NBC | Getty Images

Berbisnis Perlu Kedewasaan. Tapi Apa Bisa?

Ketika bisnis perlu diperjuangkan, kedewasaan tidak diperlukan sesaat.

Imanzah Nurhidayat
Sep 9, 2018 · 3 min read

Sudah pada tahu lah ya…Ada kategori teman yang enaknya temanan aja, ada juga teman yang enak diajakin bisnis. Bagi saya, kok rasanya gak enak ya kalau terus-terusan mengkotak-kotakan pertemanan. Perasaan gak enakan pun berubah jadi pembenaran ketika gagal berbisnis dengan teman cukup bilang ,”kita temanan aja ya, bisnisnya udahan bareng secara gak cocok kita bisnis barengan”. Yang dilanjut dengan ,” Sepertinya gw cocoknya bisnis bareng dia gak bareng lo , gitu loh”. Lah elah elah ee lah, udah kayak anak kimcil pacaran pake cinta monyet. “kita temenan aja ya, aku mau putus sama kamu, jangan marah ya dan tetap temenan”. Temenan aja terus sama mantan, enak deh. Enak banget kan jadi anak kimcil?

Apakah kita sekarang dengan ,membina jejaring, dari berteman menjadi jalinan bisnis, masih seperti dulu jaman cinta monyet itu kah? Apakah kalau gak nyambung bisnisnya satu sama lain, batal kongsi, dan kemudian bakalan tetap jadi teman dengan mantan partner bisnis, oh tidaakk! Muka bakal gitu-banget kalau papasan, baperan deh jadinya. Kita bakal baperan kalau bisnis si mantan partner melejit di saat bisnis kita sendirinya lagi jatoh, tiba-tiba aja jadi minder.

Itu ceritanya ketika sudah makin dewasa justru sudah lupa bahwa dulu ketika kimcil kalau musuhan sama temen ya masih bisa terus temenan , walaupun statusnya mantan dan suka sebel kalau lihat doi jalan sama geng atau partner barunya.

Saya baru saja sadar ada sesuatu yang mengganjal ketika kita tidak seperti anak kimcil sama-sekali. Kita tidak bisa lagi moveon dengan gampang, cari geng baru, gampang ngelupain ketika mantan tiba-tiba nanya kabar. Semakin kita dewasa, seni CLBK ini jadi makin susah dijabanin. Orang bilang bahwa (dewasa) berbisnis intinya pada kepercayaan, ahh..yakin? Bahkan anak kimcil saja lebih baik dari orang dewasa dalam hal ngebohongin temen sendiri lalu baikan bahkan balikan lagi sama mantan, mereka (kimcil) lebih fasih bersiasat menjaga kepercayaan, helloo…Aneh banget lah. Makin dewasa, kita makin kehilangan muka “innocent” , polos, yang lugu.

Akhirnya segalanya jadi ringsek, karena kita makin dewasa. Yang kita benar-benar perlukan sebagai pendewasaan adalah ide-ide untuk mencari lagi muka lugu untuk menambal baper dari rusaknya roda kolaborasi dari persaingan bisnis yang ada saat ini. Kolaborasi, meetup, ngupi bareng, konsorsium, masih akan seperti yang sudah-sudah penuh dengan, cintamu palsu! sikut-sikutan, senyum joker, dan jabatan tangan hangat spanduk caleg, masih akan seperti itu kecuali ada yang ngasih ide radikal untuk kita semua berhenti cepat dewasa. Sudah terlalu prematur sekarang ini, terlalu muda para pengambil keputusan menginjak dewasa tanpa pernah berhenti sejenak hening balik (CLBK) menjadi kanak-kanak ketika melakukan negosiasi bisnis. Mending jadi seperti politisi: gak ada teman, gak ada lawan. Namun dengan agenda dan janji-janji yang lebih mulia, tentunya. Tidak seperti yang sudah-sudah, hanya pake kedok seperti politisi aja kita ini jadinya.

— Iboy

Jakarta, udah 9 September 2018 aja namun tetap mesra walaupun (ada) kita bukan teman (bisnis) lagi.

Cukuplah saja berteman denganku/Janganlah kau meminta lebih/Ku tak mungkin mencintaimu/Kita berteman saja/Teman tapi mesra

Aku memang suka pada dirimu/Namun aku ada yang punya/Lebih baik kita berteman/Kita berteman sajaTeman tapi mesra//

Imanzah Nurhidayat

Written by

Intrapreneurship and innovation consultant//Cofounder and CIO Corechain.id

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade