Aku dan penjara

Berpegang pada jeruji yang menjadi teman setia. Kadang menunduk dan senyum. Wajah pucat layu tak terlihat. Memasang topeng sebagai tameng. Penjaraku kini mulai membesar. Tak memandang pada tubuhku dan gerikku yang semakin kecil atau inginku yang ingin melambung tinggi. Bercerita pada tembok atau mengusap air mata dengan catnya. Kini hanya tertunduk pada keadaan yang tak menopangku untuk keluar. Begitu kuat magnetnya hingga selangkah atau menatap saja hanya akan menyakiti diri sendiri. Kini kutelan mentah kepahitan yang kau buat hingga aku tak mengenal diriku lagi. Seperti sosok lain terlihat bebas dan tak punya etika. Pun aku akhirnya berada di luar diriku harapku suatu saat aku bisa lepas dari penjara mematikan ini.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.