Mengheningkan Cipta

Melina
Melina
Sep 3, 2018 · 2 min read

Sepertinya Tuhan mencintaiku dengan cara mendekapku bersama kesedihan dan kegelisahan. Aku terbiasa dengan hal yang berbau ‘ditinggalkan’. Sampai pada akhirnya mahir berlayar sendirian.

Dulu, dulu sekali aku memiliki sebuah kapal sederhana yang cantik. Ia berwarna delima seperti senja.

Aku tidak sendirian di dalam kapal itu. Aku ditemani seorang perempuan paling cantik dan lembut hati sejagad raya. Perempuan itu adalah nakhodaku, pemimpin kapal delimaku.

Kami berlayar mengarungi laut bebas selama 23 tahun. Dan Kami seperti bajak laut yang mencintai kebebasan dalam hidup.

Sandar ke pulau-pulau harapan, menikmati matahari yang bahagia dan suram sesekali. Kemudian, pada musim semi yang semestinya indah dan memiliki cuaca paling dinanti. Tiba-tiba saja badai menghantam kapal, aku terdampar berserakan di tepian pulau entah.

Nakhodaku ditelan ombak, melarungnya hingga jauh. Perempuanku, hilang begitu saja dari pandanganku. Gelap. Semua menjadi dingin sampai ke titik batas rasa.

Logika tak mau bekerja kali ini, Ia kesal dengan perampasan yang tiba-tiba. Aku membenci laut sejadinya. Ia rampas satu-satunya seorang yang ku punyai. Kapal rusak parah, dan aku enggan memperbaiki dengan segera. Ku biarkan lumut dan ekosistemnya berkembang biak pada kapalku.

Aku masih di pulau entah, termangu memaku kegelisahan dalam hati. Lalu, debur ombak berbisik ke telinga lirih. “Pergilah, pergilah segera. Di sana terang, pergilah”, bisik ombak. Ku perbaiki kapalku perlahan dengan keheningan. Walaupun belum sepenuhnya baik, ku paksa kapalku berlayar.

Aku tidak tahu satu cara pun dalam hal mengendalikan kapal. Ku paksa diriku berlayar, tenggelam, berlayar lagi, rusak, patah sana sini, berlayar lagi. Kehilangan terbesar membuatku putus asa, ingin tenggelam pada kedalaman pusaran air laut dan tak kembali.

Di sebuah pulau, aku menemukan lelaki tinggi tegap menghadap matahari terbenam sedang menggenggam bulan. Setelah sekian purnama berlayar akhirnya menemukan seseorang, ku hampiri dia dengan riang. Setelah matahari terbenam, bulan yang dia genggam diterbangkannya ke angkasa. Malam menjadi terang dan bintang berdatangan. Aku menemukan nakhoda penggantiku dan siap berlayar dengan suka cita.

Pada tahun monyet api, kapal kami diguncang oleh kapal pendatang. Sepertinya memang benar, elemen api yang melekat pada shio monyet dapat menjadi ancaman, sehingga tidak begitu memberikan keuntungan pada kami. Seperti sebuah kata pepatah, “Jika api kecil akan menjadi kawan, namun besar menjadi lawan”.

Selain itu, api selalu dianalogikan sebagai lambang kemarahan. Pada waktu itu, kami, kita, kamu, sedang tidak pandai dalam mengelola kapal. Lantas kapal pendatang sengaja menghantam kapal delimaku. Nakhodaku, lelakiku, raib bersama kapal asing.

Kehilangan kembali, seperti menabur air laut ke dalam luka yang belum kering. Begitulah kiranya Tuhan mencintaiku, yang selalu memelukku dengan kesedihan. Aku terbiasa oleh kehilangan-kehilangan. Tak apa kehilangan berkali-kali, kapal akan selalu ku perbaiki. Hingga pada masanya, kapalku tidak bisa berlayar lagi. Pada pantai, Ia berlari dan berdansa bersama pasir putih Senggigi. Semoga Ia berlabuh untuk pulau yang diharapkan.

— — —

Written by

Melina

Tidak suka lampu terang, suara bising dan bebauan tajam.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade