Maesy

Source: https://weheartit.com/entry/292606596

Maesy hari ini mandi pagi-pagi sekali. Dia bahkan menggunakan lulur juga body lotion yang dibelinya dari mini market setahun lalu yang tanggal kadaluarsanya bulan depan, hanya berbeda tiga hari lebih cepat dari tanggal kadaluarsa lulurnya. Perlu diketahui, Maesy adalah wanita yang kesetiaannya tidak diragukan lagi pada kelompok orang-orang yang mandi tiga hari sekali. Tadi malam, Maesy memutuskan bahwa dia telah jatuh cinta. Mungkin ini alasan mengapa Maesy sudah bersih-bersih diri pagi-pagi sekali. Merayakan hati yang sedang warna warni. Maesy jatuh cinta setelah melewati dua kali bincang-bincang dengan seorang lelaki melalui layanan telepon yang tersedia di facebook, yang entah mengapa dia tidak memilih untuk video call saja supaya bisa melihat lelaki yang kelak –setidaknya menurut dia– akan menjadi kekasihnya.

Lelaki pujaan Maesy tidak menggunakan nama aslinya di facebook. Pada Maesy, ia mengaku bernama Marco. Itulah sebabnya foto profilnya kemudian hanya berupa gambar yang didominasi background berwarna merah dan terpampang huruf ‘M’ berwarna kuning. Daripada ‘Marco’, Maesy lebih mantap mengingatnya dengan nama ‘Donald’, dikarenakan foto profil si lelaki yang mengingatkannya pada logo restoran cepat saji. Kalau-kalau Maesy hendak membayangkan wajah si lelaki yang belum ia tahu persis, maka sosok paman badut restoran cepat saji itu yang muncul, disusul bayangannya akan kentang goreng, ayam goreng, es krim topping oreo, …

Dikenakannya sneakers yang umurnya sudah lebih tua daripada umur masa sendirinya setelah ditinggal kawin oleh mantannya bersama wanita lain, kira-kira 5 tahun sekian bulan. Dia akan ke café yang paling dekat dari rumahnya, meski pada kenyataannya lumayan jauh. Dia memilih untuk berjalan kaki agar bisa membunuh waktu sambil menimbang-nimbang topik apa yang akan dia bicarakan ditelepon. Pulsanya habis dan dia tidak bisa internetan. Daripada harus membeli pulsa, Maesy memilih nongkrong di café dan menikmati wifi gratis dengan membeli segelas es teh lemon seharga tujuh ribu rupiah –belum pajak, untuk kemudian berbincang-bincang dengan ‘calon kekasihnya’.

“Sudah jam 10, sekarang!” bisik pelan Maesy pada layar ponselnya sembari menggigit ujung sedotan es teh lemon. Ditelepon kemudian si lelaki.

Sekali,

Dua kali,

Tiga kali,

Tujuh belas kali,

“Sial!” Maesy mulai dongkol.

Tiga puluh delapan kali,

“Brengsek!” Katanya sambil memukul meja, persis adegan sinetron. Suaranya nyaring terdengar sampai tiga meja didepannya. Orang-orang mulai berbisik-bisik merespon tingkah Maesy namun tak ia hiraukan. Dia sibuk dengan emosinya sendiri sembari menerka apa yang sedang dilakukan lelaki yang sudah berjanji akan berbincang-bincang dengannya tepat jam 10 pagi melalui telepon facebook.

Dikarenakan marah yang memuncak, Maesy merasa butuh banyak minum untuk meredam bara dalam dirinya. Dipesannya lagi segelas es teh lemon seharga tujuh ribu rupiah –belum pajak. Kemudian disusul gelas ketiga.

Keempat,

Kelima,

Keenam,

Lalu uangnya habis.

Marco merespon lewat chat.

“Ada apa, Maesy?”

Maesy lantas membatin, ‘ADA APA KATAMU?!!!’

Kali ini Maesy sungguh ingin menenggelamkan dirinya ke dalam bak mandi berisi es teh lemon lengkap dengan gula cair. Dia bahkan sudah menelepon lelaki pujaan hatinya lebih banyak daripada jumlah tanggal merah di kalender 2017 dan lelaki itu hanya bisa membalas ‘Ada apa, Maesy?

“SEDANG APA KAMU? BUKANKAH KITA SUDAH SEPAKAT AKAN NGOBROL JAM 10?” balasnya.

“Lantas mengapa kalau aku mendadak tidak bisa? Aku sedang sibuk bermain catur.”

“KAU BISA BERMAIN CATUR DAN MENGABAIKAN PANGGILAN TELEPONKU?”

“Ya! Memang kenapa?”

“AKU JELAS TIDAK AKAN MAU BERPACARAN DENGAN LELAKI SEPERTIMU. MENGABAIKAN PULUHAN TELEPONKU DEMI BERMAIN CATUR.”

“hahaha. Apakah kamu waras, Maesy? Aku bahkan tidak pernah mengajakmu pacaran. Kita cuma berteman di facebook dan itu hal biasa bila sesekali berbincang ditelepon, kan?”

Maesy lalu diam. Sadar bahwa ia baru saja mempermalukan dirinya sendiri.

Maesy lalu sakit hati. Marco ternyata tak ingin mengajaknya pacaran. Terlebih, seluruh uangnya habis untuk membeli enam gelas es teh lemon. Padahal uangnya bisa dia pakai untuk membeli pulsa seharga 50 ribu rupiah yang sisa pulsa dari teleponnya masih bisa untuk streaming drama korea. Tenaganya juga banyak dikeluarkan untuk menggosok seluruh daki ditubuhnya dengan lulur, padahal dia lebih suka bila hanya mandi tiga hari sekali. Dia juga rela berjalan kaki 20 menit sampai kakinya lecet karena tidak pakai kaos kaki, bukannya memesan ojek online dan menggunakan kode promo.

Sesampainya di rumah dengan keadaan perut kembung karena enam gelas es teh lemon, Maesy lalu berbicara pada dirinya sendiri, “Kalaupun semuanya sia-sia, maka jangan setengah-setengah. Sia-sia juga harus penuh-penuh.”

Diambilnya ponsel, dengan bantuan tethering internet dari ponsel adiknya –ingat, Maesy tak punya pulsa, juga uang– dibukanya aplikasi facebook, diteleponnya Marco.

Tak memakan waktu lama, telepon langsung dijawab.

“Ada apa lagi, Maesy?”

“Setelah mengabaikanku karena catur, kau mau jadi pacarku?”

“hahahaha. Kau memang sudah gila, Maesy!”

“kau, mau jadi pacarku?” Tanya Maesy lagi.

“Tentu tidak! Sinting!” Jawabnya.

“hahahaha. Terima kasih.” Tutup Maesy.

Lalu Maesy pun menangis sejadi-jadinya merayakan patah hatinya. Setelah berjam-jam, matanya masih saja basah dan kian bengkak. Maesy terus saja menangis di hari pertama patah hati karena Marco,

Lalu hari kedua,

Lalu hari ketiga,

Lalu dia mandi.