Meski Bercela, Aksara Untukmu Terus Menjalar

Tak ayal, rasa ini sudah saling akrab di tumpukan kata yang terus tertuang, terus membuntuti tiap genggam kita. Meski kita berjeda, dalam jarak yang intens tanpa celah, aku tetap akan menggenggam jemarimu. Pasti. Aku genggam dalam kekaguman, di doa yang tak terbantahkan tak terputus. Untaian janji ini, kasih, akan terus kita tenun perlahan, rajut per satu tanpa jemu. Meski sama-sama hanya meraba, tapi rengkuhlah hatiku agar kita fokus membiarkan riuh di tubuh ini terus bergejolak.

Kau kata sempurna bagi kita. Tapi, sepenggal hari-hari tahun ini mungkin tidak sempurna seperti yang kau harapkan. Maafkan, kasih. Kalau aku sempat tersengal, sempat menjanji pada dia. Maafkan, kasih. Kalau aku sempat menanti bibirnya yang datang berkunjung di saat mendung. Perih itu tak akan kulupa, karena pudar sempat terbersit walau hanya sejenak hasrat. Hati yang tergerogoti ini tak lagi membuat aku bernyali untuk menulis janji. Hm, tapi keping hatiku masih tergenggam di jemarimu, kok. Aku terus meleleh di dekapmu. Sadarlah, aku belum diperkenankan kehilanganmu.

Langit sudah tidak sendu lagi, senyummu sudah tidak murung lagi. Di sini masih tetap panas sih, tapi selama kamu masih nyaman, aku merasa sejuk.

Memendam rindu, tanpa mampu kirimkan peluk. Cuma menjadi puitis mungkin yang bisa aku beri. Sayang, ambil canduku ini, aku ingin memanjat menara yang memberi spasi di antara kita. Tiap kata yang terlontar kecupmu, membuat kakiku tak lagi berpijak di lantai. Rindu kita bertaut, tanpa keluh, tanpa risih, hanya tersipu. Sebentar lagi, kelopak kita akan terbuka bersama di babak baru yang akan menopang kisah hati kita. Sebentar lagi, kita akan saling mencumbu di bawah lampu kota yang menua di satu titik peta berbeda. Sebentar lagi, aku akan menerjang impi sambil melukis matahari denganmu. Sebentar lagi, aku akan menjemput kamu di jarak yang merona merah. Sebentar lagi, dada ini sudah tidak akan terasa pengap dan sempit. Sebentar lagi, kita akan melumuri satu kertas dengan satu tinta.

Jangan meranggas dulu, kasih. Biarkan kita melanjutkan petualangan ini dengan sederhana. Tanpa absen. Tanpa getir. Tanpa mengalah pada jarak. Tanpa memutar jarum jam ke kiri. Tanpa hujan.

Sampai jumpa di senja baru yang membuat kita tersipu kembali, menguak lebih kamu dan aku.

Selamat tahun baru, kamu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.