Dear You
Aku mengerti. Dalam pengertian yang kubisa. Semoga pengertianku ini sama dengan maksudmu.
Kita merasakan hal yang sama. Sama-sama ingin memiliki. Sama-sama tak ingin dilupakan. Sama-sama cemburu. Kamu dan aku memiliki rasa yang sama dengan kadar yang sama, percayalah. Kamu dan aku memiliki rasa kehilangan yang sama, percayalah. Mungkin kamu berpikir aku tak kehilangan, itu tak benar. Aku pun kehilangan, pada hal-hal kecil yang sering kamu lontarkan, pada setiap perhatian yang kamu tunjukkan, pada senyum-senyum jahil yang kamu pamerkan, aku kehilangan. Saat aku merasa sakit, akupun sadar bahwa kamupun merasakannya.
Aku yakin, ada kalanya kamupun memikirkan aku, meski bukan aku yang berada disebelahmu. Karena itu yang sering ku rasakan. Percayalah, aku sering meneriakkan namamu di hatiku, menjerit di dalam hati, berharap kamu merasakan panggilanku.
Aku pun merasakan cemburu yang sama. Itulah mengapa aku menghindari mengintip sosmedmu, karena aku tak mampu menahan rasa.
Tahukah kamu, jika aku merasa jengkel terhadapmu bukan berarti aku membencimu. Aku membenci keadaan ini. Meskipun keadaan pun tak punya andil salah kepadaku. Aku hanya tak berdaya dengan keadaan.
Aku mengerti sekarang, bahwa kamu bukannya tak mengerti aku. Bahwa semua ketengilanmu adalah demi aku. Aku mengerti, sungguh aku mengerti sekarang. Aku tak menyalahkan kamu.
Maafkan aku jika kamu merasa aku telah membencimu. Nyatanya tidak, bukan seperti itu. Harusnya kamu tahu bahwa berbicara denganmu adalah hal yang menyenangkan untukku. Sejak dulu, bahkan sejak rasa itu belum ada.
Entah apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu tak penting untukku. Bahwa kamu hanyalah selembar kisah dari buku hidupku. Hey, sebuah buku yang kehilangan selembar kisahnya membuatnya tak tuntas bukan? Tapi tidak, kamu bukan hanya selembar kisah. Kamu telah membuat satu buku bagiku.
Tolong, jangan pernah merusaha membuatku membencimu. Karena kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Dan aku.
Jika tujuanmu hanya untuk memudahkanku, jangan lakukan. Kecuali, hal itu lah yang memang ingin kamu lakukan. Karena sangat menyakiti hatiku. Kecuali jika dengan menyakitiku maka kamu menjadi lebih tenang, lakukanlah, maka aku akan belajar untuk bersabar.
Kamu tahu, aku selalu kesulitan mengungkapkan apa yang kurasa. Jadi aku tak akan menyalahkanmu jika kamu salah menangkap maksudku.
Percayalah, berbincang denganmu tak pernah membuatku muak. Setengil apapun dirimu. Aku tak bisa berjanji, yang pasti hingga detik ini rasa yang kurasakan terhadapmu masih sama.
-I’ll be waiting you to miss me-
