Resensi film: Zootopia

Penilaian: 5/5

Pada masanya, kartun adalah Disney dan Disney adalah kartun. Di era 1940-an hingga awal 1990-an tidak ada satupun studio film yang mampu menandingi kejayaan Disney di dunia animasi. Lalu… lahirlah Pixar. Dan standar baru untuk film animasi pun muncul, baik secara teknologi maupun kualitas cerita.

Berbagai usaha dilakukan oleh Disney mengembalikan nama baiknya, yang sering kali tidak cukup sukses, dan akhirnya membuahkan hasil di 2013 dengan dirilisnya “Frozen”, yang sukses luar biasa baik dari penjualan tiket maupun dari apresiasi positif para kritikus film.

Pertanyaannya adalah, apakah kesuksesan “Frozen” hanya sebuah kebetulan? Sepertinya tidak. Ini dibuktikan oleh Disney dengan dirilisnya “Big Hero 6" di 2014 dan sekarang… “Zootopia”.

Film “Zootopia” dimulai dengan pengambaran sebuah dunia dimana hewan berevolusi menjadi mahluk berperadapan tinggi layaknya manusia (di dunia ini manusia tidak pernah ada), yang bahkan hewan jenis “pemangsa” dan “mangsa” pun dapat hidup berdampingan. Dan puncak dari peradaban tersebut adalah sebuah kota megapolitan bernama Zootopia.

Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) yang lahir dari pasangan kelinci, Stu dan Bonnie, di sebuah desa bernama Bunnyburrow menjalani masa kecilnya dengan impian bisa menjadi polisi di Zootopia. Sebuah impian besar yang bahkan orang tua Judy pun tidak sepenuhnya mendukung menggingat tidak pernah ada kelinci sebelumnya yang berhasil lulus dari akademi kepolisian.

If you don’t try anything new, you’ll never fail.
- Stu Hopps -

Sepertiga awal film berisi kisah Judy yang, walaupun akhirnya berhasil lulus dan dikirim bertugas ke Zootopia, harus menjalani karir polisinya dengan berbagai rintangan mulai dari sikap diskriminatif atasannya hingga pertemuannya dengan rubah penipu bernama Nicholas “Nick” Wilde (Jason Bateman).

Titik cerah muncul ketika Judy akhirnya mendapat kesempatan untuk menangani kasus hilangnya beberapa hewan secara misterius. Dan bekerja sama dengan Nick, sebagai seseorang dengan koneksi luas di Zootopia, adalah satu-satunya peluang untuk memecahkah misteri tersebut.

Film garapan sutradara Byron Howard (“Tangled”) dan Rich Moore (“Wreck-It Ralph”) ini mampu menghadirkan cerita detektif untuk penonton anak-anak tanpa membuat para penonton dewasa jemu. Setiap petunjuk yang ditemukan saling terhubung dengan cukup cerdas untuk membuat otak penonton terjaga.

Namun hal paling menarik dari film ini adalah pesan tersirat mengenai kesetaraan sosial dengan memakai analogi berbagai jenis hewan. Beberapa adegan cukup jelas menyindir isu soal ras di sepanjang film. Seperti saat Judy merasa tidak nyaman ketika salah satu polisi menyebut dirinya “cute”, yang dianggap sebagai penyebutan yang merendahkan dari hewan besar kepada hewan kecil seperti kelinci.

Ooh, ah, you probably didn’t know, but a bunny can call another bunny ‘cute’, but when other animals do it, that’s a little…
- Judy Hopps -

Pesan kesetaraan sosial semakin jelas di sepertiga akhir film dimana terungkapnya misteri hilangnya para hewan justru mengangkat permasalahan baru yang mengancam ketentraman seluruh penduduk di Zootopia, yang selama ini diagung-agungkan sebagai kota idaman seluruh jenis hewan.

Terlepas dari mampu tidaknya penonton (anak-anak ataupun dewasa) manangkap pesan tersebut, hasil dari kerjasama Ginnifer Goodwin, Jason Bateman dan para animator di Walt Disney Animation Studio dalam menghadirkan duet dari dua protagonis utama dengan bebagai perilaku dan sifat yang sangat berlawan satu sama lain, adalah sebuah tontonan yang luar biasa menghibur. Setiap lelucon disampaikan dengan cerdas. Kemunculan dari beberapa figuran seperti Flash dan Mr. Big juga sangat menghibur dan, walaupun tidak tampil lama, akan menjadi karakter yang diingat oleh setiap penonton yang meninggalkan bioskop.

“Zootopia” jelas tidak punya kompleksitas latar belakang cerita layaknya film-film Pixar seperti “WALL-E”, “Up” ataupun “Inside Out”, namun untuk kategori sebuah film animasi keluarga, “Zootopia” tidak kekurangan apapun.

Official Teaser Trailer
Official Trailer