-Flash Back-
Aku memandang berkeliling dari meja kerjaku. Bahkan untuk sekedar beranjak ke pantry, aku malas. Dari jauh kulihat tempat penyimpanan gelas dan piring yang berada di sisi kanan bak sink. Sepertinya tak ada cangkir nganggur yang bisa ku pakai untuk menyeduh kopi, demikian pikirku. Kusisir tepi meja yang tampak kuno ini dengan jari-jariku. Ahh…kantor apa ini? pikirku. Meja-meja tertata seadanya. Mejanya pun seadanya, tidak seragam layaknya kantor yang pernah ku tempati. Lemari file juga hanya ada 2. 1 terletak menempel di dinding depan meja ku, dan 1 nya berada di ruangan Manager, serta sebuah meja panjang yang memiliki tempat penyimpanan. Di belakang mejaku ada lagi meja berwarna coklat, dengan tumpukan kardus di bawahnya. Aku tak akan heran jika suatu hari nanti tiba-tiba aku bisa melihat tikus yang berkeliaran.
Aku melirik 2 meja kecil yang berada tepat di sebelah kiriku. Meja-meja tersebut ditempati oleh 2 orang laki-laki. Di belakang mereka mesin foto copy merangkap printer. Disamping mesin foto copy ada 1 meja besar yang diisi oleh 2 orang. Disebelahnya sebuah meja kecil menempel pada dinding ditempati oleh 1 orang, dan disebelahnya 1 meja besar lagi yang diisi 1 orang. Posisinya di pojok dekat pantry. Posisi yang paling tidak enak menurutku, karena tepat di sebelahnya adalah kamar kecil.
Kamar kecilnya digunakan secara bersama, maksudku kamar kecil tersebut untuk laki-laki maupun perempuan. Aku sempat melotot kaget, saat merasa harus berkemih. Berkali-kali ku lihat pintu kamar kecil tersebut, memastikan apakah kamar kecil tersebut untuk laki-laki atau perempuan. Kamar kecil tersebut bertype basah, dimana selama aku bekerja, belum pernah aku mendapati kamar kecil basah di kantor. Memang kamar kecil tersebut bisa dibilang adalah kamar mandi. Tak disediakan tisu di kamar mandi tersebut, sehingga aku tak boleh lupa untuk membawanya jika terpaksa harus pipis.
Sungguh, ini pengalaman pertamaku bekerja di sebuah perusahaan yang bertempat di ruko. Sebenarnya aku merasa tak cocok berada di perusahaan ini. Selain lokasi kantor yang terbilang jauh dari tempat tinggalku, suasana kantornya pun tak membuatku nyaman. Demikian pula penghuninya. Belum genap seminggu aku bekerja, aku sudah mendengar berita-berita pemecatan karyawan oleh perusahaan. Mungkin hal tersebut memang karena kesalahan si karyawan. Belum sebulan aku disana, beberapa karyawan mengundurkan diri dari perusahaan. Turn over yang sangat tinggi menurutku.
Aku mulai membuka-buka file-file lama peninggalan admin terdahulu, mengecek beberapa dokumen yang tersimpan rapi di lemari di ruangan Sang Manager. Rupanya hardcopy sertifikat disimpan di sini pikirku. Aku mulai menarik file-file tersebut ke mejaku. Membuat list nya dan menyusunnya dengan sebaik mungkin. Tak lupa ku cek hardcopy tersebut dalam file softcopy nya. Demikian pula sebaliknya.
Kali pertama aku masuk sang Manager yang dulunya adalah atasan ku di kantor terdahulu meminta aku untuk spesialisasi mengerjakan manual untuk fleet department. Karena dia tahu pasti, selepas dia mengundurkan diri dari kantor lama dulu, aku kemudian memutuskan untuk pindah departemen menjadi HSE Admin. Dan saat aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan pelayaran tersebut, aku kemudian bekerja sebagai konsultan HSE bersama dengan beberapa teman lainnya.
Sebenarnya aku bosan dengan listing sertifikat ini. Meskipun hatiku puas melihat dokumen-dokumen tersebut bisa tertata dengan rapi, dengan label nama yang kubuat seragam. Bulan kedua aku di kantor ini aku semakin merasa bosan, ditambah dengan cerita-cerita dari teman-teman tentang situasi kantor, dimana akupun masih belum familiar dengan orang-orang dan kondisi yang diceritakan. Aku semakin merasa tak nyaman.
Suatu hari, sang Manager memanggilku dan memintaku untuk membuat presentasi yang akan dia presentasikan beberapa hari lagi, dia meminta detail-detail yang segera ku catat, serta nama-nama PIC yang disebutkannya buatku untuk mempermudah memperoleh data yang diminta. Akupun semangat dengan tugas tersebut. Keluar dari ruangannya aku langsung membaca ulang catatanku dan meminta asistennya untuk menyediakan beberapa data yang kubutuhkan. Beberapa kali aku berdiskusi dengan asistennya memastikan bahwa yang aku kerjakan sudah sesuai dengan permintaan si Manager dan bahwa memang grafik tersebut lah yang harus dipresentasikan dari Departemen kami.
Untuk beberapa data, aku kemudian bertanya pada planner dan admin lainnya, yang kebetulan duduk bersebelahan dengan mejaku. Beberapa kali aku meminta ia untuk mengecek pekerjaanku dan memastikan bahwa data dan grafikku sudah benar. Beberapa kali pula ia mengoreksi pekerjaanku. Rekan yang sangat membantu, pikirku. Dengan sabar ia membantuku membuatkan grafik yang kuperlukan, karena aku berkali bertanya. Saat itu, aku sangat bersyukur memiliki rekan kerja yang sangat membantu.
Aku memang terbiasa bekerja sendiri, jika atasanku memintaku untuk membuat presentasi atau budget departemen, biasanya ku selesaikan sendiri, untuk kemudian berdiskusi dengannya untuk finalisasi. Sehingga, saat sekarang aku harus membuat presentasi dan ada orang lain yang mau membantuku, aku harus berulang kali mengucap syukur. Aku tak perlu pulang lebih dari 17.30, karena terus terang saja. Aku tak punya nyali untuk pulang telat saat di kantor ini. Jarak yang sangat jauh, dan pengetahuan tentang jalur angkot yang terbatas, membuatku enggan untuk pulang lebih telat dari jam kantor.
Aku terbangun pagi ini dengan kepala yang berdenyut hebat. Saat ku coba untuk duduk, kepalaku semakin terasa sakit. Kuraba dahiku sendiri, rasanya temperaturnya lebih hangat dari biasanya. Hidung dan matakupun terasa sedikit panas. Kurebahkan kembali tubuhku. Kutarik selimut dan kupeluk guling. Tak kuindahkan pertanyaan suamiku tentang mandi. Sejak aku memutuskan pindah bekerja, aku selalu nebeng berangkat sampai di depan Stasiun dan kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan kota. Dan karena hal itu, aku harus mengikuti jam berangkatnya, karena telat keluar rumah 5 menit saja, akan berakibat terdampar di tengah kemacetan.
Tangan dinginnya menekan dahiku. “Demam” desisnya. Tangannya meraba lubang hidungku serta leherku.
“Badanmu panas sekali. Istirahat saja ya” tanyanya sembari menarik selimut menutupi leherku. Aku hanya mengangguk lemah. Semenit kemudian aku sudah kembali terlelap.
Hari itu aku tak masuk kerja. Dan itu sudah yang kedua kalinya dalam 2 bulan ini. Padahal lulus probation di kantor baru ini pun belum, tapi aku sudah berkali tak masuk kantor karena sakit. Aku termasuk orang yang sangat jarang tak masuk kantor karena sakit. Memang akhir tahun lalu sebelum aku meninggalkan kantor lama aku sempat terkena thypus. Dokter sudah memintaku untuk hospitalized atau pilihan lainnya adalah sungguh-sungguh bedrest di rumah selama seminggu. Tentu saja aku memilih untuk bedrest di rumah. Dan aku benar-benar mengikuti saran dokter untuk turun dari tempat tidur hanya untuk ke toilet dan minum obat. Untungnya, karena si kecilku di titipkan di rumah mertuaku, aku bisa istirahat total. Karena meskipun si kecilku mengerti jika aku sedang sakit, namun mulut bawel nya tak akan berhenti berceloteh, bertanya ini-itu yang tentu saja akan membuatku terjaga sepanjang hari.
Menjelang siang aku mengetikkan pesan di ponselku untuk Si Manager, meminta ijin untuk tidak masuk hari ini karena demam. Semenit kemudian ia membalas pesanku agar aku cepat sembuh. Fuuuhhh…..rasanya tak enak juga, baru masuk tetapi sudah berkali-kali ijin.
“Mba Rain mau nitip makan siang?” sebuah suara membuatku mendongak melihat ke sosok yang bertanya. Di sampingku Mas Ben, sedang menatap menunggu jawabku.
Aku terpana. Memang sejak hari kedua aku bekerja di kantor ini, aku memutuskan untuk selalu membawa bekal makan siangku. Karena yang aku tahu untuk membeli makan siang, kami harus berjalan lumayan jauh. Dan aku bukan orang yang sabar untuk berjalan. Ditambah lagi, kebanyakan orang yang ku kenal pun membawa bekalnya, sehingga alasan lain adalah bahwa aku tak punya teman untuk membeli makan siangku.
“Mau Mas” jawabku cepat sebelum orang itu berubah pikiran.
“Mas Ben mau beli apaan? Aku ngikut aja” lanjutku.
“Bakso mau?” tanyanya. Dan aku cepat menganggukkan kepala.
“Mas, aku jangan pakai vetsin, sama bawang goreng ya? emmm…sama ga usah pakai sambel dan saos. Bening aja” pintaku sambil mengaduk-aduk tas ranselku mencari dompet.
Dan beberapa teman wanitaku pun ikut menitip.
Aku tertegun melihat beberapa orang menitip pesanannya ke Mas Ben. Sungguh, aku tahu diri. Pesananku banyak kondisinya. Namun aku pun tak ingin menyantap makanan yang salah pesan.
“Mas, perlu dicatat ga pesananku?” tanyaku sedikit merasa bersalah.
“Tanpa vetsin, bawang goreng, sambel dan saos kan?” ulangnya dengan wajah sedikit tersinggung.
Aku terkesima melihat kemampuannya mengingat. Aku hanya mengangguk sambil mengangsurkan selembar uang.
Mas Ben mengulangi pesanan kami sebelum kemudian melangkah menuruni tangga.
Jam 12 siang Mas Ben kembali dengan titipan makan siang kami. Aku tidak terlalu berharap banyak, toh aku masih membawa bekal makan. Berulang kali aku harus kecewa dengan pesananku saat pertama kali memesan makan siang pada orang baru.
“Ini pesanan kamu” Mas Ben meletakkan plastik bakso di mejaku. Aku mengangkat plastik tersebut ke depan mukaku, dan nyaris tertawa senang, karena tak kulihat bawang goreng yang mengambang.
Siang itu, aku bisa menikmati semangkok bakso yang tepat, tanpa perlu berjalan berpanas-panasan.
Neng, lu mo balik lagi ga kesini? pesan tersebut kuterima via bbm. Pesan dari salah seorang manager dari kantor lamaku.
Balik lagi ya? ga ada lu, susah nih mo tanya apa-apa. Menyusul pesan berikutnya dari orang yang sama. Aku hanya tersenyum membacanya. Senang rasanya bahwa ternyata ada yang masih butuh dengan keterampilanku.
HRM nya udah ganti belum Ci? ketikku membalas pesannya, lengkap dengan emoticon senyum. Aku hanya menganggap pesannya sekedar ucapan main-main. Sekedar ucapan basa-basi karena lama tak jumpa denganku.
Udah. Jadi mendingan lu balik deh Rain. Pak Andre juga kayaknya ngebolehin lu balik lagi deh. Lagian kantor baru lu jauh dari rumah kan? tanya nya.
Sejenak aku berpikir. Apakah dia serius dengan tawarannya. Tak kuhiraukan pesannya yang terakhir. Aku melanjutkan pekerjaanku.
Keesokan harinya sebuah telepon membuatku terkejut, telpon dari HRM perusahaan lamaku dan memintaku untuk kembali ke perusahaan tersebut. Saat itu aku hanya tertawa mendengar tawarannya. Namun saat ia mengatakan bahwa Pak Andre -Managing Director kantor lamaku, yang merekomendasikan aku kepadanya akupun bernegosiasi dengannya.
2 minggu setelah percakapan telepon ku dengan HRM kantor lama, aku memutuskan untuk kembali ke perusahaan tersebut. Terus terang saja, aku merasakan kelelahan sangat untuk terus bertahan di perusahaan ini. Perjalanan yang harus ku tempuh saat pulang benar-benar menguras energiku. Untungnya perusahaan lama mengabulkan permintaan penyesuaian gajiku. HRM baru juga lebih ramah kepadaku. Entahlah, mungkin karena Pak Andre sebagai Managing Director yang merekomendasikan aku kepadanya sehingga dia merasa percaya padaku.
Beberapa hari setelahnya aku pun mengajukan pengunduran diri ke Managerku. Dia tak tampak terkejut dengan keputusanku. Mungkin sudah banyak anak buahnya yang mengajukan pengunduran diri di perusahaan ini sehingga dia amat sangat maklum. Aku merasa menyesal, tak bisa berbuat banyak untuk membantunya, sekedar meringankan sedikit saja beban kerjanya yang berlimpah. Tapi dia sangat maklum. Dia sangat menghargai keputusanku. Bahkan, dia yang menyarankan aku untuk bekerja dari rumah, menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadaku. Sehingga aku dengan ringan keluar dari perusahaan tersebut tanpa rasa bersalah.
Aku hanya tertawa-tawa kecil saat beberapa orang yang mengenalku bertanya tentang kembalinya aku ke perusahaan ini. Ku jawab dengan ringan “cuti 3 bulan!” sambil tak lupa memasang cengiranku. Rasanya hampir semua orang di kantor tahu alasanku meninggalkan perusahaan ini 3 bulan lalu. Belakangan mereka selalu menjadikan hal itu sebagai bahan olok-olok.
Saat aku sudah mulai aktif bekerja kembali di kantor ini, aku pun masih tetap harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang memang belum terselesaikan. Managerku melakukan asistensi melalui email. Dan sesuai dengan janjiku, saat pekerjaanku selesai, maka akupun undur diri penuh.
Lebih mudah bagiku untuk bekerja di kantor ini. Karena pada dasarnya aku pun bukan orang baru di kantor ini. Aku hanya 3 bulan meninggalkan kantor ini. Memang ada beberapa programmer dan staff finance baru yang belum ku kenal. Selebihnya aku tak perlu beradaptasi dengan mereka.
Pekerjaanku pun lebih ringan dibandingkan sebelum aku resigned 3 bulan lalu. Jelas lebih ringan, karena pekerjaan resepsionis telah diambil alih oleh seorang karyawan pengantiku. Dan HRM barupun tak bermaksud untuk memindahkannya. Aku hanya tersenyum, dan bersyukur berharap semuanya akan menjadi jauh lebih baik.
Bukan video bokep kan ? ketikku di dalam taxi yang membawaku ke rumah malam itu. Pertemuan dengan beberapa teman lama di Gandaria City berakhir menjelang jam 10 malam. Dan kesibukan suamiku, membuatku terpaksa menahan bau yang tak pernah kusuka dari taxi burung biru.
Makanya dibuka donk! balasnya. Aku hanya tersenyum membayangkan wajah juteknya saat membaca bbm ku barusan. Kubuka video yang dikirimkan Mas Ben via BBM. Video tentang coklat dan liquor. Perjalananku malam itu ditemani chat BBM dengan Mas Ben. Membahas tentang bau taxi, coklat dan cerita tak penting lainnya, diselingi dengan saling ejek. Menurutku, Mas Ben ini orang yang sangat menyebalkan. Dia selalu mengecek ulang pendapatku melalui google. Beberapa kali aku harus menekan rasa kesalku karena pendapatku selalu di patahkan dengan bukti-bukti yang dia comot dari searching engine tersebut. Sering kali aku berusaha untuk menghindari adu argumen dengannya. Terus terang saja, aku pernah merasa bahwa dia mengetes kemampuanku dengan berpura-pura tidak tahu apa yang akan terjadi pada tembok yang dibor. Tapi ku akui, dia bisa menjawab semua pertanyaanku dengan cerdas. Dan ya, aku minder untuk berdiskusi dengannya.
Aku masih menyusuri jejeran wafer coklat, mencari-cari cemilan yang akan ku timbun di laciku. Mataku kemudian tertuju pada deretan coklat-coklat berbentuk botol-botol minuman mini, aku pernah mendapat buah tangan coklat serupa, coklat yang berisi liquor. Tiba-tiba saja aku ingat Mas Ben dan video yang pernah dia kirimkan. Tanpa berpikir panjang, ku ambil 1 kotak dengan maksud mengirimkannya. Aku ingat dia pernah berkata belum pernah mencoba coklat yang berisi liquor, saat aku bercerita bahwa aku pernah makan coklat isi rum dari sepupuku yang kebetulan bekerja di Texas.
Sampai di kantor, kubungkus kotak coklat tersebut dan kukirimkan via JNE. Aku hanya ingin dia mencoba coklat itu. Hanya itu.
BBM nya beberapa hari kemudian tak urung membuat senyum di bibirku. Paket yang kukirimkan sudah di tangan Mas Ben. Dia berkata bahwa tak pernah menyangka paket itu dari aku. Karena inisial -RN- dianggap adalah nama dari sang kakak. Dan baru sadar beberapa waktu kemudian saat dia menyadari bahwa sang kakak sama sekali tak tahu alamat kantornya. Kukatakan padanya bahwa aku ingin dia mencoba coklat itu. Dia hanya memberikan emoticon senyum dan mengucapkan terima kasih.
Seringnya aku menggoda usil DP yang ditujukan Mas Ben untuk istrinya tercinta, romantis menurutku. Membayangkan harus berada jauh dari belahan jiwa demi masa depan. Aku bahkan tak mampu membayangkan jika aku harus berada di posisinya.
Berbulan setelahnya, Mas Ben mengajakku untuk berbuka bersama dengan teman-teman dari kantor singgahku. Aku tertawa kesal membaca BBM nya. Betapa dia dengan sengaja berusaha membuatku naik pitam. Dia tahu pasti, aku akan menolak acara buka bersama mereka, karena sang manager ikut serta. Namun dia mampu dengan segala caranya membuat seolah akulah yang tak pernah mau ikut serta. Dan semua teman dari kantor singgahku pun mengatakan bahwa aku terlalu banyak memberi alasan untuk tak ikut bergabung.
Setelah gagal dengan buka puasa. Tiba-tiba saja Mas Ben mengajak ketemuan, tak hanya berdua tentu saja. Mas Ben berjanji akan mengajak teman-teman dari kantor singgahku dulu. Aku lantas menyetujui setelah tempat yang netral telah kami tentukan. Netral disini adalah jarak yang bersahabat dengan posisi kantor dan rumahku. Tentu saja untuk bertemu dengan sahabat-sahabat setelah pulang kantor aku harus selalu mempertimbangkan lokasinya. Hanya berjaga jika saja suamiku tak bisa menjemputku, sehingga aku harus naik taxi sendiri.
Tak ada yang berubah dari kami. Terutama aku. Aku masih saja cerewet bercerita ini-itu. Aku memang begitu. Mulutku tak bisa terkunci diam saat bersama dengan orang yang ku kenal. Mas Ben yang saat itu menemaniku sambil menunggu teman yang lain, hanya bisa pasrah mendengarkan ocehanku.
Mas, mau ketemuan ga? Aku mau ke CP nih. Mau cari kado. Nanti kukenalin sama resepsionisku yang cantik. Tanyaku via BBM ke Mas Ben siang itu. Aku memang berencana membelikan kado untuk suamiku yang akan berulang tahun. Rencananya aku ingin membelikan sebuah dompet untuknya. Setelah browsing beberapa model dompet, aku memutuskan untuk melihat langsung di store braun buffel yang kebetulan ada di CP.
Aku masih sibuk melihat-lihat dompet yang berpotongan simple dan cocok harganya dengan kantongku saat kulihat Mas Ben benar-benar nongol memenuhi undanganku. Ku kenalkan dia dengan resepsionisku dan kubiarkan dia sibuk melihat-lihat, sementara aku melanjutkan pencarian dompet.
Selanjutkan kami nongkrong di chatime. Aku selalu menikmati setiap waktu bertemu dengan teman-teman, meski hanya sekedar ngobrol-ngobrol ga penting.
Aku tertawa terbahak saat membuka bungkusan paket yang diberikan Alfie kepadaku. Paket tersebut berisi sebotol jack daniels. Alfie yang penasaran dengan isi paket untukku berulang kali bertanya siapa pengirim paket tersebut. Kusodorkan kotak paket tersebut ke Alfie, dan dia hanya tersenyum.
“Al, emang gw suka ngomong sendiri ya?” tanyaku siang itu.
“Hah?” Alfie, resepsionisku hanya terbengong melihatku.
“Mau jawaban jujur apa bohong Mba?” tanyanya sambil tersenyum.
“Yaaa jujur laaahh” sergahku.
“Iya. Mba emang sering ngomong sendiri” jawabnya sambil terkekeh.
“Kenapa Mba? Ada yang komen tentang masalah itu?” tanya Alfie.
“Iya, Mas Ben sering banget bilang ke aku klo aku suka ngomong sendiri” ceritaku.
“Mas Ben itu baik ya Mba?” tanya Alfie menyelidik. Aku menoleh menatap Alfie.
“Kamu baru ketemu sekali udah bilang Mas Ben baik?” tanyaku tak percaya.
“Dia itu usil tau?” jawabku. Alfie hanya tersenyum.
“Tapi bener kan Mas Ben baik? Lagi di Sorong aja masih mau bantuin Mba bikin file excel?” Alfie terus berbicara.
“Oh iya, kalau urusan kerjaan, Mas Ben emang baik banget. Suka bantuin temen lainnya” terangku.
“Ih, excel yang Mba Rain kirim kan bukan kerjaannya dia?” tantang Alfie.
“Yaa, maksudku kalau dalam hal yang menyangkut pekerjaan, baik itu berhubungan sama dia atau engga, dia pasti akan bantu” jelasku.
Alfie hanya tersenyum-senyum menatapku.
“What?” tanyaku bingung melihat Alfie yang tersenyum simpul.
Ci, maaf ya. Sepertinya aku ga keburu ke kantor kamu. Mas Ben mengirimkan BBM kepadaku.
Dia memang berencana mampir ke kantorku begitu tiba di Jakarta, sepulangnya dari Sorong. Dia ingin mengantarkan bolu abon untuk Alfie. Aku tertegun membaca BBM nya. Masih tak habis pikir, bagaimana mungkin dia rela mencari-cari alamat kantorku, padahal touchdown Sukarno Hatta saja sekitar jam 7 malam.
Aku menggelengkan kepala tak percaya akan kekeraskepalaan laki-laki itu. Kuketikkan balasanku agar dia tak perlu repot mampir ke kantorku, karena aku sudah bersiap untuk pulang. Aku yakin dia tak akan membiarkan aku menunggunya. Lagi pula, siapa yang mau menunggunya di kantor. Huh! Aku mendengus.
Keesokan harinya dia menepati janji untuk mampir ke kantorku, membawakan Alfie oleh-oleh dari Sorong. Aku hanya menatapnya tak percaya, melihat dia berhasil sampai dengan selamat di kantorku.
Kami, -aku, Alfie dan Mas Ben kemudian asik mengobrol sambil mengunyah roti abon buah tangan yang di bawanya.
Sabtu itu aku harus lembur. Aku ingin merapikan dokumenku yang sudah bertumpuk di meja ke dalam ordner. Dokumen-dokumen tersebut sudah selesai kukerjakan, aku hanya belum mengarsipnya. Dan semakin lama tumpukannya semakin menggunung. Aku malas untuk mengarsip dokumen di hari kerja, karena aku merasa aku bisa melakukan pekerjaan lain saat jam kantor. Sehingga, aku memang jadi lebih sering menumpuk arsipku, untuk kemudian menyisihkan waktu untuk merapikan semua arsip tersebut ke dalam ordner.
Menjelang sore Mas Ben mengajakku menonton di bioskop. Tawaran yang menggiurkan. Aku memang suka nonton film di bioskop, sejak dulu. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, kuiyakan ajakan Mas Ben. Sore itu aku menuju Mall Taman Anggrek. Kebetulan memang aku ingin menonton Mission Impossible Rogue Nation yang sedang diputar. Ternyata film yang akan kutonton pada jam tersebut sudah penuh, hanya tersisa bangku di deretan depan. Bahkan di jam berikutnya pun sudah hampir penuh. Aku tak mungkin mengambil waktu malam, karena aku masih harus mengurus dedek. Aku tak ingin pulang terlalu larut. Kami putuskan tak jadi menonton sore itu. Aku merasa bersalah pada Mas Ben, akhirnya ku ajak dia mencoba kuliner bubur Barito. Dan malam itu Mas Ben mengantarku pulang ke rumah.
Ci, keluar bentar deh. Pesan Mas Ben yang ku terima sore itu. Aku harus menyelesaikan laporan pph 21 yang rencananya akan dibawa messenger esok paginya.
Aku segera berjalan keluar dari ruangan, menuju pintu depan. Dari ruangan resepsionis ku lihat seorang laki-laki membelakangi kantorku sedang melihat ke arah bawah dari void di lobby lantai 2 gedung kantorku.
Aku tak bisa menahan senyum melihat sosok itu, sekaligus aku merasa heran dengan keberadaannya. Like ‘what the hell is he doing here!’.
Dia menyerahkan plastik mcd ke tanganku. “Nih, makan dulu, belum makan kan?”
“Kamu kok baik banget pake anter makanan segala?” tanyaku sambil melongok isi kantong plastik berbau harum kentang goreng.
“Siapa yang nganterin makanan? Aku lagi kepengen makan mcd, tapi males makan sendiri” kilahnya.
Aku hanya tertawa, masih tak habis pikir dengan laki-laki di hadapanku ini. A little bit shocked, I guess.
Selesai makan, dia pamit pulang. Aku mengantarnya sampai di depan pintu, kemudian aku kembali menuju ruangan untuk meneruskan pekerjaanku.
Saat aku membuka pintu, kulihat Alfie tersenyum-senyum melihatku.
“What?” tanyaku.
Alfie tak menjawab pertanyaanku dia hanya tersenyum. Dan aku pun tak ambil pusing, Aku menyusun rencana untuk esok pagi di dalam kepalaku sambil berjalan menuju ruanganku.
Beberapa waktu sejak kejadian mcd sore itu, Alfie tiba-tiba saja berkata sesuatu yang sama sekali tak pernah terlintas di pikiranku.
Aku yang sedang tertawa sambil membaca BBM dari Mas Ben, mengangkat kepala saat Alfie tiba-tiba berkata “BBM dari Mas Ben ya Mba?”
“Iya” jawabku. “Biasa deh, ngebully aku” lanjutku sambil menghisap rokokku. Kami sedang menyantap indomie di warung di pelataran parkir gedung kantorku.
“Mas Ben sepertinya suka sama mba Rain ya?” Alfie bertanya sambil tersenyum ke arahku.
“Whaaaatt?? ya engga lah Al” jawabku sambil terbahak mendengar pertanyaanya. Pertanyaan macam apa itu.
“Kayaknya bener deh Mba. Percaya deh sama aku” katanya sambil menampilkan mimik serius di wajahnya.
“Kamu itu ngasal! Ga mungkin lah. Lagian dari mana kamu bisa ngambil kesimpulan macam itu siy?”
“Dari tingkahnya mas Ben, dari caranya memandang mba Rain”
Aku tertawa melihat Alfie dengan argumen nya. Menurutku anak itu sok tau dan ngawur. Mungkin karena dia menyukai laki-laki yang hampir menikah, demikian pikirku.
Ci, aku maen ke kantor mu ya? pesan Mas Ben masuk ke dalam smartphone ku sore itu.
Bawain es krim ya? balasku. Dan Mas Ben meluluskan permintaanku.
Sore itu Mas Ben membawakanku es krim cornetto. Kami memilih untuk nongkrong di areal parkir gedung kantorku ketimbang di lobby kantor. Karena areanya terbuka, sehingga kami bisa merokok.
Kami mengobrol tentang apa saja. Cerita tentang manager di kantornya yang adalah mantan bos-ku juga, cerita tentang teman-teman di kantorku, dan apa saja yang saat itu terlintas di kepala kami. Berkali-kali aku mencoba membuktikan omongan Alfie. Berkali-kali aku menatap mata Mas Ben saat dia sedang bercerita dan menatapku. Tapi aku hanya melihat mata jenakanya yang sering kali menjengkelkanku. Aku sama sekali tak melihat ‘caranya memandangku’ yang menurut teori Alfie sebagai tanda suka.
Berkali aku tertawa tertahan menahan rasa malu karena mencoba membuktikan omongan Alfie yang nyatanya tak terbukti. Kesimpulanku, Mas Ben hanyalah senang berbicara denganku. Mungkin baginya aku bisa menjadi teman ngobrol yang nyambung dengannya. Hanya itu. Dan aku sama sekali tak keberatan. Seringnya, kami menghentikan pertemuan karena waktu yang sudah semakin larut. Atau pekerjaanku yang menumpuk menunggu tanganku mengerjakannya.
Lain waktu, Mas Ben menemaniku lembur di hari Sabtu. Kebetulan saat itu aku harus menyelesaikan beberapa tugas mengenai kegiatan outing yang rencananya akan diadakan di Bandung. Di hari biasa, aku tak sempat untuk sekedar survey harga doorprize atau membuat proposal acaranya. Sehingga saat itu kuputuskan untuk mengerjakan di hari Sabtu. Selain kantor lebih sepi, aku bisa mengerjakan dengan tenang, tanpa krang-kring telpon dari si bos yang meminta ini-itu.
Jelang siang, kami memutuskan untuk sekedar makan es krim di kedai es krim ternama. Aku mengajaknya menuju Senayan City. Mall yang tak terlalu jauh dari rumahku. Mall yang sedikit tak bersahabat dengan pemotor. Karena mereka menyediakan lahan parkir di luar dari Mall. Kami harus berjalan di bawah terik matahari setelah sebelumnya memarkir motor Mas Ben di areal parkir motor, menyebrang untuk masuk ke mall tersebut. Aku sedikit terjingkat kaget saat tangan Mas Ben mengambil tanganku dan menggenggamnya, menarik ku perlahan untuk menyebrang. Aku melihat wajah Mas Ben yang lurus menatap jalan. Sekilas aku teringat ucapan Alfie. Saat kami tiba di seberang di tempat yang tak lagi dilalui lalu lalang kendaraan, Mas Ben otomatis melepaskan tanganku dari genggamannya. Aku tertawa tertahan, malu sekali rasanya sudah bertingkah GR. Ternyata dia hanya berusaha bersikap gentleman.
Minty ice cream selalu menjadi pilihanku, sejak rum raisin tak lagi tersedia di gerai-gerai ice cream tempat aku biasa menjatuhkan pilihan. Namun begitu, aku tetap saja akan menanyakan apakah rum raisin tersedia, meski jawaban ‘tidak’ serta senyum manis dari si penjaga counter yang ku terima. Ku coba beberapa jenis ice cream yang tersedia dan pilihanku adalah minty. Ice cream yang manis, dan sedikit rasa mint di akhir hisapan. Kupilih topping chocolate chips untuk mempermanis ice creamku. Ice cream yang meleleh di lidahku meninggalkan coklat keras yang harus ku gigit perlahan. Nikmat!
Tak kupedulikan Mas Ben yang masih sibuk memilah ice cream yang ingin di makannya. 10 menit kemudian, kami sudah sibuk dengan es krim kami di sudut ruangan gerai Cold Stone. Sibuk menjilatin es krim kami dan saling berceloteh. Mas Ben mencibir chocolate chipsku. Aku hanya tertawa, karena ternyata dia tak suka dengan chocolate chipsku. Kusebar chocolate chipsku memenuhi mangkuk es krim, membuatnya melotot dan protes, karena dia hendak mencicip es krimku. Menyenangkan, membuatnya melotot jengkel. Membuatku ingin semakin membuatnya jengkel. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan es krim bagiannya. Setelah berulang kali gagal mencoba es krim ku, dia pun bergeser ke arah counter untuk mencoba es krim lainnya. Aku tak bisa menahan tawa melihatnya.
Aku mengernyitkan dahiku melihat warna hijau yang sama sekali tak menarik di tangannya. Topping gummy bear yang berwarna warni tetap tak membuat es krim itu menarik.
“Mau cobain?” Mas Ben menyodorkan es krim hijau buluk tersebut, aku menggeleng sambil mengedikkan bahu.
“Cobain nih, enak kok!” paksanya.
Aku pun menjumput seujung es krimnya dengan sendokku, lantas memasukkan es krim tersebut ke dalam mulut.
“Iyuuuhhh….apaan nih??” jeritku sambil bergidik ngeri.
Sore yang cerah, matahari beranjak ke peraduannya. Langit terang di ujung horizon. Aku berdiri di lobby gedung kantorku. Menatap langit yang perlahan menjingga.
Ci, tolong fotoin donk. BBM Mas Ben yang kuterima sore itu.
Fotoin apaan? Balasku.
Full Moon!!
Aku mengernyitkan dahi membaca permintaan Mas Ben? Full moon katanya? Akupun beranjak dari kursiku menuju lobby.
Dan disinilah aku. Menatap langit. Menatap jingga nya mentari sore yang perlahan turun.
“Dimana full moon nya Mas?” tanyaku saat Mas Ben menjawab teleponku.
“Itu jelas banget Ci. Di sana ga keliatan? Di sini jelas banget lho…gede gitu” antusias dia membalas.
“Emmm….maksudmu sunset kali ya?” tanyaku perlahan.
“Ehhhh….ituuuu…iya deng..sunset maksudku” jawabnya sambil tergelak.
Aku terbengong beberapa saat sambil melihat matahari yang membundar berwarna orange laksana kuning telur. Silaunya perlahan memudar menampilan bulatan sempurna berwarna emas.
“Iya….emang mirip full moon siy, cuma lebih terang” jelasku dengan intonasi kubuat seserius mungkin. Aku memang serius mendeskripsikan lingkar matahari sore itu. Dan Mas Ben, sambil tergelak mengucapkan serapah di pesawat teleponnya.
-bersambung…
