Buat Apa Blokir — Lebih Baik Kita Melipir Nonton Rio Haryanto di Netflix.

Sesuatu yang absurd bakalan jadi realita.

Sulit hilang ingatan tentang gaduhnya pemblokiran terhadap Netflix yang dilakukan oleh Telkom. Kontroversi atas diluncurkannya layanan berbayar Netflix yang mengalir di pipa internet dari penyedia jasa internet di Indonesia. Netizen dapat menikmati konten video berkualitas dengan membayar biaya langganan ke Netflix sekalian menghabiskan kuota paket data internet. Kalau tidak puas dengan besaran kuota internet nya maka netizen selaku pelanggan Netflix dapat melakukan top-up atau rajin tepat waktu membayar biaya langganan internetnya ke penyedia jasa internet favorit di kota masing-masing.

Tak selamanya ber-internet itu menyenangkan yang kadang sering juga kesal dengan koneksi internet yang lemot. Sama halnya jika lagi asik nonton tivi eh listrik mati. Kalau listrik mati yang dimarahi adalah PLN. Kalau main bola terus timnas kalah yang disalahin wasit. Nah, kalau lagi asik nonton Netflix tiba-tiba streaming video nya terputus, salah siapa? Cek dulu apakah salah PLN atau salah Wasit.

Kalau cek-cek lini masa di socmed maka yang dijadikan sasaran adalah itu salahnya Telkom. Telkom sebagai wasit meniup koneksi internetnya untuk menghentikan keasikan pelanggannya yang tak hanya sedang menonton namun juga sedang … chill di dalam stadion bola. Netflix and Chill, begitu semboyan dari Netflix. Netflik yang telah bersiasat menghadirkan big match di hadapan pemirsanya dipaksa untuk menghentikan segala bentuk aksi dan drama yang terjadi di lapangan pita lebar yang dimiliki Telkom.

Netflix yang berbisnis tayangan video berlangganan tidak merasa perlu memiliki asset tidak bergerak seperti stadion bola dengan lapangan rumputnya. Netflix cukup membuat poster mengajak masyarakat Indonesia untuk menonton big match big match dari artis dan sutradara holliwood berkaliber box office dari kursi stadion dengan membayar tiket langganan bulanan menonton tayangan match dari Netflix sepuas-puasnya.

Untung saja di era informasi saat ini stadion bola itu dimungkinkan bisa buka 24/7 yang pintu masuknya hanya ditutup jika wasit menyatakan bahwa pertandingan/match dibatalkan karena ulah penonton yang tidak tertib atau permainan tim yang tidak sportif dari banyaknya pelanggaran yang terjadi dan kecurangan-kecurangan pemain dan tim selama pertandingan. Kalau sudah begitu dapat diterima kah bahwa keputusan wasit tidak dapat diganggu gugat selama pertandingan? siapa wasitnya yang mengatur jalannya pertandingan Netflix yang ditonton Netizen ? dalam hal ini provider seperti Telkom adalah layaknya wasit.

Bayangkan saja Telkom bisa sangat berkuasa meniup peluit untuk membubarkan Netflix. Kemudian Netizen pun mengamuk. Rusuh. Gaduh di lini masa socmed. Wasit goblok, kata-kataannya. Secara konsep Wasit adalah Telkom, Pemilik Klub Bola adalah Netflix, sedangkan fans dan hooligans nya adalah netizen yang membayar tiket nonton terusan reguler. Eh iya, lalu PSSI nya siapa tuh? juga dengan bagaimana kuatnya organisasi, yang meniup arus informasi , bisa setara FIFA dalam konsep Netflix sebagai pemilik klub bola.

Jika para perusahaan yang berbasiskan ide dan pengetahuan seperti facebook, google,Apple, dan Netflix bisa terhubung dengan perusahaan industrialist seperti Pertamina dalam mendistribusikan program acara pertandingan antar klub dan juga antar negara secara merakyat dengan fleksibel tanpa bentrokan jadwal dan kepentingan golongan tertentu dengan dana abadi yang dapat diperbaharui , akankah mungkin bisa ada sokongan dana partisipatif untuk melahirkan Rio-Rio baru dari Indonesia di kancah olahraga dunia siber? #ehloh secara ngomongin internet, jaringan, teknologi, maka serasa nantangin Pertamina untuk transformasi menjadi perusahaan digital industrial sehingga semangat energi terbarukannya bisa terwujud dengan teknologi sebagai pondasinya.

*disclaimer : Terima Kasih sudah membaca ye, tulisan ini jauh dari nyinyir tapi nunjuk-nunjuk , kurang valid males cekricek sumber, jauh dari fokus cenderung ngacak, serta tidak memikirkan typo, edit, alias No Filter. Maaf atas segala kekurangannya — Ogut ini apalah.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Imanzah Nurhidayat’s story.