Mars vs Venus — Versi Saya
Orang bilang laki-laki dan perempuan itu berbeda. Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat tersebut. Tuhan tentu saja tak akan menciptakan gender perempuan dan laki-laki jika gender tersebut sama! Dari fisik saja, perempuan dan laki-laki jelas tampak berbeda. Laki-laki diciptakan dengan fisik lebih kekar, sementara perempuan memiliki fisik yang lebih halus. Cara berbicara, gaya berteman, kesenangan tentu juga berbeda. Apalagi pola pikir dan perasaannya. Sudah pasti sangat berbeda.
Meskipun demikian saya tidak menampik bahwa banyak sekali laki-laki yang mampu memahami perasaan perempuan, demikian pula sebaliknya. Saya hanya akan bercerita tentang pengalaman saya dengan seorang laki-laki. Dari versi saya tentu saja. Kalian boleh saja tidak setuju dengan pendapat saya ini. Tapi sekali lagi saya jelaskan bahwa cerita ini, dari versi saya!
Weekend ku kali ini kuisi dengan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Mencuci beberapa jeans dan jaket serta sprei setelah sebelumnya aku mem-vakum ruangan kamar yang berdebu. Selesai semua pekerjaan aku lantas berbaring di kasur empukku yang sudah berganti dengan sprei baru dan berbau wangi pelembut.
Aku membuka smartphone, melihat beberapa sosial media yang ku install di smartphoneku. Beberapa pesan di wa, membuatku terpaku pada aplikasi tersebut. Aku membalas beberapa pesan, kemudian tanganku menyapu layar menggeser status di aplikasi tersebut. Mataku tertuju pada status barunya.
Kuketikkan pesan kepadanya. Biasanya, kami bisa berargumen panjang lebar dan saling mengejek satu sama lain. Tapi hari itu, dia seolah mengejekku. Dan entah kenapa aku tersinggung. Balasanku yang dingin tak membuatnya mengerti bahwa aku tersinggung. Ku akhiri chatku, dan dia pun tak berusaha menahannya. Tak seperti chat kami yang dulu.
Aku enggan memulai chat dengannya. Aku letih. Dan dia pun tak merasa kehilangan. Padahal aku rindu berbicara dengan nya. Berbicara yang bisa menenangkan hariku. Berbicara tanpa bobot namun bisa membuat lelap tidurku. Aku rindu.
Awal minggu ku yang berat. Selain bersin-bersin yang menyerangku, demam yang selalu datang saat sore hari membuat lelah hariku, ditambah pekerjaan rumahku yang harus kukerjakan karena tak ada lagi yang membantuku, membuatku drop. Pertengahan minggu, aku collaps.
Shit!!! makiku. Jantungku berdetak tak karuan. Hanya karena sebuah status. Dan sungguh mati aku menyesal telah membukanya. Aku memutuskan untuk tidur, menghindari mood-ku yang tiba-tiba jelek yang bisa mengakibatkan orang lain menerima makianku. “I hate you!!!!” jeritku di kamar ini.
Versiku 23.08.2017
