Perempuan dan Bulu Kaki

kok ngomongin bulu kaki? kok gak bahas alis aja? atau make up?

“View of the feet of friends relaxing in a pool in Petaluma” by Joe Pizzio on Unsplash

Kecantikan fisik seorang perempuan adalah hal yang paling banyak akar pembicaraannya. Jadi, saya ingin mengkhususkan pada satu topik saja, dan topik yang menarik bagi saya (dan mungkin juga bagi kalian yang baca) adalah tentang bulu kaki.

Sedikit share, dalam perjalan saya ke cafe dekat kampus, saya melihat seorang mahasiswi yang mengenakan rok selutut dan kaos kaki (setelah saya googling, ukuran tinggi kaos kaki yang dimaksud adalah ukuran trouser). Kakinya lumayan jenjang, sehingga saya dengan sangat jelas dapat melihat bulu kakinya yang lebat. Bukan karena dia terlihat malu-malu lalu saya buat tulisan ini, sebaliknya, dia sangat santai dan biasa saja.

Tidak begitu dengan saya dulu. Saya sangat malu memiliki banyak bulu kaki. Tangan saya juga berbulu. lebat sekali. Kalau saya merinding, kalian akan sangat jelas melihat bulu tangan saya berdiri, di posisi terjauh sekalipun sungguh kalian akan dapat melihatnya. hahahaha. Monyet, kera, dan semisalnya adalah lawakan paling sering yang saya dapati dari beberapa teman. Saya lalu akan sangat tersinggung. Pada saat SMP (saya lupa persisnya kelas berapa), saya melihat kakak sepupu saya begitu mulus kakinya. Samar-samar saya mendengar bahwa dia mencukur habis bulu kakinya. Tanpa pikir panjang, saya pun mengikuti apa yang dilakukannya. mencukur bulu kaki! Jika sedikit saja tumbuh, sependek apapun itu, saya cukur. Begitu seterusnya. Hingga SMA. Lalu kuliah. Seiring waktu, saya tak lagi mencukur, melainkan waxing.

Saya dulu sering berpikir bahwa jika saya berbulu kaki lebat, bagaimana bisa saya percaya diri mengenakan rok atau celana pendek?

Singkat cerita, saya sangat terganggu dengan adanya bulu kaki. Padahal, pada kenyataannya, saya cuma terganggu dengan banyak komentar negatif dan atau lawakan monyet-monyetan itu. Saya juga terganggu dengan pemikiran-pemikiran bahwa berbulu itu tidak cantik. Atau, berbulu kaki lebat itu seperti laki-laki. Atau, perempuan berbulu kaki lebat itu aneh. hahahaha. Terlalu banyak pemikiran umum yang saya aminkan sebagai pemikiran pribadi, yang padahal way of thinking khalayak umum belum tentu selalu benar adanya.

Melihat mahasiswi yang saya ceritakan diatas, saya menyadari bahwa tidak semua orang akan merasa minder karena hal-hal sepele seperti kaki lo berbulu, alis lo gak ada, idung lo pesek banget, lo kurus banget, lo gendut banget.

Btw, saya sudah jarang mencukur atau waxing bulu kaki saya karena setelah di re-think, saya tidak merasa ada yang salah atau buruk dengan seorang perempuan yang berbulu kaki lebat maupun tidak. Saya juga sudah berhijab sehingga harus pakai celana atau rok yang panjang.

Kalau kamu punya banyak bulu kaki, terus kamu merasa minder karena alasan-alasan diatas lantas mau dicukur, JANGAN! Kamu tidak buruk atau jelek dengan bulu kaki. Pemikiran orang saja yang perlu diluruskan. Lagipula, bulu yang tumbuh nantinya akan tajam-tajam. Hahaha. Sehingga kau harus terus mencukurnya setiap kali tumbuh. Pakai saja rok dan celana yang ingin kamu pakai tanpa merasa minder! Jangan jadikan standar seseorang sebagai standar untuk dirimu juga.

Salah satu alasan yang menggerakkan saya menulis tulisan ini juga adalah setelah saya melihat postingan social experiment Gita Savitri dan postingan youtube channelnya pada section beropini tentang body positivity, beauty standard, loving yourself, dan saya setuju dengan beberapa poin penting yang dia sampaikan. Nonton!

Saya setuju dengan pemikiran Gita bahwa “Standar cantik itu siapa yang bikin? Gak ada.”

Karena, kalau cantik itu ada standarnya, maka ketika seseorang tidak mencapai standar itu maka artinya dia tidak cantik! Seriously?

Cantik versi tiap orang mungkin beda-beda, tapi kalau cantik itu ada standarnya… emmm

Oh iya, sebagai tambahan, jika mencukur atau berusaha menghilangkan bulu kaki karena sebuah tuntutan profesi misalnya, maka tentu tidak ada salahnya. tapi kalau karena beberapa alasan seperti yang saya maksudkan diatas, disayangkan saja. hehehe. Satu lagi, ini cuma opini. Kalaupun kalian merasa tak mengapa dan enjoy untuk selalu menghilangkan bulu kaki, that’s your choice then. Tapi jangan lalu membuat kesan bahwa perempuan yang berbulu kaki lebat tidak cantik, nampak buruk dan semisalnya, yaaa.

*Tingkat respon seseorang berbeda-beda. Kalian bisa jadi sangat mampu menerima dan menanggulangi dengan baik kritikan atau lawakan dari orang lain yang disampaikan dalam bentuk negatif sekalipun. Tetapi seorang lainnya belum tentu demikian, seorang lainnya belum tentu sebaik kalian dalam merespon suatu hal. Maka dari itu, kritikan, komentar, lawakan, atau bentuk komunikasi apapun itu, apalagi tentang fisik (hehehehe, menyesuaikan dengan topik) sampaikan dengan baik dan bijak, ya kawan-kawan!*