Tentang Masa Depan

Source: https://www.weedweekly.com/couples-that-smoke-together-stay-together/

Malam ini tidak ada rokok yang dibakar, jadi aku bisa menatap matanya tanpa terhalang keruh asap.

Aku suka setiap kali sepasang mata itu menatapku lama, seperti sedang berpikir. Setiap kali pula, aku akan bertanya apa yang sedang dipikirkannya. Seringkali ia hanya menggeleng sambil tersenyum, sebelum mengisap rokoknya dalam-dalam.

Rokok putih yang langsing dan manis.

Namun, malam ini berbeda. Aku memikirkan masa depan, ujarnya. Apakah aku boleh memasukkanmu dalam rencana masa depanku? Sepasang mata itu menatapku.

Aku tidak menjawab.

Aku ingin punya anak, katanya. Makhluk kecil yang akan kuajak berjalan kaki di taman dan kuajari berenang. Lalu kita akan membesarkannya dengan penuh kasih, agar kelak ia tumbuh menjadi orang baik.

Sayangnya, mimpi kita berbeda. Aku tidak ingin punya anak, ujarku.

Sepasang mata itu terbelalak, samudera di dalamnya jadi beriak. Mengapa?

Aku tidak ingin anakku berbuat jahat.

Kini, samudera itu bergejolak.

Aku mengulurkan jemari untuk menelusuri rambutnya. Dulu, aku pun berpikir seperti itu. Aku akan membesarkan anakku dengan penuh kasih agar saat tumbuh dewasa nanti ia menjadi orang baik. Tapi, lalu aku menjadi dewasa. Aku sengaja memberi jeda untuk menatapnya lama-lama.

Sepasang mata itu balas menatapku, sementara jemarinya meraih jemariku.

Setelah dewasa, aku jadi tahu bahwa tidak ada orang yang benar-benar baik. Sebaik apa pun dia padamu, akan ada kalanya dia menyakitimu. Kulepaskan jemarinya dari jemariku. Aku tidak ingin anakku menyakiti siapa pun.

Samudera itu tidak lagi bergejolak, tapi menatapku dengan bingung.

Jeda lumayan lama sebelum ia mengeluarkan sekotak rokok dari dalam saku jaketnya. Rokok putih yang langsing dan manis. Ia lalu menyodorkan satu padaku karena aku selalu mencuri isapan pertamanya. Namun, malam ini aku tidak ingin hanya mencuri isapan pertama. Aku ingin mengisap sampai habis, sampai jemariku terasa hangat sewaktu rokoknya memendek, dan aku bisa mencium aroma tembakau yang tertinggal di sela-sela jemariku.

Aku tersenyum padanya dan mengambil sebatang lagi dari dalam kotaknya.

Isapan pertama.

Ia masih juga belum menyalakan miliknya. Lantas apa yang akan kamu lakukan jika tidak ada anak? Kudengar suaranya samar-samar.

Aku akan pergi berkeliling dunia dan menulis cerita tentang manusia, aku mengisap rokokku lagi. Mungkin juga akan menulis tentang anak kita, yang tidak akan pernah ada.

Samudera itu lenyap. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, sambil terpejam. Lalu kami menghabiskan malam dalam kesunyian, di balik keruh asap.

-

19 Oktober 2017
23.09 — Ditulis karena rindu percakapan selepas matahari terbenam, sambil berbagi isapan rokok.