Yang Tak Beranjak

Ada jiwa yang meniupkan beberapa lupa pada sisa rindu tak berbalas kemarin, tak jua pergi. Dipanggilnya badai lalu, tak jua pergi. Sudah merasa rumahnya, rindu menetap di dada itu, diam dan tinggal. Berhari-hari, kemudian berbulan-bulan. Menahun. Ibu rindu tak menjemput. Ibu rindu adalah pemiliknya. Letaknya di dalam jiwa yang lain. Sialnya, ibu rindu merasa beranakan cinta, cinta hidup pada jiwa lainnya, ditemuinya selalu lewat genggaman dan peluk-peluk. Sesekali lewat cium.

Rindu tak sakit lalu pulang. Rindu justru berakar. Didiaminya dada jiwa yang tak mampu berkata, mulutnya bungkam hanya tahu senyum. Tak tahu mengusir. Sabarnya pemilik dada lalu membuatnya sakit karena semakin banyak rindu yang menjalar.

Tapi ibu rindu tak salah, katanya. Dibiarkannya rindu tinggal berabad. Lalu jiwanya semakin sakit. Lalu jiwanya mati.