Menikmati Bau Tanah Selepas Air Matamu Jatuh ke bawah

Aku sering menyebutnya lelaki di ujung November

Setelah apa apa yang ia renggut selalu sama, bahagia

Aku tak pernah ingin menjadi kuat (lagi)

Setelah luka menelanjangiku bulat-bulat

Dan benci menjadi selimut melekat setiap saat

Lalu merawat duka sehari hari

Membalut derita lagi kembali

Jantung porak poranda diterpa banjir bandang tak sudah sudah

Setelah koma selalu tanya

Kenapa?

Sekali purnama ku sudah sia sia

Kembali Bersama bunga bunga lagu lagu lama

Sisanya hanya sebuah janji tanpa suara

Semburat tawa melekat pada matanya

Mampus kau! Katanya

Kali ini ku tak bisa ingkar

Kutinggalkan laki laki dibalik telapak tanganku

Untuk kembali pada bunga bunga lagu lagu lama

Nyawa kupertaruhkan untuk sebuah penyesalan di dasar lautan

Berlalu seperti daun yang jatuh tak pernah membenci angin

“Kecantikanmu abadi”, serunya

Dia pergi membawa pisau di ujung kata

— — —