Berkawan dengan Kegagalan

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berkunjung ke Universitas Negeri Jakarta, ada seorang mahasiswa yang bertanya bagaimana cara untuk bangkit dari kegagalan dengan mudah.

Gagal itu rasanya menyedihkan dan tidak jarang membuat stres serta emosi berkecambuk dalam diri. Tidak ada yang merasa senang dengan kegagalan.

Tapi, kebesaran hati seseorang itu dapat dilihat, salah satunya dari bagaimana dia menghadapi kegagalan. Sebut saja, Walt Disney, yang dulu pernah dikatakan gagal karena dianggap kurang berimajinasi dan tidak memiliki ide yang orisinil. Saat ini, “kerajaan” Disney-nya menginspirasi anak-anak di seluruh dunia. Atau Steve Jobs yang dipecat oleh perusahaan yang dia bangun, Apple. Pemecatan itu membuatnya sadar bahwa semangat untuk berkarya melebihi kekecewaannya terhadap kegagalan. Usahanya membangun NeXT dan Pixar yang membawanya kembali menduduki posisi CEO di Apple.

Saya pun banyak mengalami kegagalan, penolakan, bahkan kritik. Well, saya manusia yang pada awalnya tidak tahu dan tidak bisa apa-apa. Saya lahir hanya bisa menangis. Sebelum bisa berjalan, saya belajar merangkak dulu, bahkan tidak jarang jatuh berkali-kali. Saat ini pun, dalam pekerjaan saya, yang dekat dengan dunia startup, saya melihat banyak kegagalan. Pada satu titik, saya memahami kegagalan adalah hal yang wajar yang dialami oleh manusia, termasuk saya. Lantas, bagaimana caranya menghadapi kegagalan?

Terima Kegagalan Tersebut

Ketika gagal, kita akan merasa sedih dan kecewa. Itu hal yang wajar. Luangkan waktu untuk meratapi kegagalan. Setiap orang mempunyai caranya masing-masing, ada yang menangis, menyendiri, curhat dengan orang terdekat, sampai melakukan hal-hal yang mereka sukai supaya rasa sedih dan kecewa itu hilang. Yang terpenting adalah pada akhirnya kita bisa menerima kegagalan tersebut. Toh, hidup tidak berakhir karena kita gagal untuk suatu hal. Hidup masih berjalan. Seperti kata Dory,

Just keep swimming…

Gagal di Sesuatu yang Kita Sukai

Dulu, kalau saya main game/permainan yang saya sukai, setiap saya kalah, saya akan merasa kesal. Tapi, saya terus mencoba lagi sampai pada akhirnya, saya mahir memainkannya. Setiap saya kalah, selalu ada rasa penasaran ingin mencoba lagi. Namun sebaliknya, jika saya memainkan sesuatu yang tidak saya sukai dan kalah, saya akan langsung berhenti memainkannya. Hal ini berlaku di banyak hal dalam hidup saya. Jika saya gagal di sesuatu yang saya sukai, saya lebih mudah untuk bangkit kembali.

Banyak mahasiswa yang tertarik untuk membangun startup tapi bingung untuk mulai dari mana. Jawaban saya adalah selalu mulai dari sesuatu yang kita sukai. Jika kita melakukan sesuatu yang kita sukai, kita akan akan berusaha semaksimal mungkin bahkan mau berkorban materi, waktu, dll. Kita akan merasa lelah, tapi kita merasa puas dan bahagia karena itu sesuatu yang kita sukai. Beruntunglah, orang yang hidup dengan menjalani sesuatu yang dia sukai, terlebih lagi kalau itu memberi manfaat bagi banyak orang.

Kelilingi Dirimu dengan Orang-Orang yang Baik

Keluarga, teman, dan sahabat itu adalah harta yang luar biasa. Apalagi jika mereka adalah pihak yang dapat memberi pengaruh baik ke kita. Bukan orang yang ikut membenarkan apa yang ingin kita anggap benar atau ikut menyalahkan sesuatu yang kita anggap salah. Tapi, orang yang secara jujur ingin sesuatu yang baik terjadi pada kita dan mendukung kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Orang yang mengingatkan ketika kita berbuat salah dan ikut senang ketika kita bahagia. Orang yang merangkul kita ketika jatuh dalam kegagalan.

Hal yang sama ketika seseorang ingin membangun startup. Sangat sulit untuk membangun startup sendirian. Sebaiknya kita mencari partner yang satu visi dan misi. Partner yang memiliki semangat untuk sukses dan menghadapi kegagalan bersama-sama.


Pada akhirnya, apa yang saya capai sampai saat ini, adalah karena keterlibatan dan dukungan banyak orang yang tidak bisa saya sebut namanya satu per satu. Kegagalan demi kegagalan yang membuat saya banyak belajar. Klise banget kalau kata orang,

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Tapi itu memang benar. Justru gagal yang sebenarnya adalah ketika gagal dan kita menyerah, atau ketika kita tahu ada yang salah tapi kita diam saja.