Rahasia

Source: https://www.pinterest.com/pin/522136150520572677/

Ini sudah terjadi beberapa minggu dan aku masih pura-pura tidak tahu.

Laki-laki berjaket hitam itu kerap diam-diam memandangi perempuan yang duduk di balik punggungnya. Pernah suatu malam aku melihatnya memandangi si perempuan begitu lama. Waktu itu ia sudah memakai jaket dan bersiap untuk pulang, tapi lalu diam saja menatapi si perempuan. Setelah lima belas menit berlalu, laki-laki berjaket hitam itu akhirnya memutuskan pulang tanpa mengucap perpisahan.

Sejak itu aku tahu bahwa si perempuan selalu jadi orang pertama yang dicarinya saat memasuki ruang.


Rasanya, aku ingin bilang pada si perempuan: Laki-laki yang duduk di balik punggungmu itu jatuh hati padamu. Dia selalu ingin mengantarmu pulang, tapi ragu.

Jika si perempuan lantas bertanya mengapa harus ragu, maka akan kujawab: Kalian berbeda agama dan di sini cinta hanya boleh bersemi di antara mereka yang menyebut Tuhan dengan nama yang sama.

Namun, bagaimana jika si perempuan malah jadi penasaran dan jatuh hati padanya?


Setahun lalu, seorang teman memberitahuku: Laki-laki itu jatuh hati padamu.

Aku tertawa, Mengapa kamu bisa bilang begitu?

Karena ia selalu menyeduh kopi saat kamu mengisi botol minum jam sepuluh pagi. Lalu ia akan menyeduh kopi lagi saat kamu makan siang. Ia selalu datang ke meja tempatmu makan hanya untuk tersenyum atau berbincang tentang hal-hal yang tidak masuk akal. Dan setiap jam sepuluh pagi itu, hanya ia yang menyapamu meskipun ada tiga laki-laki lain yang juga menyeduh kopi di sana.

Hatiku mencelos.

Besok kita buktikan saja. Laki-laki itu akan menyapamu jam sepuluh pagi, lalu menghampirimu saat makan siang.


Esoknya, pukul sepuluh pagi.

Aku berdebar-debar saat melangkah menuju dispenser. Laki-laki itu, yang menurut temanku jatuh hati padaku, sedang menunduk di atas cangkirnya. Ia tidak melihat sewaktu aku datang.

Botolku sudah separuh terisi sewaktu kudengar ia bertanya. Umurmu berapa? pertanyaan yang di luar dugaan. Aku memandanginya sejenak sebelum menjawab, Dua puluh empat.

Ternyata kamu masih kecil, lalu ia tertawa. Tiga laki-laki lainnya, yang entah mengapa selalu ada di sana, ikut tertawa.

Memangnya umurmu berapa? aku bertanya sambil menutup botol minumku.

Aku lebih tua darimu, lalu ia mengajakku bercakap tentang perjalanan luar angkasa.


Pukul satu siang.

Kami duduk berhadapan di ruang makan. Ia datang, ujar temanku yang duduk menghadap pintu.

Lalu aku jadi berdebar. Namun, laki-laki itu melangkah menuju dispenser dan tidak menyapaku.

Aku tersenyum pada temanku, Ia tidak naksir aku. Kami tertawa dan aku meneruskan makan sambil menunduk.

Kalau apel ini beracun dan aku tertidur lama setelah memakannya, apakah kamu akan membangunkanku? laki-laki itu bertanya.

Aku mendongak dan melihatnya berdiri sambil menggigit apel di belakang kursi temanku. (Bagaimana bisa ia terlihat semenggoda itu saat menggigit apel?) Di depanku, temanku berbicara tanpa suara: Apa kubilang?

Aku bisa menciummu sekarang kalau kamu mau, jawabku. Ia tertawa, lalu pergi menghampiri tiga temannya yang bersandar di konter.

Sudah berbulan-bulan, ujar temanku. Masa kamu tidak sadar?


Tiga bulan berlalu.

Dia belum juga mengajak aku kencan padahal setiap pagi mengajakku bicara tentang masa depan! Kamu tahu? Suatu pagi dia bilang ingin punya anak perempuan yang rambutnya ikal.

Temanku tertawa, Mungkin dia mau menikahimu.

Aku belum pernah diajak kencan!

Temanku tertawa lagi, Kalian berbeda agama.

Cuma sekali kencan kan tidak akan masuk neraka!

Dia itu takut berdosa, lalu temanku pergi.


Dosa. Temanku itu yang berdosa. Kelak, ia akan masuk neraka karena membuatku jatuh hati pada laki-laki yang tidak pernah mengajakku kencan.

Aku telah menghabiskan banyak waktu memikirkan laki-laki itu. Aku selalu mengulang-ulang percakapan pagi kami sebagai imaji pengantar tidur. Bahkan aku pun bisa membayangkan rupa anak kami jika kelak kami menikah. Namun, ia belum juga mengajakku kencan?

Kalian berbeda agama, ujar temanku saat aku bertanya apakah mungkin akhir pekan ini laki-laki itu mengajakku kencan.

Cuma sekali kencan kan tidak akan masuk neraka.

Kamu kan tidak tahu apa yang diajarkan agamanya.

Tapi dia juga sudah terlanjur berdosa karena menggodaku setiap hari!

Temanku memandangi aku, Mengapa kamu jadi seperti ini?


Mengapa aku jadi seperti ini? aku pun mempertanyakan hal yang sama pada diriku sendiri.

Mengapa aku jadi berdebar-debar setiap bertemu dengannya jam sepuluh pagi?

Mengapa aku jadi kecewa jika ia tidak mampir dan menyapaku saat makan siang?

Mengapa aku jadi sedih sekali setiap kali habis sembahyang?

Mungkin sudah waktunya aku berhenti mengisi botol minum jam sepuluh pagi, serta mengubah waktu makan siang.


Kembali ke masa kini.

Aku tahu laki-laki berjaket hitam itu jatuh hati pada perempuan yang duduk di belakangnya, dan aku mengenal perempuan itu.

Jika aku memberitahu si perempuan, akankah reaksinya sama denganku? Akankah ia jadi penasaran lalu jatuh hati pada laki-laki berjaket hitam itu? Namun bagaimana pun, di sini cinta hanya boleh bersemi di antara mereka yang menyebut Tuhan dengan nama yang sama.

Pusing. Kuputuskan untuk pulang.

Bahkan sekarang, kulihat laki-laki berjaket hitam itu sedang minum air putih sambil lirik-lirik perempuan yang duduk di belakangnya. Perempuan itu tidak sadar karena sedang berusaha menyelesaikan pekerjaannya.

Kulihat jam tanganku. Hampir pukul sembilan malam. Aku masih kerap menoleh pada meja laki-laki yang tidak pernah mengajakku kencan, untuk mengecek apakah ia sudah pulang.

Mejanya kosong. Aku kecewa dan bergegas menuju lift.

Hati-hati di jalan, ujar suara yang kukenal.

Aku menoleh. Laki-laki yang tidak pernah mengajakku kencan melambai di dekat pintu masuk (oh Tuhan senyumnya manis sekali). Ia sedang menelepon seseorang.

Aku balas melambai, sambil diam-diam berharap akhir pekan ini ia mengajakku kencan. Karena aku yakin, masing-masing Tuhan kami pasti maha pemaaf.

-
4 Juni 2017 
01.50—Sewaktu pikiran melantur, sebelum tidur.