Debar

Lana, sekarang aku minum kopi lagi.
Karena sudah tidak ada yang membuatmu berdebar, ya?
Aku tertawa.
Lana menyalakan rokoknya sebelum ikut tertawa, Ceritakan padaku bagaimana kamu akhirnya berhenti jatuh cinta?
Namun, aku kehilangan kata. Laki-laki yang pernah kujatuhi cinta baru saja melangkah keluar dari pintu belakang gedung. Angin menerbangkan rambutnya, membuatku teringat pada aroma masa lalu. Ia selalu keramas di pagi hari dan mengeringkan rambutnya di bawah matahari.
Laki-laki itu menatapku, lalu duduk pada bangku taman berjarak tiga meter di hadapanku.
Dari tempatku, aku bisa melihat bahunya yang lebar, juga jejak bulu-bulu halus di wajahnya. Dia terakhir bercukur dua hari lalu.
Jawab, Lana membuyarkan imajiku.
Aku tidak tahu, aku mengangkat bahu. Tiba-tiba saja ia menghilang dari hatiku, kulepas kacamataku.
Lana lalu menatap berkeliling dan pandangannya berhenti pada laki-laki itu, Mengapa kamu selalu melepas kacamatamu setiap kali ia hadir?
Laki-laki itu menghembuskan asap rokoknya dan mendongak menatap langit. Ia tahu, aku tengah memandanginya.
Jawab aku, lagi-lagi Lana membuyarkan imajiku.
Aku tertawa dulu, Karena dengan ini ia jadi terlihat samar-samar.
Lana terlihat bingung.
Aku tidak bisa melihatnya di dunia nyata dengan imajinasi yang mengisi kepalaku. Jika melepas kacamata, sosoknya jadi samar dan imajinasiku bisa tetap hidup.
Lana semakin bingung.
Apa yang terjadi pada kalian sebulan lalu? Lana bertanya.
Aku menatapnya.
Kudengar kalian tidur bersama.
Kali ini aku tertawa begitu kencang sampai laki-laki itu menoleh dan memperhatikan. Aku memang pulang ke tempatnya, tapi kami tidak melakukan apa-apa. Kami berbincang sepanjang malam, tentang hal-hal yang tidak pernah bisa kami bicarakan di depan orang-orang.
Apa? Lana menyalakan rokoknya yang kedua.
Di tempatnya, laki-laki itu menyibak rambutnya. Ia tampan.
Kamu belum berhenti jatuh cinta, Lana akhirnya berkata.
Aku tertawa lagi, Aku tidak tahu ini namanya apa.
Apa yang kalian bicarakan malam itu?
Hal-hal yang orang lain tidak boleh tahu.
Kamu mengaku ya kalau menyukainya?
Aku menggeleng, Ia mengenalkanku pada teman sekamarnya.
Sekarang Lana pucat pasi, Ia tinggal bersama seseorang?
Ya. Laki-laki. Aku menatap laki-laki itu. Ia sudah mematikan rokoknya dan bersiap-siap pergi.
Sekarang Lana kehilangan kata.
Jeda. Hanya ada angin menerbangkan rambut kita.
Mungkin lebih baik kamu melihatnya mati, aku tahu Lana akan mengatakan ini.
Aku menyeringai, Kamu tidak pernah tahu apa yang kuucapkan dalam doa. Setiap malam. Sejak hari itu.
Jadi, bagaimana akhirnya kamu berhenti jatuh cinta?
Aku masih tetap mencintainya, tapi dengan cara berbeda. Rokokku sudah habis.
—
Central Park Mall, 27 Agustus 2018.
Mengapa diberi judul Debar? Karena aku tahu, kamu akan jadi berdebar sewaktu membaca ini.
