Tentang mengakhiri

Meinanto Yuriawan
Nov 7 · 2 min read
500 days of summer

Selama setahun kebelakang saya mengalami rollercoaster kehidupan yang amat dinamis tentang hidup di jurusan, ya di tempat saya kuliah mahasiswanya baru masuk ke jurusan saat semester 3 dan sebelumnya ditempatkan di fakultas yang menaungi jurusan tersebut. Euphoria masuk Himpunan, senangnya punya circle baru di jurusan, bertemu seseorang yang kebetulan mengerti saya! wah hidup sudah bahagia sekali. Tidak lama setelah itu saya mengalami beberapa kegagalan dan penderitaan untuk berjuang meneruskan pendidikan dan saya berhasil bangkit di semester berikutnya.

Di semester ini pun saya merasa sudah senang dengan hidup saya, saya optimis untuk bisa menaklukan semuanya berkat perjuangan yang membuahkan hasil di semester kemarin. Semua itu terasa sempurna dengan hubungan saya dengan si dia yang makin awet walaupun dibumbui oleh banyak adu argumen.

Rollercoaster kehidupan saya makin kompleks dengan berakhirnya hubungan saya dengan orang tersebut. Setelah ada sedikit masalah dengan si dia, saya menjadi mempertanyakan kembali mengenai diri saya dan sudah seburuk apa saya ke dirinya. Saya sadar bahwa saya yang berniat mengakhiri hubungan ini dengan tujuan dirinya. Saya sudah terlalu buruk untuk dirinya dan saya rasa saya harus pergi untuk kebaikan dirinya.

Dia orang yang baik dan sangat menerima saya, dan dia bukan orang jahat yang akan saya salahkan. Akibatnya saya sadar untuk menurunkan ego saya sebagai manusia.

Saya butuh untuk mengakhiri hubungan ini agar saya belajar. Namun saya malah tersadarkan bahwa sejatinya kami berdua tidak se terpolarisasi itu. Setiap manusia punya hal baik dan buruk dalam hidupnya dan saya menyadari hal baik yang dia berikan ke saya, tetapi setelah beberapa hari saya menjadi sadar akan beberapa hal yang ia perbuat sehingga mengecewakan saya.

Saya pun tidak seburuk itu. Memang saya buruk dalam mengakhiri hal ini karena cara saya terlalu egois tetapi saya masih memberikan cara terbaik saya dalam berhubungan.

Tiap hubungan perlu saling memperbaiki dan saya sadar bahwa saya selalu tidak bisa memperbaiki diri dengan dirinya yang tidak pernah “menghukum” saya. Dia selalu memberikan saya zona nyaman ketika saya berbuat salah dan tidak ada ruang untuk introspeksi diri. Memang dia tidak ingin saya kenapa-kenapa dan selalu mencari saya agar saya tidak terlalu menyalahkan diri saya namun saya merasa itu bukanlah metode yang baik untuk saya agar bisa berubah.

Pada akhirnya saya sadar bahwa ini semua harus terjadi dengan pertimbangan agar saya bisa dewasa dan dia bisa terlepas dari penderitaan ini. Cara saya salah karena terlalu egois dan malah mengakibatkan hubungan kami menjadi berubah 180 derajat. Dia berkata sudah sangat malas melihat saya, iya tidak apa bagi saya itu menambah daftar “hukuman” bagi saya untuk berubah menjadi lebih baik lagi.

Semoga saya bisa menjadi insan yang lebih baik lagi.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade