LIFT

Ia seperti sundal, itulah yang kupikirkan saat setahun lalu kami pertama kali berkenalan.

Ia senang sekali memakai rok di atas lutut. Kerah bajunya pun selalu terlalu rendah atau terlalu lebar, sehingga orang-orang bisa dengan mudah melihat tali branya yang berwarna hitam.

Di hari-hari tertentu, ia akan memakai maskara tebal, juga lipstick warna merah darah. Meski begitu, ia selalu jadi yang pertama mengambil wudu saat azan berkumandang.

Begitu pun hari ini. Ia langsung menghentikan pekerjaannya sewaktu azan zuhur terdengar dan langsung menukar sepatunya dengan sandal.

Mau bareng? seperti biasa ia mengajakku. Iya, aku tersenyum. Ia balas tersenyum padaku. Ayo kita wudu sama-sama, ujarnya lagi. Aku menurut dan mengikutinya ke kamar mandi.

Sebenarnya, kami tidak boleh berwudu di sana. Ada peraturan dari pengelola gedung. Selain membuat sekeliling wastafel basah, rupanya banyak perempuan terpeleset dan jadi cedera saat menaikkan kakinya ke atas wastafel. Namun selama pengelola gedung tidak melihat, kami tetap melakukannya.

Selesai wudu, disekanya sisa air di wajahnya perlahan-lahan. Dulu aku pernah menawarinya tisu, tapi ia tolak. Sebaiknya air wudu tidak dilap, ujarnya. Kuingat hari itu aku hanya tersenyum dan tetap mengelap sisa air wuduku sebelum memakai jilbab. Lalu kami akan bersama-sama memasuki lift, untuk pergi ke musala.

Terdengar pintu lobi membuka saat kami menunggu lift. Ia menoleh dan jadi tampak gugup. Seorang laki-laki berjaket merah melangkah keluar. Tubuhnya tinggi besar dan bahunya lebar. Ia tersenyum pada si sundal.

Perempuan itu membalas senyumnya. Kulihat pipinya jadi bersemu merah. Si laki-laki lalu memuji pakaiannya. Bagus, kata si laki-laki, kamu jadi terlihat lebih langsing. Perempuan itu tertawa, tahu kalau si laki-laki menggodanya. Aku diam saja.

Mereka lalu bercakap tentang pekerjaan. Tugas utama perempuan itu adalah menulis cerita; artikel panjang tentang kehebatan perusahaan yang dipublikasikan pada berbagai macam media dalam bentuk advertorial. Singkatnya, perempuan itu pembual. Namun untuk membuat ceritanya tampak nyata, perempuan itu memerlukan angka.

Itulah alasan mengapa dulu keduanya saling bertukar nama. Si laki-laki bertugas mengolah data. Setiap hari ia akan menatap rangkaian bahasa biner di monitornya, lalu memasukkan fungsi yang tidak dimengerti si perempuan. Ia akan menarik data sesuai pesanan. Lalu data itu, masih dalam bahasa biner, akan dikirim ke tim yang memesan.

Namun perempuan sundal tidak mengerti bahasa biner, sehingga si laki-laki harus meluangkan waktunya selepas makan siang untuk menerjemahkan. Pertemuan itu rutin diadakan tiga kali seminggu. Pada hari-hati itulah, kuperhatikan, si perempuan akan memakai maskara tebal dan lipstick warna merah darah.

Pintu lift membuka dan aku masih mendengar percakapan mereka. Masih tentang data. Laki-laki itu memberitahunya kalau ia sedang membuat suatu program agar si perempuan tidak lagi bergantung padanya. Program itu akan menerjemahkan data yang ditariknya, langsung pada bahasa yang dimengerti si perempuan. Jadi kita bisa mengurangi meeting kita, tiga kali seminggu itu terlalu banyak, suara si laki-laki terdengar mengisi lift.

Kelak aku bisa membaca data yang kubutuhkan seorang diri, tanpa perlu mengganggumu lagi? si sundal bertanya untuk memastikan. Laki-laki itu tersenyum lebar, Ya. Oh, aku senang sekali! ujar perempuan itu sambil menatap si laki-laki dengan berbinar-binar. Meski tidak kentara di wajahnya, aku tahu kalau ia tidak senang. Aku tidak sabar ingin mencobanya, si sundal tersenyum manis. Lagipula, aku juga tidak ingin mengganggumu terus menerus, ditatapnya laki-laki itu.

Rasanya aku ingin tertawa kencang-kencang. Rupanya sundal ini bukan hanya pandai membual dalam tulisan, tapi juga dalam lisan. Sekarang kulihat laki-laki itu jadi tampak tidak tega, mungkin saat nanti kembali ke mejanya, ia akan langsung menghapus program yang sedang dibuatnya. Tidak apa, aku senang bisa membantumu, laki-laki itu lantas menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Ia gugup.

Pintu lift membuka, laki-laki itu melangkah lebih dulu dan melambai pada perempuan sundal. Duluan, aku mau sembahyang di masjid, ujar si laki-laki. Lalu perempuan itu balas melambai, pipinya masih bersemu merah.

Tenang saja, aku pandai menjaga rahasia.

-

Esok harinya perempuan itu datang terlambat, mungkin ia sudah hilang semangat. Aku tahu kalau alasannya datang ke kantor adalah untuk bertemu si laki-laki. Karena tugasnya menulis cerita, maka ia diperbolehkan bekerja dari mana saja. Penulis perlu tempat nyaman yang mendatangkan inspirasi, ujarnya suatu hari.

Halo, ia menyapaku saat baru tiba. Halo, balasku. Ia lalu membuka laptopnya. Sepuluh menit berlalu sejak laptopnya dibuka, tapi kulihat layarnya masih hitam. Awalnya, kupikir perempuan itu sedang berkaca. Jika sedang malas ke kamar mandi, ia akan membenarkan ikat rambut atau mengoleskan lipbalm dengan bantuan layar monitornya. Tentu layarnya harus gelap agar bayangannya dapat memantul sempurna. Namun sejak tadi, kulihat ia tidak membenarkan ikat rambut atau mengoleskan lipbalm. Ia hanya menatap layar monitornya lekat-lekat.

Penasaran, aku pun menggeser kursiku mendekat. Pada layar laptopnya yang gelap, kulihat bayangan si laki-laki pengolah data. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana laki-laki itu mengetik dengan wajah serius. Kutatap perempuan di sampingku dengan tidak percaya.

Samar-samar, kumandang azan zuhur terdengar. Sesosok pada layar laptop itu berhenti bekerja, lalu dengan khusyuk menjawab azan. Laki-laki itu lalu beranjak dari tempat duduknya, sementara si perempuan mulai menukar sandal.

Seperti kemarin, kami bertiga berada dalam satu lift. Kulihat lagi wajah si perempuan yang jadi bersemu merah setiap kali si laki-laki menyebut namanya. Saat pintu lift membuka, kulihat keduanya saling melambai sebelum berpisah.

-

2016