan itu

Kapan aku bisa duduk di sampingmu untuk berdoa bersama?

Kapan aku bisa menjadi pendampingmu saat masuk ke tempat ibadah?

Betul, kan?

Kapan kita bisa sama-sama bercerita kepada Tuhan dengan cara yang sama?

Aku tau, tidak bisa dan tidak akan

Aku menghargai kamu

Kamu menghargai aku

Aku tidak peduli orang bilang apa

Udah tau beda, kenapa masih dilanjutin sih?”

Jalanin dulu aja terus, nanti malah makin sakit”

Aku tidak peduli

Aku sangat tidak peduli

Bagiku, cukup saling menghargai dan saling menguatkan saja

Kamu selalu menghargai aku

Kamu selalu menguatkan aku

Kamu yang selalu bilang, “Tuhan akan kasih yang terbaik.”

Aku yang selalu yakin bahwa hubungan ini akan berakhir baik

Selalu yakin

Karenamu

Aku tidak pernah terpikirkan kita akan sampai di titik sini

Ketika kita mulai bertanya-tanya

Ketika kita merasa bingung

Siapa yang mampu menguatkan?

Siapa yang mampu meyakinkan?

Ketika keraguan itu mulai muncul dari orang yang selalu aku percaya

Aku harus mencari kepercayaan itu ke mana?

Ketika kamu mulai sadar bahwa hubungan ini entah di bawa ke mana

Aku harus mencari arah ke mana?

Aku sakit

Bolehkah aku bertanya, Tuhan, mengapa orang bilang perbedaan itu indah?

Ternyata perbedaan tidak seindah itu

Perbedaan itu kian mengikis perasaan ini

Semakin terasa pedih

Aku hanya memohon

Kepadamu

Orang yang selalu aku puja

Orang yang selalu aku sebutkan namanya di dalam doa

Jangan pernah sekalipun merasa ragu

Jangan pernah sekalipun merasa bingung

Jangan pernah sekalipun merasa semua ini sia-sia

Ketika kamu merasa seperti itu

Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa

Aku hanya terdiam

Aku bingung

Aku hanya bisa menulis

Bahkan untuk menyampaikannya padamu, aku pun tak berani

Aku sadar

Aku pun paham

Aku tidak akan bisa mengucap janji suci di gereja

Kamu tidak akan bisa melantunkan ijab qabul di masjid

Tidak akan pernah bisa

Serta tidak akan mau

Lantas, ke mana Tuhan membawa kita?

Aku akan terus mencari jawaban itu

Tapi, aku tidak bisa berjalan dan mencarinya sendiri

Maukah kamu untuk ikut mencari jawaban itu?

Karena

Pertanyaan itu tak akan terjawab

Bila ada salah seorang yang mundur

Maaf, aku harus menuliskannya di sini.

Bandung, 21 November 2016

Medina Savira

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.