Partisi

Di kantor itu, ada partisi yang memisahkan lorong dan area kerja. Setiap pukul delapan malam, seorang perempuan akan mengendap-endap di sana untuk mengintip laki-lakinya.

Menjelang pukul delapan, ia akan berpura-pura mengisi botol minum atau berpura-pura ke kamar mandi, agar dapat meninggalkan ruang dan masuk kembali lewat resepsionis. Lalu tepat pukul delapan, ia akan melangkah memasuki ruang dan berhenti di balik partisi.

Pembatas ruang itu berupa tiang-tiang tembaga yang disusun melengkung di dekat lorong. Di baliknya, ada area kerja tak bersekat. Mejanya ada di sisi berlawanan dengan meja si laki-laki, maka ia hanya bisa memandanginya dari balik partisi.

Meja laki-laki itu ada di sebelah kanan partisi. Perempuan itu sudah tahu mana celah terbaik untuk memandangnya: Celah keempat dari sebelah kiri. Dari sana, meja laki-lakinya terlihat begitu jelas.

Pengintaian itu tidak pernah memakan waktu lama. Tentu perempuan itu tidak ingin aksinya kentara. Kadang ia hanya melintas sambil mengerling sekilas. Kadang laki-lakinya berkeliaran ke meja-meja yang lebih dekat dengan partisi. Jika itu terjadi, ia akan menilap rupa laki-lakinya banyak-banyak, sambil pura-pura berjalan lurus ke mejanya.

Perempuan itu juga selalu ingat setiap pengintaian yang dilakukannya. Pernah suatu malam laki-lakinya tidur sejenak, beberapa menit sebelum kembali menatap layar monitornya. Ia juga tahu kalau laki-lakinya kerap melepas kacamata, lalu memijat-mijat puncak hidungnya. Kadang laki-lakinya juga memijat kepala dan membuat rambutnya berantakan. Diam-diam, perempuan itu ingin menyelipkan jemarinya untuk merapikan.

Di malam yang lain, laki-lakinya kedinginan dan memutar badan untuk memakai jaket. Ia punya jaket tebal yang disampirkan pada sandaran kursi. Dua atau tiga minggu sekali, dibawanya jaket itu pulang untuk dicuci. Perempuan itu terus mengamati sewaktu laki-lakinya menarik resleting jaketnya. Kadang jemari kurus panjang itu bermain sejenak dengan resletingnya, sebelum berpindah memijat kepala. Perempuan itu pernah terpikir untuk membawa jaketnya pulang, mengenakannya saat tidur, lalu memulangkannya pagi-pagi sekali sebelum si laki-laki datang.

Laki-lakinya juga punya jam pulang: Tepat pukul sembilan malam. Bukan sekali perempuan itu mengulur-ulur waktu agar mereka bertemu di lift. Saat itu terjadi, mereka selalu bercakap sejenak, basa-basi yang tidak pernah dianggap oleh si laki-laki. Kadang jika perempuan itu sudah menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu, ia akan menunggu si laki-laki di belakang gedung.

Di dekat tempat parkir, ada bangku-bangku tempat merokok yang selalu dijadikannya tempat menunggu. Laki-lakinya akan melintas setelah perempuan itu selesai mengisap dua atau tiga batang rokok. Laki-lakinya tidak merokok, jadi ia selalu berpura-pura mencari WiFi atau memandangi bintang.

Tiap kali laki-lakinya melintas, perempuan itu akan melambai dan berpesan agar berhati-hati di perjalanan. Laki-lakinya selalu membalas setiap pesan dengan senyum sopan atau lambaian tangan. Sesekali juga, yang begitu jarang, laki-laki itu menemaninya duduk sejenak, lalu memintanya pulang. Perempuan itu selalu menurut meski laki-lakinya tidak pernah mengantar.

Namun hari ini, laki-laki itu tidak ada di mejanya. Mejanya kosong dan monitornya mati. Perempuan itu bergerak-gerak gelisah di balik partisi. Ia mengintip dari setiap celah, mengedarkan pandangan ke seluruh ruang, tapi laki-lakinya tidak kelihatan. Sudah beberapa hari ini laki-lakinya tidak melintas di area merokok, juga tidak ditemuinya di lift. Laki-lakinya hilang.

“Mencari saya?” suara bass yang sudah dikenalnya merayap di udara. Perempuan itu berbalik dan mendapati laki-lakinya berdiri di belakangnya. Ia sudah memakai ransel dan membawa jaketnya pulang.

Perempuan itu kehilangan kata. Sepi merayap di antara mereka. Laki-laki itu menunggu jawabannya. Ditatapnya mata si perempuan begitu lekat, sampai membuatnya tercekat. Menit-menit berlalu dan mereka masih bisu. Dada perempuan itu sudah sesak menahan tangis saat didengarnya suara bass yang sama. “Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi menunggu saya,” dan laki-laki itu berlalu.

— — —

Katanya, pandangan punya getar. Itulah mengapa kamu akan refleks menoleh jika ada yang tengah memperhatikan.

Beberapa minggu ini, laki-laki itu merasa tidak nyaman. Setiap pukul delapan malam, ia merasa diperhatikan. Beberapa hari pertama, ia selalu menoleh ke belakang. Mencari-cari siapakah yang memandanginya dengan lekat, tapi hasilnya nihil.

Menjelang pukul delapan malam, laki-laki itu melirik jam tangannya. Ia telah mempersiapkan diri menyambut rasa aneh itu. Sepuluh menit berlalu, tapi ia belum merasakan apa-apa. Beberapa kali ia sempat berpikir barangkali ruangan itu berhantu. Maka ditetapkannya jam pulang yang baru: Tepat pukul sembilan malam, sewaktu lampu-lampu di koridor yang menuju lift belum dipadamkan.

Hampir tiga puluh menit berlalu dan ia menyerah. Dilepasnya kacamata yang sejak tadi dipakainya, lalu memijat-mijat puncak hidungnya. Samar-samar, rasa aneh itu menyergap. Namun, ia sedang penat dan memindahkan jemarinya untuk memijat kepala. Sekilas, ditangkapnya siluet perempuan di antara celah-celah sekat ruang. Ia mengernyit sejenak sambil meneruskan memijat kepala, tapi siluet itu telah hilang saat ia memakai kembali kacamatanya. Ternyata ruangan ini memang berhantu, pikirnya.

Di hari lainnya, laki-laki itu kembali menemukan si hantu sewaktu memutar badan untuk memakai jaket. Ia menarik resletingnya sampai setinggi dada lalu memainkannya sambil berpikir. Hantu itu pasti perempuan karena aku bisa melihat rambutnya yang ikal panjang, serta kakinya yang telanjang. Si hantu malas mengikat rambutnya, serta jarang memakai celana panjang.

Ia lalu mengingat-ingat. Hantu ini tidak hanya berkeliaran di partisi, tapi kadang di lift, atau duduk manis di salah satu bangku di area merokok. Beberapa kali laki-laki itu melihat si hantu buru-buru mematikan rokoknya sewaktu ia muncul dari arah gedung. Hantu itu selalu melambai padanya dan berpesan agar ia berhati-hati di perjalanan.

Laki-laki itu akan tersenyum atau membalas pesan si hantu dengan lambaian sopan. Pernah suatu kali ia begitu penasaran dan mengajaknya ngobrol sebentar. Si laki-laki lalu menyuruh hantu itu pulang agar tidak kedinginan. Anehnya, si hantu menurut dan langsung menarik tasnya. Seolah tasnya telah dipersiapkan untuk langsung dipakai saat si laki-laki datang. Hantu itu kemudian melangkah ke arah yang berbeda dengannya, berjingkat-jingkat begitu ringan sementara si laki-laki memperhatikan ikal rambutnya yang bergoyang.

Suatu malam, si hantu pernah bilang kalau ia sedang melihat bintang. Laki-laki itu refleks mendongak ke langit di atasnya, tapi langitnya gelap gulita. Si hantu berkata padanya kalau sepasang bintang ada di sana sebelum ia datang. Si laki-laki tidak tahu saja jika si hantu menemukan kejora di sepasang matanya.

Laki-laki itu kemudian menyuruh si hantu pulang. Seperti sebelumnya, hantu itu bergegas pergi ke arah berlawanan. Diperhatikannya sepasang kaki si hantu yang tidak terbalut celana panjang. Kadang si laki-laki ingin meminjamkan jaketnya agar ia tidak kedinginan, tapi si hantu tidak pernah meminta.

Pertemuan terus menerus dengan si hantu membuatnya bosan. Laki-laki itu pun lalu mengubah waktu pulangnya, serta mencari jalur pulang baru.

Begitulah akhirnya si hantu lenyap.

Hari ini, ia bergegas mematikan laptop sebelum pukul delapan dan si hantu datang. Ia juga memilih jalan berputar yang berlawanan dengan sekat ruang. Namun, langkahnya terhenti sewaktu dilihatnya hantu itu mengendap-endap di balik partisi. Si hantu mengintip satu per satu celah di sana, sambil terus bergerak-gerak gelisah.

Laki-laki itu penasaran apa yang sedang dilakukannya. Ia lalu melangkah sampai ke celah keempat dari kiri dan mengintip di sana. Dilihatnya mejanya sendiri yang kosong. Ia menoleh dan melihat perempuan itu masih mencari-cari. Makin lama, perempuan itu makin resah.

Ia pun kemudian bertanya apakah perempuan itu mencarinya. Namun, perempuan itu malah berbalik dengan kaget dan tidak menjawab. Setiap detik terlewat, perempuan di hadapannya jadi semakin pucat. Sepasang matanya juga jadi berkaca-kaca, seolah pertanyaan itu membuatnya tercekat.

Menit-menit berlalu dan perempuan itu masih belum menjawab. Si laki-laki jadi tidak sabar dan akhirnya memecah sunyi dengan meminta perempuan itu berhenti menunggunya. Karena aku selalu pulang larut dan kamu tidak punya jaket. Bagaimana jika kelak kamu sakit? Laki-laki itu kemudian berlalu. Samar-samar, dilihatnya perempuan itu menangis. Ah, perempuan memang sulit dimengerti, pikirnya.

Februari 2016