Di Lobi
Perempuan itu tersenyum sewaktu memasuki lobi. Tubuhnya begitu kecil hingga seringkali luput terdeteksi sensor pintu. Namun hari ini, sensor pintu tidak melewatkannya.
Senyumnya jadi makin lebar sewaktu dilihatnya dua laki-laki melangkah dari arah tangga basement. Ia jatuh hati pada laki-laki berkaus merah.
Perempuan itu lalu berjingkat-jingkat di belakangnya, ia ingin agar langkah mereka sejajar. Sayangnya si laki-laki berkaki jenjang sehingga perempuan itu tidak bisa mengejar.
Mereka pun bertemu di depan lift. Laki-laki berkaus merah tersenyum padanya. Ia juga bertanya apakah perempuan itu sudah sarapan. Perempuan itu menjawab sudah, lalu balik bertanya apakah laki-laki berkaus merah sudah sarapan. Di mana? Bersama siapa?
Barangkali laki-laki itu bisa membaca isi kepalanya karena dijawabnya seluruh pertanyaan si perempuan bahkan yang tidak diucapkan. Saya sudah sarapan di dekat rumah, bersama dia. Laki-laki berkaus merah mengerling pada seorang yang sejak tadi berjalan di sampingnya. Yang ditunjuk tersenyum, tapi tidak semanis senyum laki-lakinya.
Sepi merayap ke udara. Perempuan itu menatap laki-lakinya. Sesosok yang ditatap itu menyadari, lalu memberi senyum manis yang sudah sejak tadi ditunggunya.
Tuhan. Perempuan itu selalu menikmati setiap kali si laki-laki tersenyum sampai seluruh matanya lenyap. Barangkali, itu sepasang garis lengkung paling indah yang pernah dilihatnya selain pelangi. Lalu ia akan diam-diam mengamati saat si laki-laki membuka mata. Jalinan bulu mata tebal dan panjang akan membentur bagian dalam lensa kacamatanya sebelum menampilkan sepasang mata yang begitu jernih. Saat itu jantungnya akan berhenti berdetak, sejenak.
Pintu lift terbuka. Sepi masih merayap di antara mereka. Perempuan itu diam-diam berdoa agar dengung lift menyamarkan detak jantungnya. Menit-menit bisu berlalu. Tibalah saat yang paling dibencinya sewaktu si laki-laki mengucapkan selamat berpisah dan meninggalkannya melanjutkan perjalanan sendiri.
Pada pagi di hari berikutnya, perempuan itu kembali melewati lobi dengan tersenyum. Sensor pintu berhasil mendeteksinya. Namun, senyumnya langsung lenyap waktu dilihatnya bayangannya sendiri pada tembok marmer di seberang. Refleksi dirinya terlihat begitu jelas. Mengapa kemarin si laki-laki tidak berhenti untuk menunggunya?
2015